KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Pemerintahan Presiden Donald Trump resmi mengunci tarif impor 15% untuk produk asal Taiwan dalam perjanjian dagang resiprokal final yang diteken pekan ini. Sebagai imbalannya, Taiwan sepakat membuka pasar lebih lebar bagi produk Amerika Serikat (AS) dan meningkatkan pembelian barang-barang AS dalam jumlah jumbo. Melansir Reuters (13/2), dokumen yang dirilis Kantor Perwakilan Dagang AS menyebutkan, Taiwan berkomitmen menaikkan impor dari AS sepanjang 2025–2029. Daftarnya tidak main-main, yakni US$ 44,4 miliar untuk gas alam cair (LNG) dan minyak mentah, US$ 15,2 miliar untuk pesawat sipil dan mesin, serta US$ 25,2 miliar untuk peralatan jaringan listrik, generator, perlengkapan kelautan hingga peralatan industri baja. Kesepakatan ini mempertegas kerangka perjanjian Januari lalu yang memangkas tarif produk Taiwan termasuk dari industri semikonduktor andalannya dari 20% menjadi 15%. Artinya, posisi Taiwan kini disetarakan dengan pesaing utamanya di Asia seperti Korea Selatan dan Jepang.
Kesepakatan Dagang AS-Taiwan, Industri Cip Terancam Oposisi?
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Pemerintahan Presiden Donald Trump resmi mengunci tarif impor 15% untuk produk asal Taiwan dalam perjanjian dagang resiprokal final yang diteken pekan ini. Sebagai imbalannya, Taiwan sepakat membuka pasar lebih lebar bagi produk Amerika Serikat (AS) dan meningkatkan pembelian barang-barang AS dalam jumlah jumbo. Melansir Reuters (13/2), dokumen yang dirilis Kantor Perwakilan Dagang AS menyebutkan, Taiwan berkomitmen menaikkan impor dari AS sepanjang 2025–2029. Daftarnya tidak main-main, yakni US$ 44,4 miliar untuk gas alam cair (LNG) dan minyak mentah, US$ 15,2 miliar untuk pesawat sipil dan mesin, serta US$ 25,2 miliar untuk peralatan jaringan listrik, generator, perlengkapan kelautan hingga peralatan industri baja. Kesepakatan ini mempertegas kerangka perjanjian Januari lalu yang memangkas tarif produk Taiwan termasuk dari industri semikonduktor andalannya dari 20% menjadi 15%. Artinya, posisi Taiwan kini disetarakan dengan pesaing utamanya di Asia seperti Korea Selatan dan Jepang.
TAG: