Kenaikan PMI Manufaktur Dinilai Semu, Ekonom Soroti Gangguan Pasokan & Biaya Produksi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Posisi Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia yang kembali menyentuh level 50,0 pada Mei 2026 dinilai belum dapat dijadikan bukti bahwa sektor industri telah memasuki fase pemulihan. 

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai capaian tersebut lebih tepat dibaca sebagai sinyal stabilisasi setelah sebelumnya berada di zona kontraksi. 

Menurut Yusuf, level 50 merupakan batas antara kontraksi dan ekspansi. Meski terjadi perbaikan dibanding April 2026 yang berada di angka 49,1 dan hasilnya melampaui ekspektasi pasar, aktivitas manufaktur secara umum masih menunjukkan kecenderungan stagnan. 


Permintaan domestik memang mulai membaik, tetapi output produksi masih mengalami penurunan sehingga peningkatan aktivitas belum sepenuhnya berkelanjutan. 

"Artinya, peningkatan aktivitas belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi kenaikan produksi yang berkelanjutan," ujar Yusuf kepada Kontan.co.id, Selasa (2/6/2026).

Ia menegaskan, diperlukan bukti yang lebih kuat sebelum menyimpulkan bahwa manufaktur telah pulih. 

Baca Juga: Indeks Manufaktur April 2026 Masuk Zona Kontraksi Dipicu Kenaikan Biaya Produksi

Salah satunya melalui PMI yang mampu bertahan di atas level 50 selama beberapa bulan berturut-turut serta didukung perbaikan output, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja secara bersamaan. 

Yusuf juga menyoroti kualitas perbaikan PMI yang masih relatif lemah. Salah satu penyebabnya adalah kontribusi dari memburuknya waktu pengiriman pemasok. Dalam metodologi PMI, keterlambatan pengiriman justru dapat meningkatkan nilai indeks. 

Namun secara ekonomi, kondisi tersebut mencerminkan adanya tekanan pada rantai pasok akibat gangguan distribusi dan keterbatasan bahan baku yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. 

Di sisi lain, volume output manufaktur masih mengalami kontraksi selama tiga bulan berturut-turut. Banyak perusahaan menghadapi kendala berupa tingginya harga bahan baku dan keterbatasan pasokan sehingga kapasitas produksi belum dapat ditingkatkan secara optimal. 

"Kenaikan pesanan baru juga belum sepenuhnya mencerminkan penguatan permintaan yang sehat," katanya.

Menurutnya, sebagian pelanggan meningkatkan pembelian untuk mengamankan stok sebelum harga kembali naik atau pasokan semakin terbatas. 

"Pola seperti ini biasanya bersifat sementara dan berbeda dengan pertumbuhan permintaan yang didorong oleh peningkatan konsumsi atau investasi secara organik," imbuh Yusuf.

Tantangan juga datang dari pasar ekspor. Penjualan ke luar negeri terus melemah selama tiga bulan berturut-turut dan mencatat laju kontraksi terdalam sejak Agustus 2021. Kondisi ini membuat sektor manufaktur semakin bergantung pada pasar domestik sebagai sumber pertumbuhan. 

Baca Juga: Industri Manufaktur Masuk Zona Merah, Airlangga Waspadai Dampak Perang Global

Jika aktivitas penimbunan stok mulai mereda sementara permintaan ekspor belum pulih, ruang pertumbuhan industri berpotensi kembali menyempit. 

Meski Indonesia memiliki keunggulan berupa pasar domestik yang besar, Yusuf mengingatkan sejumlah industri berorientasi ekspor seperti tekstil, alas kaki, dan elektronik masih menghadapi tekanan akibat lemahnya permintaan global. 

Selain itu, tekanan biaya produksi dinilai menjadi persoalan paling serius saat ini. Inflasi biaya input pada Mei 2026 tercatat mencapai level tertinggi sejak survei PMI Indonesia dimulai pada September 2013. 

Lonjakan tersebut dipicu kenaikan harga bahan baku yang berkelanjutan. Meski sebagian biaya dapat diteruskan ke konsumen melalui kenaikan harga jual, perusahaan tetap harus menanggung sebagian beban sehingga margin keuntungan semakin tergerus. 

