KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah diperkirakan kembali naik setelah eskalasi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) – Iran kembali memanas. Mengutip Bloomberg Kamis (16/7/2026) pukul 14.46 WIB, harga minyak
West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus 2026 di New York Mercantile Exchange berada di level US$ 79,57 per barel, menguat 10,39% dalam sepekan. Kenaikan harga minyak ini dipicu oleh AS yang menyerang pertahanan pantai dan situs rudal Iran pada Rabu (15/6/2026), setelah memberlakukan kembali blokade pelabuhan Iran.
Sementara Iran mengancam akan menghentikan lebih banyak ekspor energi regional. Iran juga menyatakan bahwa mereka terlibat dalam "perang eksistensial" dengan Amerika.
Baca Juga: Simak Prospek dan Rekomendasi Saham Emiten Properti yang Masih Lesu Sejak Awal Tahun Pengamat Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan pergerakan harga minyak dunia ke depan akan terus berfluktuasi secara ekstrem akibat ketakutan pasar terhadap potensi pemblokiran jalur maritim global. Jika berkaca pada sisi fundamental riil, prospek harga minyak ke depan seharusnya berada dalam tren penurunan yang dalam karena pasokan dunia sedang mengalami kelebihan kapasitas (
oversupply). "Jadi sebenarnya naiknya harga minyak itu disebabkan oleh pemanasan situasi politik di Timur Tengah, bukan karena fundamentalnya," kata Ibrahim kepada Kontan, Kamis (16/7/2026). Sentimen penahan laju harga lainnya datang dari penurunan drastis aktivitas manufaktur serta melemahnya permintaan energi dari pasar Tiongkok. Tambahan pasokan eksternal, melansir data Badan Informasi Energi AS (EIA) yang merilis penurunan stok minyak mentah domestik sebesar 1,7 juta barel turut memicu sentimen ketatnya suplai jangka pendek.
Baca Juga: Energi Mega (ENRG) Kucurkan Pinjaman Rp 1 Triliun ke Tiga Anak Usaha, Ini Tujuannya Sebaliknya, pengamat ekonomi energi Universitas Trisakti, Komaidi Notonegoro, melihat volatilitas akibat konflik maritim ini memang sulit diprediksi secara matematis. Namun, tingkat kepanikan pasar saat ini tidak akan sebesar pada masa awal pecahnya perang. Para pelaku pasar kini sudah memiliki banyak informasi yang utuh sehingga ekspektasi pergerakan instrumen energi ini menjadi lebih mudah dikelola. Komaidi menjelaskan bahwa risiko hambatan pada titik pasokan ataupun jalur distribusi energi internasional tetap menjadi sentimen non-fundamental yang paling dominan saat ini.
"Kalau yang sekarang kan pola dan karakteristik para pengambil kebijakan baik dari sisi Amerika, dari sisi Israel maupun dari sisi Iran, itu kan sudah ada datanya dan sudah relatif bisa dibaca begitu ya oleh para pelaku pasar," tutur Komaidi kepada Kontan, Rabu (16/7/2026). Terkait proyeksi hingga akhir tahun, Komaidi meramal harga minyak bergerak moderat di kisaran US$ 80–US$ 95 per barel karena peluang koreksi lebih kecil dibandingkan dengan potensi naiknya. Sementara itu, Ibrahim memproyeksikan harga minyak berpotensi mendidih ke kisaran US$ 100 per barel jika tensi militer berlanjut, atau jatuh ke level US$ 65 per barel apabila ketegangan geopolitik mereda. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News