Ketahanan Cadangan Devisa RI Bergantung Perkembangan Rupiah dan Capital Inflow



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai arah cadangan devisa hingga akhir tahun akan sangat ditentukan oleh perkembangan nilai tukar rupiah dan arus modal asing.

Menurutnya, yang terjadi saat ini bukan sekadar penurunan cadangan devisa secara bulanan, melainkan tren yang telah berlangsung sejak awal tahun. Secara Year to Date (YtD) Cadev sudah ambles sekitar US$ 11 miliar dari posisi US$ 156,4 miliar pada akhir 2025 ke posisi saat ini sebesar US$ 144,9 miliar pada akhir Mei 2026.

Yusuf menegaskan penurunan tersebut bukan disebabkan oleh memburuknya kinerja perdagangan luar negeri secara drastis, namun faktor utama berasal dari pembayaran utang luar negeri pemerintah serta penggunaan cadangan devisa untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.


"Sebagian besar cadangan devisa yang terpakai merupakan konsekuensi dari upaya stabilisasi, bukan karena lemahnya fundamental ekonomi secara langsung," ujar Yusuf kepada Kontan, Senin (8/6/2026).

Baca Juga: Cadangan Devisa Indonesia Turun Jadi US$ 144,9 Miliar Pada Mei 2026

Untuk proyeksi akhir tahun, Yusuf memperkirakan cadangan devisa berada di kisaran US$ 135 miliar hingga US$ 142 miliar. Namun jika tekanan terhadap rupiah berlanjut dan arus modal asing belum pulih, cadangan devisa berpotensi turun ke kisaran US$ 130 miliar hingga US$ 135 miliar.

Dari sisi ketahanan eksternal, ia menilai posisi Indonesia masih relatif aman. Cadangan devisa saat ini setara sekitar 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar internasional sekitar tiga bulan impor.

Meski demikian, Yusuf mengingatkan bantalan eksternal Indonesia terus menipis seiring tekanan terhadap rupiah. Sepanjang tahun ini, rupiah sempat bergerak di sekitar Rp 18.000 per dolar AS akibat penguatan dolar AS, ketidakpastian geopolitik, dan keluarnya sebagian modal asing dari pasar domestik.

Ia juga menyoroti defisit transaksi berjalan yang mencapai sekitar US$ 4 miliar pada kuartal I-2026, terbesar untuk kuartal pertama dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan dukungan fundamental terhadap rupiah tidak sekuat beberapa tahun lalu.

Baca Juga: Rupiah Cetak Rekor Terlemah, BI Pastikan Cadangan Devisa Tetap Kuat

Yusuf menjelaskan, ketika rupiah mengalami tekanan, Bank Indonesia cenderung meningkatkan intervensi di pasar valas yang pada akhirnya mengurangi cadangan devisa. Jika berlangsung terlalu lama, kondisi ini berisiko memunculkan keraguan pasar terhadap ketahanan eksternal Indonesia.

Meski begitu, ia menilai Bank Indonesia masih memiliki instrumen lain untuk menjaga stabilitas, seperti suku bunga dan instrumen penarik dana asing. Selama inflow modal tetap terjaga, kebutuhan intervensi menggunakan cadangan devisa dapat dikurangi.

"Pada akhirnya, ketahanan eksternal akan lebih ditentukan oleh perbaikan fundamental melalui penguatan ekspor, pengendalian defisit transaksi berjalan, peningkatan investasi, dan pendalaman pasar keuangan domestik," kata Yusuf.

Baca Juga: Komisi XI Sebut Penguatan Tata Kelola Ekspor Kunci Pertebal Cadangan Devisa

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News