Kenaikan harga bungkil kedelai berpotensi mengerek biaya produksi ayam



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga bungkil kedelai menunjukkan peningkatan dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan, harga bungkil kedelai di Indonesia sempat menyentuh harga Rp 7.600 per kg, sementara pada Februari masih sekitar Rp 5.200 per kg.

Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia Singgih Januratmoko pun membeberkan bahwa pabrik pakan berencana menaikkan pakan ternak sebesar Rp 150 per kg. Tak hanya karena naiknya bungkil kedelai, kenaikan harga ini pun dipicu oleh menguatnya nilai dollar.

Bila harga pakan ternak ini meningkat, maka biaya pokok produksi pun akan meningkat. "Bila pakan ternak naik Rp 100 per kg, maka biaya pokok produksi akan naik Rp 200 per kg. Harga pembelian pasti naik," ujar Singgih kepada Kontan.co.id, Kamis (18/4).


Meski begitu, Singgih berharap kenaikan pakan ternak ini bisa ditunda. Pasalnya, peternak baru mulai merasakan keuntungan dari harga ayam yang mulai membaik.

Bila kenaikan harga pakan dilakukan sementara pemerintah menetapkan harga batas bawah dan atas untuk ayam dan telur, maka Singgih berpendapat keuntungan peternak bisa terus tergerus.

"Dalam empat tahun ini harga ayam babak belur, baru 2018 harga stabil sejak Januari. Jadi semua aturan supply demand mulai terasa hasilnya, tidak over supply," ujar Singgih.

Singgih mengatakan, saat ini rata-rata harga ayam di tingkat peternak sekitar Rp 19.000 per kg. Menurutnya, jumlah produksi dan permintaan konsumen pun sedang stabil.

Singgih berharap, jumlah produksi dan permintaan ini tetap terjaga sehingga harga cenderung stabil sesuai dengan peraturan Kementerian Perdagangan. D

ia pun berharap harga day old chicken (DOC) dan pakan diatur sehingga peternak bisa mendapatkan keuntungan yang sewajarnya. "Kami juga berharap harga jagung tetap stabil sehingga harga pakan tidak naik," kata Singgih.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto