KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri perbankan mulai mewaspadai potensi memburuknya kualitas kredit konsumer di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tekanan inflasi yang terus meningkat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) perbankan per April 2026 berada di level 2,17%. Angka tersebut meningkat dibandingkan Maret 2026 sebesar 2,14% maupun posisi akhir 2025 yang sebesar 2,05%. OJK tidak merinci NPL kredit konsumer di periode tersebut, tapi pertumbuhan kredit di segmen ini juga terlihat mulai melambat. Per April 2026, kredit konsumsi hanya tumbuh 6,13% secara tahunan (YoY), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan Desember 2025 yang mencapai 6,58%, meski sedikit membaik dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 5,88% YoY.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurrahman mengatakan kenaikan harga BBM akan memberikan tekanan terhadap penyaluran kredit konsumer karena mengurangi pendapatan disposabel rumah tangga. Menurutnya, porsi pengeluaran masyarakat untuk transportasi dan kebutuhan pokok meningkat sehingga kemampuan membayar cicilan seperti KPR, kredit kendaraan bermotor (KKB), hingga kredit multiguna menjadi lebih terbatas. “Dalam kondisi seperti ini, bank cenderung lebih selektif dalam menyalurkan kredit baru dengan memperketat penilaian kemampuan bayar debitur,” ujar Rizal kepada Kontan.co.id, Minggu (14/6/2026).
Baca Juga: Kredit Konsumer Perbankan Melambat, Tanda Daya Beli Masyarakat Melemah? Rizal menambahkan, kenaikan harga BBM juga berpotensi memengaruhi kualitas kredit konsumer, terutama pada sektor yang bergantung pada biaya logistik seperti transportasi, perdagangan, dan manufaktur. Ia memperkirakan pertumbuhan kredit konsumer tahun ini masih akan tumbuh positif, namun melambat seiring kombinasi kenaikan suku bunga dan harga BBM. Menurutnya, tekanan terhadap daya beli kelas menengah berpotensi meningkatkan risiko kredit bermasalah, terutama pada kredit tanpa agunan (KTA) dan pembiayaan kendaraan bermotor. “Dengan fundamental perbankan yang masih kuat, kenaikan NPL konsumer diperkirakan tetap terbatas, namun berpotensi naik dari kisaran sekitar 2% menuju 2,3% hingga 2,5% pada akhir tahun apabila tekanan inflasi dan biaya hidup terus berlanjut,” katanya. Untuk menjaga kualitas kredit, Rizal menilai bank perlu memperkuat credit scoring berbasis arus kas, meningkatkan monitoring terhadap debitur rentan, serta melakukan restrukturisasi dini bagi debitur yang mengalami penurunan kemampuan bayar. Selain itu, bank juga diperkirakan akan lebih selektif menyalurkan kredit pada segmen yang sensitif terhadap pelemahan daya beli. Senada, Chief Economist BTN Myrdal Gunarto mengatakan, kenaikan harga BBM non subsidi dan pelemahan rupiah akan memberikan tekanan terhadap permintaan kredit konsumer. Menurutnya, lonjakan BI Rate hingga 75 basis poin (bps) tahun ini yang diikuti kenaikan biaya kredit perbankan membuat permintaan kredit baru, terutama kredit kendaraan bermotor, mulai melambat. “Bank otomatis akan mengadopsi postur yang lebih risk-averse. Proses underwriting akan diperketat sehingga approval rate kredit baru cenderung menurun,” ujar Myrdal. Ia menilai kualitas kredit konsumer yang paling rentan terdampak adalah segmen KTA dan KKB. Sementara untuk kredit korporasi, tekanan dinilai masih relatif terbatas karena sebagian besar sektor transportasi masih menggunakan BBM subsidi.
