Kepemilikan Asing di SBN Naik, Yield Tinggi Jadi Magnet



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia masih memiliki daya tarik bagi investor asing di tengah tekanan pasar obligasi Asia Tenggara.

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan, daya tarik SBN Indonesia terutama berasal dari kombinasi yield yang tinggi, pasar SBN yang dalam, likuiditas relatif baik, dan basis investor domestik yang besar.

Dia mencatat, kepemilikan asing di SBN mencapai sekitar Rp 917,7 triliun per 4 September, tertinggi dalam setahun, setelah bertambah hampir Rp 10 triliun dibanding akhir Agustus.


Menurut dia, yield SBN tenor 10 tahun yang saat ini berada di sekitar 7,1% juga masih menawarkan spread yang cukup lebar terhadap yield US Treasury (UST) tenor 10 tahun yang berada di sekitar 4,8%.

Spread tersebut memberikan potensi carry yang menarik bagi investor asing. Namun, investor tetap perlu memperhitungkan sejumlah risiko, mulai dari pergerakan rupiah, inflasi, kondisi fiskal, hingga volatilitas pasar global.

“Dibanding Malaysia atau Thailand, Indonesia menawarkan yield nominal lebih tinggi, tetapi volatilitas kurs dan premi risiko juga lebih besar. Dibanding Filipina, Indonesia memiliki kedalaman pasar lokal yang lebih kuat dan basis pembeli domestik yang lebih luas,” jelas Srafruddin kepada Kontan, Kamis (10/9/2026).

Baca Juga: Mengapa IHSG Tumbang pada Hari Ini, Kamis (10/9)?

Meski demikian, Syafruddin menyebut bahwa daya tarik ini tetap bersyarat. Inflow asing akan bertahan jika Bank Indonesia (BI) menjaga stabilitas rupiah dan pemerintah mempertahankan kredibilitas fiskal. Yield tinggi menarik hanya bila tidak mencerminkan risiko yang terus membesar.

Lebih lanjut, Syafruddin berpandangan kondisi pasar saat ini memang membuka peluang bagi investor untuk masuk ke SBN Indonesia. Namun, investor perlu melihat yield sebagai fungsi dari sejumlah risiko secara bersamaan.

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan mencakup pergerakan UST, rupiah, inflasi, harga minyak, arus modal asing, suplai penerbitan SBN, serta persepsi pasar terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027.

Ia mencatat, yield SBN tenor 10 tahun sempat naik ke sekitar 7,23% pada awal September 2026 sebelum kembali turun ke sekitar 7,1%. Pergerakan tersebut menunjukkan pasar masih mencari keseimbangan baru.

Baca Juga: Investor Asing Bidik Surat Utang Indonesia Berbekal Yield Tinggi

Dalam skenario dasar, yield SBN masih berpeluang turun secara bertahap apabila tekanan global mereda, rupiah tetap stabil, dan inflasi domestik terkendali.

Namun, risiko kenaikan yield tetap terbuka. Jika harga minyak Brent bertahan di sekitar US$ 100 per barel, yield UST tetap tinggi, atau kebutuhan pembiayaan pemerintah meningkat, yield SBN tenor 10 tahun berpotensi kembali menuju kisaran 7,25%-7,50%.

Sebaliknya, skenario positif dapat terjadi apabila yield UST mulai turun, arus masuk asing berlanjut, dan hasil lelang SBN kembali menguat. Dalam kondisi tersebut, yield SBN 10 tahun berpeluang bergerak menuju level di bawah 7%.

"Investor sebaiknya tidak mengejar harga, melainkan mengelola durasi, memperhatikan bid-to-cover, kepemilikan asing, dan spread SBN terhadap UST," jelas Syafruddin.

Dengan demikian, meski level yield SBN saat ini relatif menarik, investor tetap perlu selektif dalam menentukan tenor dan momentum akumulasi. Perkembangan yield global dan stabilitas domestik akan menjadi penentu utama arah pasar SBN hingga akhir tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News