Kepemilikan BI Kian Dominan di SBN, Asing Justru Switching ke SRBI



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) oleh Bank Indonesia (BI) melonjak signifikan sepanjang tahun ini. Kondisi ini semakin mempertegas peran bank sentral sebagai penopang utama pasar surat utang domestik. 

Melansir data dari laman Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, kepemilikan SBN oleh BI per 22 Juni 2026 sebesar Rp 2.057,72 triliun atau porsinya sekitar 29,76% dari total.

Jumlah ini naik cukup signifikan, mengingat pada awal tahun, yakni pada 2 Januari 2026, porsi kepemilikan SBN oleh BI masih sebesar Rp 1.642,06 triliun atau sekitar 25% dari keseluruhan.


Baca Juga: Penjualan Azko (ACES) Lima Bulan Naik 6% Meski Telah Kerek Harga Jual 10%

Di sisi lain, kepemilikan investor asing di pasar SBN relatif stagnan. Pada awal tahun, kepemilikan non-residen di SBN tercatat sebanyak Rp 879,93 triliun (13,40%) dan kini kepemilikan asing di SBN sedikit menyusut menjadi sebesar Rp 875,58 (12,66%).

Terkait hal itu, Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia, Budi Frensidy, mengatakan lonjakan kepemilikan SBN oleh BI menunjukkan peran BI sebagai stabilisator pasar kini semakin besar. 

Ketika minat investor asing belum kembali masuk secara signifikan dan pasar obligasi mengalami tekanan, BI cenderung masuk untuk menjaga stabilitas yield dan memastikan transmisi kebijakan moneter berjalan baik. 

Kata Budi, dampak positifnya adalah volatilitas pasar obligasi dapat ditekan. Namun jika porsi kepemilikan BI terus meningkat sementara kepemilikan investor swasta dan asing tidak bertambah, pasar bisa menilai bahwa fungsi price discovery menjadi kurang optimal dan ketergantungan pada dukungan BI semakin besar.

Apalagi mengingat, BI juga telah agresif menaikkan suku bunga acuan. Dalam sebulan terakhir, BI Rate telah naik 100 bps menjadi 5,75% sebagai langkah pre-emptive dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah . 

Tapi nyatanya, rupiah masih terus merongsok. Pada Rabu (24/6) rupiah ditutup di level Rp 17.952 per dolar Amerika Serikat (AS) atau melemah 0,52% secara harian. Budi menekankan, masalah utama saat ini bukan lagi suku bunga, melainkan kepercayaan investor. 

“Karena rupiah masih melemah dan ketidakpastian pasar masih tinggi, kenaikan suku bunga belum cukup untuk memicu arus masuk modal yang besar. Jadi aset rupiah masih menarik dari sisi yield, tetapi belum sepenuhnya menarik dari sisi risiko,” ungkap Budi saat dihubungi Kontan, Rabu (24/6/2026).

Ekonom sekaligus Guru Besar Universitas Airlangga (Unair), Rahma Gafmi, mengatakan bahwa terdapat tiga faktor utama yang menyebabkan BI meningkatkan kepemilikan SBN secara agresif dalam beberapa bulan terakhir. 

Pertama, BI berperan sebagai penyangga pasar (market sustainer) untuk menjaga stabilitas pasar obligasi domestik. Menurut Rahma, ketika tekanan global memicu aksi jual atau membuat investor asing menahan diri masuk ke pasar SBN, likuiditas pasar obligasi domestik berisiko menurun. 

Jika dibiarkan, harga SBN akan jatuh dan yield (imbal hasil) akan melonjak terlalu tinggi, yang pada gilirannya akan membengkakkan biaya utang (cost of loan) pemerintah di APBN. 

“Maka, BI masuk ke pasar sekunder sebagai pembeli siaga untuk menstabilkan harga SBN agar pasar tetap tertata,” ujar Rahma.

Kedua, peningkatan kepemilikan SBN juga berkaitan dengan amunisi underlying asset untuk penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI).

Rahma menjelaskan, instrumen SRBI yang saat ini banyak diminati investor asing membutuhkan SBN sebagai underlying asset atau jaminan. Karena itu, ketika BI meningkatkan penerbitan SRBI untuk menarik aliran modal asing jangka pendek, kebutuhan terhadap SBN sebagai underlying asset juga ikut meningkat.

Ketiga, BI juga membutuhkan SBN untuk mendukung penyediaan likuiditas ke sektor perbankan melalui transaksi repo. 

Menurut Rahma, kondisi likuiditas perbankan saat ini relatif ketat seiring pertumbuhan kredit yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK). Dalam situasi tersebut, BI banyak melakukan transaksi reverse repo dengan perbankan.

“Bank menyandera SBN mereka ke BI untuk mendapatkan likuiditas rupiah jangka pendek. SBN ini kemudian tercatat dalam neraca kepemilikan BI,” tandasnya.

Lebih lanjut, Rahma menilai stagnannya kepemilikan asing di pasar SBN bukan berarti minat investor global terhadap aset rupiah sepenuhnya hilang. Ia melihat investor asing kini lebih memilih menempatkan dana pada instrumen moneter BI, terutama SRBI.

Menurut dia, kondisi volatilitas nilai tukar rupiah membuat investor asing lebih berhati-hati untuk mengunci dana pada obligasi pemerintah berjangka panjang, khususnya tenor 10 tahun ke atas.

“Saya melihatnya investor asing saat ini mengalami strategi switching. Jangankan mau mengunci dana mereka di SBN jangka panjang yamg tenor 10 tahun ke atas, risikonya lebih tinggi di tengah volatilitas rupiah Rp 17.952, justru asing lebih memilih menempatkan dananya di SRBI,” pungkasnya.

Akibatnya, persentase kepemilikan asing di SBN terkesan mandek yaitu hanya bertahan di kisaran 13-14%, padahal modal asing sebenarnya masuk, namun lewat pintu instrumen moneter BI.

Baca Juga: Pasar Tunggu Hasil Negosiasi AS-Iran, Tokenisasi Saham AS Dinilai Menarik

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News