Kenaikan Harga Komoditas Jadi Penopang Surplus Transaksi Berjalan



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Neraca transaksi berjalan pada kuartal II-2022 berpotensi melanjutkan tren surplus, sejalan surplus neraca perdagangan yang berlanjut. Salah satu pendorongnya, pemerintah kembali membuka ekspor minyak kelapa sawit mentah (CPO).

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo melihat, kinerja ekspor sebagian besar komoditas utama tetap kuat. Namun, defisit neraca jasa membesar karena peningkatan jasa transportasi perjalanan ke luar negeri.

Meski begitu, ke depan, Perry memperkirakan, neraca transaksi berjalan (CAD) akan membukukan defisit kecil. Tahun ini, defisit transaksi berjalan bakal ada di kisaran 0,5%-1,3% terhadap produk domestik bruto (PDB).


Kondisi itu berbalik dari posisi di 2021. Tahun lalu, pos transaksi berjalan berhasil mencatat surplus US$ 3,3 miliar, setara 0,3% PDB, yang ditopang surplus neraca perdagangan di tengah kenaikan harga komoditas.

Baca Juga: Ekonom Prediksi Neraca Transaksi Berjalan Lanjutkan Surplus pada Kuartal II 2022

Walau kembali defisit, Perry optimistis, CAD masih sempit dan bisa menjaga kinerja neraca pembayaran Indonesia (NPI). Di sisi lain, kinerja neraca transaksi modal dan finansial kemungkinan akan mencatat surplus kecil.

"Ini seiring dengan penanaman modal asing (PMA) yang tetap kuat, sejalan dengan iklim investasi dalam negeri yang terjaga," kata Perry, Kamis (23/6) lalu.

Menurut Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman, neraca transaksi berjalan pada kuartal II-2022 akan membukukan surplus sekitar 0,0% hingga 0,2% dari PDB. Surplus ini didorong oleh kondisi surplus neraca perdagangan barang yang solid.

"Kalau kita perhatikan, surplus neraca perdagangan selama April hingga Mei 2022 saja sudah lebih besar dari periode Januari hingga Maret 2022, dan kemungkinan surplus neraca dagang Juni 2022 bisa naik lagi, seiring dengan pencabutan larangan ekspor CPO," ujar Faisal kepada KONTAN, Jumat (24/6).

Namun, neraca pendapatan primer, Faisal memperkirakan, mengalami pelebaran defisit karena faktor musiman repatriasi dividen. Meski begitu, dia yakin, surplus neraca perdagangan barang yang tinggi bisa mengimbangi dan terjadilah surplus neraca transaksi berjalan.

Baca Juga: Neraca Transaksi Berjalan pada Kuartal II 2022 Berpotensi Surplus 0,2%

Sayangnya, potensi surplus neraca transaksi berjalan tidak diimbangi kondisi neraca pembayaran Indonesia. Sebab, Faisal memproyeksikan, akan ada defisit kecil pada NPI di kuartal II-2022.

Ini seiring dengan kondisi di transaksi finansial, karena ad aliran modal asing keluar (capital ouftlow), terutama di pasar obligasi. Hal ini juga sejalan dengan cadangan devisa Indonesia yang terus menurun dibandingkan dengan posisi akhir kuartal I-2022.

Ke depan, Faisal memprediksikan, neraca transaksi berjalan di sepanjang tahun 2022 masih mencatat surplus di kisaran 0,3% dari PDB. Sebab, ada kenaikan harga komoditas yang kemudian memperkokoh keuntungan neraca perdagangan barang.

Ekonom MNC Sekuritas Tirta Citradi juga melihat, neraca transaksi berjalan Indonesia tahun ini berpotensi besar mencatatkan surplus, yang ditopang oleh peningkatan kinerja ekspor. Terutama, dari sisi harga komoditas.

"Eskpor CPO sudah dibuka, harga batubara juga merangkak naik lagi dengan ada krisis di Eropa," ungkap dia. Proyeksi Tirta, neraca transaksi berjalan sepanjang tahun ini akan surplus meski tipis, yakni 0,1% dari PDB.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli