Kenaikan ke KBMI 3 Belum Jadi Prioritas, Allo Bank Pilih Perkuat Fundamental



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Di tengah tren sejumlah bank kelompok KBMI 2 yang mulai membidik kenaikan status menjadi KBMI 3, PT Allo Bank Indonesia Tbk memilih belum terburu-buru menambah modal untuk mengejar kenaikan kelas. 

Allo Bank menilai penguatan kualitas aset, efisiensi, dan profitabilitas lebih penting di tengah ketidakpastian ekonomi.

Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank Ganda Raharja Rusli mengatakan, hingga saat ini Allo Bank belum memiliki rencana untuk naik ke kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 3 dalam waktu dekat.


Baca Juga: Bank Mestika Tuntaskan Pembayaran Dividen Tunai Rp 22,33 per Saham

Menurutnya, berbeda dengan rezim Bank Umum Berdasarkan Kegiatan Usaha (BUKU), klasifikasi KBMI tidak membatasi secara spesifik produk dan layanan yang dapat dijalankan bank.

"Allo Bank dalam waktu dekat belum memiliki rencana untuk naik ke KBMI 3. Tidak seperti konsep BUKU yang membatasi produk dan layanan bank berdasarkan BUKU, KBMI tidak membatasi secara spesifik produk dan layanan," ujar Ganda kepada Kontan.co.id, Kamis (9/7/2026).

Ia menjelaskan, perbedaan utama bank KBMI 3 dibandingkan KBMI 2 lebih terletak pada ruang ekspansi yang lebih luas, seperti kemampuan melakukan penyertaan modal pada lembaga keuangan di luar negeri, menjalankan kegiatan operasional lintas batas, atau membuka kantor cabang di luar negeri.

Meski demikian, Ganda menilai bank-bank di Indonesia pada umumnya tidak secara khusus mengejar status KBMI tertentu hanya untuk memperluas ragam produk dan layanan.

"Saya tidak melihat bank-bank di Indonesia secara spesifik menargetkan KBMI tertentu demi pendekatan produk dan layanan," katanya.

Menurutnya, setiap keputusan menambah modal harus mempertimbangkan tingkat pengembalian kepada pemegang saham atau return on equity (ROE). Penambahan modal yang tidak diimbangi kemampuan menghasilkan pendapatan justru berpotensi menekan profitabilitas.

Baca Juga: BSI Targetkan Cabang Arab Saudi Mulai Beroperasi pada Akhir 2026

"Perlu diingat bahwa setiap investasi dalam bentuk permodalan tentu ada perhitungan ROE. Jika modal yang besar belum dapat dikonversikan menjadi revenue, maka ROE akan tertekan," ujarnya.

Meski belum membidik KBMI 3, Ganda mengakui tambahan modal tetap memberikan manfaat bagi bank, terutama dalam meningkatkan kapasitas penyaluran kredit dan memperluas akses terhadap sumber pendanaan.

"Manfaat konkret utama atas setoran modal yang lebih besar adalah kapasitas penyaluran kredit yang lebih besar. Selain itu, ada beberapa perusahaan maupun instansi pemerintah yang mensyaratkan status KBMI bank sebagai tempat penempatan dana," jelasnya.

Namun, di tengah tekanan geopolitik global, kondisi ekonomi yang masih menantang, serta meningkatnya ketidakpastian pasar, Allo Bank menilai ekspansi bisnis secara agresif belum menjadi prioritas industri perbankan.

Ganda mengatakan, pada 2026 mayoritas bank diperkirakan masih memilih menahan laju ekspansi sehingga tambahan modal di luar laba ditahan (retained earnings) belum menjadi kebutuhan yang mendesak.

"Melihat kondisi geopolitik, tekanan ekonomi, dan peningkatan ketidakpastian pasar, saya kira pada 2026 bank-bank di Indonesia masih memilih menahan diri untuk melakukan ekspansi bisnis. Karena itu, penambahan modal selain dari retained earning tidak menjadi prioritas dalam jangka waktu dekat," tuturnya.

Baca Juga: Jamkrida Sumbar Sebut Aturan Ekuitas Minimum OJK Tingkatkan Kapasitas dan Daya Saing

Oleh sebab itu, lanjut Ganda, fokus utama industri perbankan saat ini adalah memperkuat fundamental melalui peningkatan kualitas aset, efisiensi operasional, dan profitabilitas.

"Saya melihat bank-bank di Indonesia akan fokus memperkuat kualitas aset, efisiensi, dan profitabilitas karena hal tersebut merupakan esensi dasar kegiatan perusahaan yang perlu dijalankan terlepas dari kondisi eksternal yang terjadi," katanya.

Sebagai informasi, berdasarkan laporan keuangan per Maret 2026, modal inti Allo Bank tercatat sebesar Rp 7,51 triliun. Angka tersebut masih menempatkan perseroan dalam kelompok KBMI 2, yakni bank dengan modal inti di atas Rp 6 triliun hingga Rp 14 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News