Kepercayaan Investor dan Isu Fiskal Bayangi IHSG, Intip Prospek Pasar Modal



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Upaya pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada paruh kedua tahun ini masih diuji oleh sentimen domestik, mulai dari tingkat kepercayaan investor terhadap penegakan hukum bursa hingga tekanan indikator makro-fiskal.

Langkah reformasi tata kelola bursa dan disiplin anggaran negara menjadi kunci krusial agar tren penguatan pasar modal dapat bertahan dalam jangka panjang.

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI), Budi Frensidy menilai lemahnya penegakan hukum terhadap kasus manipulasi atau goreng saham berdampak besar pada memudarnya kepercayaan investor, terutama pemodal asing.


Persepsi bahwa praktik tersebut tidak ditindak secara cepat membuat investor meragukan kewajaran harga, struktur pemegang saham, hingga porsi free float yang sesungguhnya.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Uji Level 6.400 Rabu (5/8), Ini Sentimen yang Wajib Dicermati

Bahkan, MSCI menyebut permasalahan tata kelola ini membatasi kemampuan investor global dalam membangun portofolio dan mereplikasi indeks.

Di sisi lain, kepercayaan investor domestik sejauh ini memang belum hilang sepenuhnya. Kendati demikian, sebagian pemodal lokal cenderung berinvestasi secara spekulatif atau memilih mengalihkan dananya ke instrumen yang dinilai lebih aman.

"OJK sudah menjatuhkan sejumlah sanksi pada 2026; tantangannya adalah memastikan sanksi cepat, konsisten, transparan, dan lebih besar daripada keuntungan pelanggaran," kata Budi kepada Kontan, Selasa (4/8/2026).

Selain isu transparansi bursa, penahan utama pemulihan IHSG juga datang dari indikator fiskal dan tekanan nilai tukar.

Proyeksi defisit anggaran 2026 yang melebar menjadi 2,85% terhadap PDB mendekati batas atas 3% berisiko menaikkan premi risiko, mendongkrak imbal hasil obligasi, dan menahan suku bunga tetap tinggi sehingga menekan valuasi saham.

Di saat yang sama, tingginya kebutuhan valuta asing korporasi untuk pembayaran utang dan impor energi makin membebani rupiah.

Terlebih, Indonesia mengalami defisit perdagangan pada Mei dan Juni, di mana lonjakan impor Juni yang mencapai 34,27% didorong oleh kenaikan impor migas sebesar 105,15%.

"Jadi, masalah tata kelola menjadi pemicu, sedangkan fiskal dan rupiah menghambat pemulihan IHSG agar bertahan lama," terang Budi.

Baca Juga: IHSG Diprediksi Bergerak Terbatas, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini (4/8)

Meskipun IHSG mencatatkan penguatan 10,51% sepanjang Juli 2026, secara year-to-date (YtD) kinerja indeks masih tertekan di level -27,88%.

Penguatan tajam pada bulan Juli tersebut dinilai lebih menyerupai technical rebound akibat valuasi saham yang sudah sangat murah, bukannya mencerminkan pemulihan kepercayaan pasar secara penuh.

Investor institusi jangka panjang dan pengelola dana berbasis indeks saat ini masih mengambil posisi wait and see guna menanti bukti nyata implementasi reformasi bursa hingga evaluasi MSCI pada November 2026.

Guna menjadikan pasar saham kembali menarik hingga akhir tahun, pembenahan domestik paling krusial yang harus dibuktikan pemerintah dan otoritas adalah keterbukaan informasi pemegang saham pengendali (beneficial owner), penerapan aturan free float 15%, pengawasan transaksi yang terkoordinasi, serta kepastian sanksi yang tegas.

Langkah tersebut perlu diimbangi dengan penjagaan batas defisit APBN, stabilitas rupiah, dan independensi kebijakan moneter.

Baca Juga: IHSG Dibuka Naik 0,32% Selasa (4/8), Ditopang Sentimen Positif Bursa Asia dan Wall St

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News