Menurut Yusuf, kondisi tersebut diperparah oleh tingginya ketergantungan industri manufaktur Indonesia terhadap impor bahan baku dan barang setengah jadi. Ketika nilai tukar rupiah tertekan, biaya impor meningkat dan berpotensi mengurangi daya saing produk Indonesia di pasar global. 

"Dalam jangka yang lebih luas, tekanan biaya di tingkat produsen dapat merembet menjadi tekanan inflasi bagi konsumen," katanya.

Yusuf menilai ketahanan manufaktur Indonesia terhadap gejolak global masih bersifat asimetris. Dari sisi permintaan, Indonesia relatif lebih kuat dibanding banyak negara lain karena ditopang oleh pasar domestik yang besar. 

Baca Juga: PMI April 2026 Turun ke 49,1, Sektor Manufaktur Masuk Zona Kontraksi

Pelemahan ekonomi global memang dapat menekan kinerja industri, namun tidak serta-merta menjatuhkan permintaan secara drastis karena konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama aktivitas ekonomi.

Meski demikian, kerentanan masih terlihat pada sisi pasokan. Industri manufaktur nasional masih sangat bergantung pada impor bahan baku dan barang antara sehingga rentan terhadap berbagai gangguan eksternal. 

Kenaikan biaya logistik, konflik geopolitik, kelangkaan bahan baku global, hingga gangguan pelayaran internasional dapat langsung berdampak pada proses produksi di dalam negeri.

Indikasi tersebut, kata Yusuf, terlihat dari waktu pengiriman pemasok yang terus memanjang, menandakan tekanan rantai pasok belum sepenuhnya mereda.

Sikap hati-hati pelaku industri juga tercermin dari perkembangan pasar tenaga kerja. Menurut Yusuf, perusahaan masih melakukan pengurangan tenaga kerja dalam skala terbatas selama tiga bulan berturut-turut. 

Di saat yang sama, volume pekerjaan yang belum terselesaikan justru meningkat. Kondisi ini menunjukkan perusahaan memilih memaksimalkan sumber daya yang ada untuk memenuhi tambahan pesanan ketimbang melakukan rekrutmen baru.

Baca Juga: Ekonom: Dunia Usaha Masih Ekspansi, Tapi Semakin Hati-Hati

"Bagi pelaku usaha, keputusan menambah tenaga kerja biasanya dilakukan setelah mereka yakin bahwa permintaan benar-benar pulih dan dapat bertahan dalam jangka panjang," katanya.

Rendahnya optimisme pelaku usaha terhadap prospek bisnis dalam 12 bulan mendatang semakin memperkuat indikasi bahwa sektor manufaktur masih berada dalam fase wait and see. 

Dunia usaha dinilai masih menunggu kepastian mengenai arah permintaan maupun perkembangan kondisi ekonomi global sebelum melakukan ekspansi yang lebih agresif.

Berdasarkan kondisi tersebut, Yusuf menilai tantangan utama manufaktur saat ini bukan semata-mata berasal dari lemahnya permintaan, melainkan tingginya biaya produksi dan berlanjutnya gangguan pasokan.

Oleh karena itu, kebijakan pemerintah perlu difokuskan pada upaya menjaga kelancaran logistik, memastikan ketersediaan bahan baku, serta mengurangi hambatan impor untuk komoditas dan barang antara yang dibutuhkan industri.

Selain itu, stabilitas nilai tukar rupiah juga menjadi faktor penting untuk menahan kenaikan biaya impor yang saat ini menjadi salah satu sumber tekanan terbesar bagi sektor manufaktur. 

Dalam jangka pendek, daya beli masyarakat perlu dijaga agar permintaan domestik tetap menjadi penopang pertumbuhan industri. Percepatan realisasi belanja pemerintah juga dinilai dapat membantu menjaga momentum aktivitas ekonomi.

Sementara dalam jangka menengah dan panjang, Yusuf menekankan pentingnya penguatan industri hulu serta pendalaman struktur manufaktur nasional. Langkah tersebut diperlukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor sekaligus meningkatkan daya tahan industri nasional terhadap berbagai guncangan eksternal di masa mendatang.

Baca Juga: Indeks Manufaktur Turun pada April 2026, Purbaya Yakinkan Ini Bukan Alarm Krisis

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News