Kesiapan SDM yang Masih Minim Jadi Tantangan Hilirisasi Nikel



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ambisi Indonesia menjadi negara maju pada 2045 terus didorong lewat hilirisasi industri, khususnya nikel. Namun, di balik derasnya pembangunan smelter dan investasi, muncul persoalan mendasar: kesiapan sumber daya manusia (SDM) teknik yang dinilai belum sebanding dengan kebutuhan industri.

Selama ini, hilirisasi kerap dipersepsikan sebatas pembangunan fasilitas pengolahan. Padahal, dalam jangka panjang, penentu keberhasilan justru terletak pada penguasaan teknologi dan kualitas tenaga kerja. Tanpa itu, nilai tambah yang dihasilkan berisiko tidak optimal.

Pemerintah menempatkan hilirisasi sebagai fondasi menuju visi Indonesia Emas 2045, target menjadi negara maju saat 100 tahun kemerdekaan. Strategi ini diharapkan mendorong ekspor bernilai tambah, memperkuat daya saing industri, serta mengurangi ketergantungan pada komoditas mentah.


Baca Juga: Harga Referensi CPO Menguat 5,41% pada Periode April 2026

Namun, tantangan terlihat di lapangan. Kawasan industri berbasis nikel seperti Morowali berkembang pesat menjadi pusat hilirisasi global, sementara kebutuhan tenaga ahli—mulai dari insinyur metalurgi hingga spesialis teknologi seperti High Pressure Acid Leach (HPAL) melonjak signifikan.

Kesenjangan ini mendorong pergeseran fokus dari pembangunan fisik ke pengembangan talenta. Salah satu upaya ditempuh lewat kolaborasi pendidikan teknik antara Indonesia, GEM Co., Ltd, dan Central South University (CSU) di China, dengan target mencetak 100 doktor teknik, 1.000 magister, dan 10.000 tenaga teknis.

Langkah ini krusial mengingat Indonesia menguasai sekitar 44% cadangan nikel dunia menurut USGS 2026. Posisi tersebut menempatkan Indonesia sebagai pemain kunci dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik global, sekaligus membuka peluang naik kelas ke industri berbasis teknologi.

Namun tanpa SDM unggul, Indonesia berisiko terjebak sebagai basis produksi dengan nilai tambah terbatas. Ekonom energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menilai fase hilirisasi kini memasuki babak baru, yakni memastikan transfer teknologi benar-benar mengakar di dalam negeri.

Baca Juga: Pertamina Hulu Mahakam Catatkan Tambahan Produksi Gas dari Onstream Platform WPN-7

Ia menegaskan, keberhasilan hilirisasi sangat bergantung pada kemampuan menyerap dan mengembangkan teknologi. "Tanpa itu, lonjakan nilai ekspor produk turunan nikel dalam beberapa tahun terakhir berpotensi tidak berkelanjutan," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (31/3/2026).

Pada akhirnya, hilirisasi bukan lagi sekadar soal infrastruktur industri. Lebih dari itu, ini menjadi ujian apakah Indonesia mampu membangun ekosistem industri berbasis pengetahuan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: