Kesepakatan Damai AS-Iran: Trump Jamin Iran Tak Akan Punya Senjata Nuklir



KONTAN.CO.ID - EVIAN-LES-BAINS. Sedikit demi sedikit, isi kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai terungkap. Presiden AS Donald Trump menegaskan, Selasa (16/6/2026), kesepakatan sementara dengan Iran memperjelas bahwa Teheran tidak akan pernah diizinkan untuk mengembangkan senjata nuklir.

Reuters melaporkan, berbicara menjelang pembicaraan dengan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani di sela-sela KTT G7 di Prancis, Trump menegaskan kembali pandangan positifnya mengenai nota kesepahaman 14 poin dengan Iran, yang isinya belum dipublikasikan.

"Satu-satunya hal yang benar-benar penting bagi saya adalah Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, dan itu dinyatakan dengan lantang dan jelas," kata Trump, seperti dikutip Reuters, Selasa (16/6/2026). Trump memperingatkan bahwa malapetaka akan menimpa Iran jika mereka terus berusaha mengembangkan senjata nuklir.


Baca Juga: Dolar AS Stabil di Titik Terendah 10 Hari, Investor Wait and See Damai AS-Iran

Para pejabat AS dan Iran dijadwalkan tiba di Swiss pada Jumat (19/6/2026) untuk memulai negosiasi terperinci. Dijadwalkan negosiasi berlangsung 60 hari untuk pembicaraan teknis yang kompleks. Pembicaraan ini diharapkan mencakup isu-isu seperti masa depan uranium yang diperkaya tinggi milik Iran dan pencabutan sanksi.

Sekutu Eropa telah menyatakan kekhawatiran bahwa tim negosiasi AS yang kurang berpengalaman dapat kesulitan untuk mencapai kesepakatan yang kuat. Ini berpotensi menyebabkan kebuntuan yang berkepanjangan.

Pada 2015, mantan Presiden AS Barack Obama mengamankan kesepakatan nuklir dengan Iran sebagai imbalan atas pencabutan sanksi, sebuah proses yang membutuhkan waktu dua tahun untuk diselesaikan. Trump menarik Amerika Serikat dari kesepakatan itu selama masa jabatan pertamanya.

Baca Juga: Pelayaran Global Masih Waspada Lewati Selat Hormuz Meski AS dan Iran Sepakat Berdamai

"Kesepakatan ini adalah tembok menuju senjata nuklir. Kesepakatan Obama adalah jalan menuju senjata nuklir. Kesepakatan saya, mereka tidak bisa memiliki senjata nuklir, mereka akan hancur," kata Trump.

Para diplomat dan analis mencatat bahwa negosiator Iran sangat terampil dalam diplomasi nuklir, sering kali mengeksploitasi kelemahan lawan mereka dan mengulur waktu untuk memajukan agenda mereka. Sehingga prospek mencapai kesepakatan komprehensif dalam waktu 60 hari menjadi tantangan.

Salah satu faktor kunci dalam keberhasilan kesepakatan sementara adalah situasi di Lebanon. Teheran telah menuntut penarikan pasukan Israel. Sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pasukannya akan tetap berada di selatan selama diperlukan untuk mengatasi Hizbullah.

Baca Juga: Bedah Lengkap Klausul Damai AS-Iran: Dari Masa Depan Nuklir hingga Nasib Selat Hormuz

Trump mengkritik strategi Israel di Lebanon dan juga menyarankan Suriah, yang di bawah Presiden Ahmed al-Sharaa sedang berjuang untuk menstabilkan negara setelah bertahun-tahun perang saudara, berada di posisi terbaik untuk campur tangan.

"Saya menyarankan kepada Israel untuk membiarkan Suriah mengurus Hizbullah karena jujur ​​saja, saya pikir mereka melakukan pekerjaan yang lebih baik," kata Trump.