KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan MSCI untuk menerapkan perlakuan sementara terhadap pasar Indonesia dengan membekukan sejumlah perubahan dalam evaluasi indeks akan menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) dan berpotensi menghambat arus dana investor asing. Adapun MSCI akan membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta tidak mengimplementasikan penambahan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI). Selain itu, MSCI juga meniadakan kenaikan segmen ukuran indeks, termasuk migrasi saham dari Small Cap ke Standard. Hal ini diterapkan untuk memitigasi risiko turnover indeks dan risiko investabilitas.
Baca Juga: Erwin Ciputra Beli 400.000 Saham Petrosea (PTRO) “Sekaligus memberikan waktu bagi otoritas pasar terkait untuk menghadirkan peningkatan transparansi yang lebih bermakna,” tulis pengumuman MSCI yang dirilis pada Selasa (27/1/2026) malam. Pengamat Pasar Modal dan Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan keputusan MSCI berpotensi memberikan tekanan pada pergerakan IHSG, khususnya dalam jangka pendek hingga menengah. “Pembekuan kenaikan bobot saham Indonesia di indeks MSCI berarti potensi aliran dana pasif dari investor global menjadi tertahan,” jelasnya, Rabu (28/1/2026). Hendra bilang dana indeks dan ETF selama ini menjadi salah satu penopang utama permintaan saham berkapitalisasi besar. Alhasil, ketika arus dana baru tertahan tetapi tekanan jual masih ada, penguatan IHSG akan terbatas. Hendra mengatakan tekanan tambahan juga datang dari saham-saham yang sebelumnya diharapkan naik kelas dalam indeks MSCI. Dus, ini membuat katalis positif yang biasanya mendorong minat investor menjadi hilang. “Kondisi ini berpotensi memicu aksi ambil untung atau sikap
wait and see, yang pada akhirnya ikut menekan sentimen pasar secara keseluruhan,” ucapnya.
Baca Juga: Dampak MSCI: IHSG Anjlok 6,53%, BREN dan BBCA Merana di Awal Perdagangan Hendra menilai langkah MSCI ini membuat investor global semakin berhati-hati terhadap pasar Indonesia. Isu transparansi dan kekhawatiran terhadap pembentukan harga yang wajar meningkatkan risk premium pasar Indonesia di mata investor asing. Dia menilai dalam kondisi seperti ini, investor asing cenderung mengurangi eksposur atau menunda penambahan posisi, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi kontributor utama pergerakan IHSG. “Akibatnya, IHSG menjadi lebih rentan terhadap koreksi ketika muncul tekanan dari sentimen global,” kata Hendra. Hendra mencermati ada risiko jangka menengah juga membayangi pasar. Pasalnya, MSCI menyatakan akan meninjau ulang status aksesibilitas pasar Indonesia apabila hingga Mei 2026 tidak terdapat kemajuan signifikan dalam peningkatan transparansi. Menurutnya, proses tersebut berpotensi berdampak pada penurunan bobot saham Indonesia di indeks MSCI Emerging Markets, bahkan membuka peluang perubahan klasifikasi menjadi Frontier Market.
Baca Juga: MSCI Soroti Transparansi Otoritas Pasar Saham Indonesia, Begini Kata BEI “Meski masih bersifat skenario, pasar biasanya mulai mengantisipasi risiko tersebut lebih awal, sehingga sikap defensif investor institusi global bisa semakin menguat,” jelas Hendra.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News