KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kontrak berjangka (futures) saham Amerika Serikat (AS) bergerak beragam pada perdagangan Kamis (9/7/2026). Penguatan saham-saham semikonduktor menopang indeks S&P 500 dan Nasdaq, tetapi meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi sentimen yang membatasi kenaikan pasar. Militer AS pada Rabu (8/7) melancarkan serangan baru ke Iran dengan tujuan menjaga jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap terbuka.
Iran kemudian membalas dengan serangan ke Kuwait dan Bahrain, sehingga memperbesar risiko konflik yang telah berlangsung selama empat bulan dan mengurangi harapan tercapainya gencatan senjata.
Baca Juga: Wall Street: S&P 500 & Nasdaq Catat Rekor, Didukung Kenaikan Saham Teknologi Eskalasi terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata sementara dengan Iran telah berakhir. Situasi tersebut memicu volatilitas harga minyak, yang sempat melonjak ke level tertinggi dalam dua pekan sebelum akhirnya bergerak fluktuatif dan kembali menguat sekitar 1%. Chief Investment Officer UBS Global Wealth Management, Mark Haefele, menilai ketegangan di Timur Tengah masih berpotensi memicu gejolak pasar dalam jangka pendek. "Jalan menuju kesepakatan damai yang berkelanjutan kemungkinan tidak akan mulus, dengan ketegangan yang sesekali meningkat dan memicu volatilitas pasar. Namun kami juga melihat kedua pihak tetap berkepentingan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka," ujar Haefele. Di sisi lain, sektor semikonduktor menjadi penopang utama pergerakan bursa. ETF iShares Semiconductor menguat 2,4%, membantu mengangkat kontrak berjangka Nasdaq meski minat terhadap saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) mulai melemah dalam beberapa hari terakhir.
Baca Juga: Wall Street: Saham Teknologi Meroket, Dorong S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Baru Pada perdagangan prapasar, kontrak Dow Jones turun 0,13%. Sebaliknya, futures S&P 500 naik 0,15%, sementara Nasdaq 100 melonjak 0,67%. Tekanan datang dari saham teknologi besar. IBM turun 3,8% dan Microsoft melemah 1,5% setelah beredar laporan bahwa Starbucks mulai memanfaatkan teknologi AI untuk mengurangi ketergantungan pada kedua perusahaan tersebut. Saham perusahaan perangkat lunak lain seperti ServiceNow dan Adobe juga masing-masing terkoreksi 3,8% dan 3%. Sementara itu, Meta Platforms turun 1,2% setelah Reuters melaporkan perusahaan tersebut berencana mulai memproduksi chip AI miliknya sendiri pada September mendatang. Pelaku pasar juga kembali mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Risalah rapat Federal Reserve menunjukkan bank sentral mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juni, meski sebagian pejabat sempat mempertimbangkan kenaikan suku bunga sebelum akhirnya sepakat mempertahankan kebijakan.
Baca Juga: Ketegangan AS-Iran Tekan Wall Street, Harga Minyak Melonjak Berdasarkan data LSEG, pelaku pasar kini memperkirakan masih ada peluang setidaknya satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun. Selain perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter, investor juga menantikan rilis data klaim pengangguran mingguan AS yang dinilai dapat memberikan gambaran terbaru mengenai kondisi ekonomi negeri tersebut. Di sisi korporasi, saham Levi Strauss turun 4,4% setelah merilis laporan kinerja kuartal II.