KONTAN.CO.ID – MADINAH. Setelah rangkaian puncak ibadah haji berakhir, fokus pelayanan petugas haji Indonesia terhadap jemaah lansia dan penyandang disabilitas kini bergeser. Jika pada fase keberangkatan dan pelaksanaan ibadah petugas berupaya memastikan jemaah mampu menjalankan seluruh rangkaian haji, pada fase kepulangan perhatian kini diarahkan agar mereka tetap sehat hingga bisa kembali ke Tanah Air. Konsep tersebut dikenal dengan istilah
fit to flight, yakni memastikan jemaah dalam kondisi layak terbang saat jadwal kepulangan tiba sehingga tidak tertinggal kelompok terbang (kloter) maupun memerlukan penanganan khusus di saat-saat terakhir.
Koordinator Tugas dan Fungsi (Tusi) Layanan Lansia dan Disabilitas Sektor 3 Daerah Kerja (Daker) Madinah PPIH Arab Saudi 2026, Dicky Azis Gunawan, mengatakan pola pelayanan pada gelombang kedua memang berbeda dibandingkan gelombang pertama.
Baca Juga: Kemenhaj Terima 72 Aduan Travel Umrah Bermasalah, 19 Kasus Berhasil Dimediasi Menurut dia, saat gelombang pertama fokus utama petugas adalah membantu jemaah agar mampu melaksanakan ibadah haji dengan baik. Sementara pada gelombang kedua, setelah seluruh prosesi ibadah selesai, prioritas beralih pada pemantauan kesehatan dan kesiapan jemaah untuk kembali ke Indonesia. “Gelombang kedua, fokus kita adalah menjadikan jamaah haji
fit to flight. Artinya sehat dalam keadaan pulang nanti ke tanah air, menghindari adanya tanazul akhir dari jamaah atau risiko tertinggal dari kloter,” ujar Dicky di Madinah, Kamis (18/6). Untuk mewujudkan hal tersebut, petugas memperbanyak kunjungan atau visitasi kepada jemaah lansia dan penyandang disabilitas yang berada di hotel-hotel tempat pemondokan di Madinah. Berbeda dengan sebelumnya yang lebih banyak menunggu laporan dari ketua kloter mengenai jemaah berisiko tinggi (risti), kini petugas secara aktif mendatangi jemaah untuk memantau kondisi kesehatan mereka. Bahkan, petugas layanan lansia dan disabilitas memiliki target melakukan visitasi kepada sedikitnya 20 hingga 30 jemaah setiap hari di berbagai hotel dan kloter.
Baca Juga: 55% Jemaah Haji Indonesia Telah Tiba di Tanah Air Menurut Dicky, pemantauan dilakukan sejak jemaah tiba di Madinah dari Makkah. Petugas langsung berkoordinasi dengan ketua kloter dan tenaga kesehatan guna memastikan kondisi jemaah tetap stabil menjelang kepulangan. Jika ditemukan jemaah yang mengalami gangguan kesehatan, petugas segera berkoordinasi dengan dokter kloter untuk mendapatkan penanganan. Sementara bagi jemaah yang membutuhkan bantuan dalam beribadah, koordinasi dilakukan dengan pembimbing ibadah agar kebutuhan mereka tetap terpenuhi. "Kami ingin memastikan lima hingga delapan hari terakhir jemaah di Madinah menjadi momentum yang berkesan. Ibadahnya maksimal, kesehatannya juga terjaga, dan mereka bisa pulang ke Indonesia dalam kondisi sehat," katanya. Dicky menambahkan, kondisi jemaah haji gelombang kedua yang tiba di Madinah saat ini relatif lebih baik dibandingkan fase awal penyelenggaraan haji. Hal itu karena sebagian jemaah dengan kondisi kesehatan berisiko tinggi telah mendapatkan penanganan lebih awal selama berada di Makkah.
Baca Juga: Prabowo Ingin Biaya Haji Turun Lagi, Menhaj: Akan Dibahas Bersama DPR Menurut dia, puncak haji yang cukup berat membuat jemaah dengan kondisi kesehatan tertentu menjalani program tanazul atau dipulangkan lebih awal sehingga jemaah yang tiba di Madinah umumnya berada dalam kondisi yang lebih stabil. "Alhamdulillah kedatangan jemaah di Madinah cenderung lebih landai. Kalau ada yang sakit, kami langsung berkoordinasi untuk dirujuk dan mendapatkan pelayanan yang diperlukan," ujarnya. Melalui pendekatan tersebut, petugas berharap seluruh jemaah lansia dan penyandang disabilitas dapat menyelesaikan masa tinggalnya di Madinah dengan baik dan kembali ke Tanah Air sesuai jadwal penerbangan masing-masing. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News