KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga minyak dunia kembali melonjak setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat. Serangkaian serangan militer di Irak, ancaman terhadap jalur pelayaran, serta gangguan arus kapal di kawasan Teluk membuat pasar kembali mencemaskan risiko pasokan energi global. Mengutip
Reuters, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman berikutnya naik US$ 4,14 atau 4,9% menjadi US$ 88,23 per barel pada perdagangan Rabu (29/7/2026) pukul 11.45 GMT.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat US$ 3,69 atau 4,7% menjadi US$ 82,95 per barel. Kenaikan tersebut sekaligus menghentikan tren penurunan harga minyak dalam tiga sesi perdagangan sebelumnya.
Baca Juga: Negosiasi AS-Iran Amburadul, Harga Minyak Dunia Makin Mencekam Analis energi menilai pasar kembali memasukkan premi risiko geopolitik setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran meningkat. Serangan AS dan Arab Saudi terhadap kelompok yang didukung Iran di Irak disebut sebagai respons atas serangan drone terhadap fasilitas minyak Saudi. Di sisi lain, militer AS mengklaim telah menggagalkan serangan mendadak Iran terhadap pasukan AS di kawasan tersebut. Iran juga menyatakan telah melakukan serangan terhadap kapal di Selat Hormuz serta pangkalan militer AS di Yordania. "Ketegangan militer baru di Timur Tengah dan pernyataan Iran yang ingin mengendalikan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali mengangkat harga minyak," ujar analis UBS Giovanni Staunovo. Selat Hormuz menjadi perhatian utama pasar karena merupakan jalur penting pengiriman minyak global. Aktivitas kapal pengangkut komoditas di jalur tersebut masih rendah sepanjang pekan ini, mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan perdagangan. Harapan terhadap penyelesaian konflik juga kembali meredup setelah Iran menolak usulan Oman terkait pengelolaan bersama Selat Hormuz. Padahal, jalur tersebut menjadi salah satu titik kunci perdagangan minyak dari kawasan Teluk ke pasar global.
Baca Juga: Perjanjian Damai AS-Iran Tekan Harga Minyak Mentah, Begini Dampak ke BBM Indonesia Selain Selat Hormuz, risiko gangguan juga muncul di kawasan Laut Merah. Kelompok Houthi di Yaman disebut tengah mempertimbangkan pengenaan biaya bagi kapal komersial yang melintas di wilayah tersebut. China juga dikabarkan melakukan pembicaraan langsung dengan kelompok tersebut agar kapal tanker asal negaranya tetap dapat melintas tanpa serangan. Analis memperkirakan volatilitas harga minyak masih akan tinggi dalam jangka pendek. Kepala Riset Energi DBS Bank Suvro Sarkar memperkirakan harga minyak Brent akan bergerak di kisaran US$ 80-US$ 100 per barel seiring perkembangan konflik yang naik turun. "Minyak Brent kemungkinan tetap bergerak fluktuatif di kisaran US$ 80-US$ 100 per barel dalam waktu dekat karena konflik Timur Tengah masih berkembang," kata Sarkar. Selain faktor geopolitik, sentimen positif terhadap harga minyak juga datang dari penurunan stok minyak mentah Amerika Serikat. Data American Petroleum Institute menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun sekitar 3,3 juta barel pada pekan yang berakhir 24 Juli.
Baca Juga: Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Berpotensi Tembus US$ 140 per Barel Pasar juga menunggu data resmi persediaan minyak dari Energy Information Administration (EIA) AS yang akan menjadi indikator tambahan mengenai kondisi pasokan global. Dari sisi produksi, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) bersama sekutunya atau OPEC+ diperkirakan akan menghentikan sementara kenaikan produksi selama tiga bulan mulai Oktober. Langkah tersebut dilakukan setelah kelompok produsen menyelesaikan pengembalian pasokan yang sebelumnya dipangkas secara sukarela. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News