KONTAN.CO.ID - LASEM. Kasus keracunan makanan kembali terjadi dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia. Sebanyak 777 siswa dan guru di Jawa Tengah dilaporkan mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan yang dibagikan melalui program pemerintah. Kepala sekolah setempat mengatakan, jumlah tersebut menambah total korban keracunan yang terkait program MBG menjadi lebih dari 1.700 orang hanya dalam tiga hari. Dalam kasus terbaru di sebuah sekolah menengah atas di Lasem, Jawa Tengah, sebanyak 752 siswa dan 25 guru mengalami diare dan muntah setelah menyantap makanan gratis pada Rabu (2/9/2026).
Baca Juga: Kemenhub Siapkan Anggaran Rp 1 Triliun di 2027 untuk Tangani 1.810 Perlintasan Kereta Makanan yang dibagikan berupa ayam bakar. Sebelum makanan didistribusikan, petugas pencicip makanan menemukan sebagian ayam dalam kondisi berlendir. Kepala sekolah tersebut, Juhartutik, mengatakan makanan yang bermasalah telah dipisahkan sebelum dibagikan. Menurutnya, operator dapur menyebut ayam tersebut telah dimasak sekitar pukul 03.00 dan baru dikonsumsi sekitar pukul 12.00. Sebagian besar korban kemudian dipulangkan untuk menjalani pemulihan. Sementara itu, dokter setempat yang menangani para korban, Joko Paryanto, mengatakan 15 siswa dan guru harus menjalani perawatan di rumah sakit. Kasus keracunan juga terjadi di tiga lokasi lain sepanjang pekan ini. Anggota komisi parlemen yang membidangi pengawasan kesehatan menyebut sedikitnya 950 orang mengalami keracunan yang dikaitkan dengan program MBG. Pada Selasa (1/9/2026), sebanyak 664 siswa di Sidoarjo, Jawa Timur, dilaporkan jatuh sakit. Menurut pejabat setempat, Herawati Yuwantina, dapur yang terkait dengan kasus tersebut kemudian dihentikan sementara pada Rabu. Kasus lainnya terjadi di Nganjuk, Jawa Timur, dengan 49 orang mengalami keracunan pada Rabu. Sementara itu, 237 orang di wilayah Agam, Sumatra Barat, juga dilaporkan mengalami kondisi serupa. Anggota parlemen Charles Honoris mengatakan data tersebut menunjukkan kasus keracunan bukan merupakan insiden yang berdiri sendiri. "Ini adalah kegagalan sistem," tulis Charles melalui akun Instagram-nya, dengan mengutip data dari dinas kesehatan. Charles juga menyebut hingga 1 September 2026 sekitar 50.000 orang telah terdampak kasus keracunan makanan, berdasarkan data dari dinas kesehatan.
Baca Juga: Kemenhub Naikkan Batas Fuel Surcharge Tiket Pesawat Jadi 40% Program MBG diluncurkan Presiden Prabowo Subianto tahun lalu dengan tujuan meningkatkan asupan gizi bagi puluhan juta anak di Indonesia. Program tersebut memiliki anggaran miliaran dolar dan menjadi salah satu program unggulan pemerintah. Namun, pelaksanaannya menghadapi sejumlah persoalan, mulai dari dugaan korupsi, pergantian pimpinan hingga berulangnya kasus keracunan makanan secara massal. Penyimpanan makanan yang tidak sesuai standar serta keterlambatan distribusi makanan yang telah dimasak kerap disebut menjadi faktor yang memicu keracunan.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono, lembaga yang mengawasi program senilai sekitar US$ 12,94 miliar, mengatakan kasus keracunan tersebut akan ditangani secara serius dalam rapat dengan parlemen. Serangkaian kasus tersebut juga mulai memengaruhi tingkat kepuasan masyarakat terhadap program MBG. Survei Saiful Mujani Research and Consulting pada Juli menunjukkan hanya sekitar sepertiga masyarakat yang menyatakan puas terhadap program tersebut. Kasus keracunan makanan menjadi salah satu alasan utama rendahnya tingkat kepuasan tersebut. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News