Baca Juga: BSI Optimistis Pembiayaan Konsumer Tetap Tumbuh di Tengah Tantangan Daya Beli Meski demikian, sektor yang bergantung pada bahan baku impor seperti fast moving consumer goods (FMCG), manufaktur makanan dan minuman, farmasi, plastik, hingga besi baja dinilai tetap berpotensi mengalami penurunan kualitas kredit. Myrdal memperkirakan pertumbuhan kredit konsumer tahun ini berpotensi melambat sekitar 30–70 bps akibat kombinasi depresiasi rupiah, kenaikan BBM non subsidi, dan lonjakan BI Rate. Kelompok kelas menengah disebut menjadi segmen yang paling rentan mengalami tekanan repayment capacity karena harus menyerap kenaikan biaya hidup secara mandiri. “Debt service ratio (DSR) kelas menengah akan bergeser mendekati batas maksimal,” katanya. Untuk menjaga kualitas aset, bank dinilai perlu memperkuat early warning system (EWS), melakukan stress testing portofolio kredit, hingga menawarkan restrukturisasi proaktif bagi debitur yang mulai tertekan. Myrdal juga memperkirakan bank akan memperketat ekspansi pada segmen kredit tanpa agunan dan layanan paylater karena sensitivitas risikonya lebih tinggi terhadap penurunan pendapatan. Selain itu, syarat uang muka atau down payment (DP) kredit kendaraan bermotor, khususnya roda dua, diperkirakan akan diperketat. Sebaliknya, perbankan diperkirakan akan mengalihkan fokus pembiayaan ke segmen yang lebih aman seperti payroll loan untuk pegawai pemerintahan, karyawan perusahaan besar, serta nasabah wealth management. Sementara itu, Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank, Ganda Raharja mengatakan, perseroan mulai mengantisipasi potensi kenaikan kredit macet akibat kenaikan harga kebutuhan pokok dan dampak lonjakan harga minyak dunia.
Baca Juga: Kredit Konsumer BCA Tumbuh Terbatas di Tahun 2025 Menurutnya, tekanan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak global, memengaruhi kenaikan harga BBM di Indonesia dan berdampak pada kemampuan bayar debitur. “Bank secara konservatif melihat tingkat NPL tahun ini akan sama seperti tahun lalu atau sedikit lebih tinggi akibat kenaikan inflasi,” ujarnya. Meski demikian, Allo Bank memastikan tetap menjalankan penyaluran kredit secara prudent dengan fokus pada segmen yang dinilai lebih tahan terhadap tekanan ekonomi. Adapun hingga kuartal I-2026, total kredit yang disalurkan Allo Bank tercatat tetap tumbuh kuat sebesar 32% YoY menjadi Rp 9,14 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang segmen ritel maupun wholesale banking. Sejumlah bank juga terlihat alami tekanan pada penyaluran kredit konsumer di kuartal I-2026. Ambil contoh, PT Bank Central Asia (BCA) dengan penyaluran kredit konsumer mencapai Rp 221,4 triliun, susut 2,0% dari periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 225,9 triliun. Adapun PT Bank Mandiri mencatat penyaluran kredit konsumer mencapai Rp 124 triliun, atau hanya naik tipis 1,78% yoy pada Maret 2026. Sementara NPL konsumer terlihat naik menjadi 2,99% dari 2,15% pada Maret 2025.
Kemudian, PT Bank Negara Indonesia (BNI) yang mencatatkan penyaluran kredit konsumer mencapai Rp 158 triliun pada Maret 2026 atau naik 9,1% yoy tapi hanya naik tipis 1,2% secara kuartalan. Adapun NPL kredit konsumer bank terlihat naik menjadi 2,9% pada Maret 2026 dari 2,0% pada Maret 2025. Sementara penyaluran kredit konsumer Bank Rakyat Indonesia (BRI) mencapai Rp 227,8 triliun, naik 9,5% yoy. Walau demikian, NPL nya terlihat melonjak menjadi 2,41% pada Maret 2026 dari 2,02% pada Maret 2025.
Baca Juga: Kredit Konsumer Melambat Lagi, Daya Beli Belum Pulih? Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News