Ketegangan Di Perbatasan Korea Meningkat, Ini Kondisinya



KONTAN.CO.ID - Seoul. Ketegangan di perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan meningkat setelah Pyongyang mengumumkan rencana menyiagakan persenjataan dan mengaktifkan kembali pengeras suara propaganda. Namun, militer Korea Selatan menyatakan belum mendeteksi pengerahan sistem persenjataan baru di wilayah perbatasan.

Juru Bicara Kepala Staf Gabungan Korea Selatan, Jang Do-young, mengatakan militer terus memantau perkembangan situasi menyusul pernyataan terbaru dari Pyongyang pada Kamis (22/10/2026).

“Kami belum melihat tanda-tanda apa pun yang menunjukkan Korea Utara sedang mengerahkan jenis persenjataan baru,” ujar Jang kepada wartawan, dikutip dari AFP.


Meski belum menemukan indikasi pengerahan senjata baru, militer Seoul tetap meningkatkan pemantauan untuk mengantisipasi perkembangan situasi di lapangan. 

Baca Juga: Bohongi Pengguna soal Privasi, Meta Didenda Rp452 Triliun

Korea Utara siagakan persenjataan dan pengeras suara

Sebelumnya, Kim Yo Jong, adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, menyatakan Pyongyang akan menyiagakan pengeras suara propaganda yang diarahkan ke Korea Selatan dalam beberapa hari ke depan.

Kim juga mengatakan bahwa sarana penanggulangan baru telah ditempatkan dalam status siaga di sepanjang perbatasan. Namun, ia tidak merinci jenis persenjataan atau sistem militer yang dimaksud.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Kim mengunjungi kawasan perbatasan bersama sejumlah pejabat militer. Sehari sebelumnya, ia juga mengklaim bahwa unit-unit pasukan taktis Korea Utara telah menempati posisi tembak baru.

Pada Senin (19/10/2026), Pyongyang menyebut situasi perbatasan berada dalam kondisi gawat dan mempertimbangkan pengerahan tambahan sarana serangan taktis.

Rangkaian pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap kemungkinan eskalasi militer di Semenanjung Korea. Kendati demikian, klaim mengenai kesiapan persenjataan baru itu belum dikonfirmasi oleh militer Korea Selatan. 

Tonton: Dua Bulan Tersisa, Mampukah Pemerintah Kejar Target Rumah Subsidi?

Korsel sebut aktivitas pengeras suara masih berupa perawatan

Terkait rencana pengoperasian kembali pengeras suara propaganda, Jang mengatakan aktivitas yang terpantau sejauh ini masih berupa pemeliharaan rutin.

Menurut dia, kegiatan tersebut sudah terlihat sebelum Korea Utara menyampaikan pernyataan terbarunya. Karena itu, aktivitas pemeliharaan tersebut belum dapat dianggap sebagai bukti bahwa siaran propaganda telah kembali beroperasi.

Jang juga menilai rentetan pernyataan Pyongyang belakangan ini mengindikasikan bahwa upaya Korea Selatan membersihkan ranjau darat di Zona Demiliterisasi atau Demilitarized Zone (DMZ) memberikan tekanan terhadap Korea Utara.

Sebelumnya, Pyongyang menuduh militer Seoul menyiarkan hampir 1.000 siaran pengeras suara yang dianggap provokatif dan melepaskan tembakan peringatan pada periode 1–17 Oktober 2026.

Militer Korea Selatan menolak tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa siaran pengeras suara serta tembakan peringatan dilakukan sebagai langkah pertahanan untuk merespons aktivitas pasukan Korea Utara di dekat garis demarkasi militer. 

Tonton: Perubahan Definisi Korupsi Ala Luhut Pandjaitan Tuai Penolakan, KPK dan ICW Bersuara!

Insiden ranjau picu ketegangan baru

Ketegangan terbaru antara kedua negara juga dipicu ledakan ranjau pada 21 September 2026 di kawasan DMZ yang melukai tiga prajurit Korea Selatan.

Seoul menuduh Korea Utara menanam ranjau antipersonel di wilayah tersebut dan menyebut tindakan itu sebagai pelanggaran terhadap Perjanjian Gencatan Senjata yang mengakhiri Perang Korea pada 1950–1953.

Militer Korea Selatan dan Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyimpulkan ledakan tersebut disebabkan ranjau Korea Utara yang ditanam di sebelah selatan garis demarkasi militer. Namun, Pyongyang membantah bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Di tengah ketegangan, Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung kembali mendorong Korea Utara untuk membuka dialog guna mencegah konflik lebih lanjut. Namun, Kim Yo Jong mengecam tawaran tersebut dan menolak pendekatan Seoul.

Pemerintah Korea Selatan juga mendesak Pyongyang menghentikan tindakan yang berpotensi meningkatkan risiko bentrokan di perbatasan serta membuka komunikasi untuk mengelola perbedaan terkait garis demarkasi militer. 

Baca Juga: Bos Vingroup Masuk Daftar Miliarder Paling Untung di Dunia, Harta Tambah Rp97 Triliun

Kedua Korea berpotensi kembali terlibat perang propaganda

Pengoperasian pengeras suara merupakan salah satu metode perang psikologis yang selama bertahun-tahun digunakan Korea Utara dan Korea Selatan untuk menyebarkan propaganda melintasi perbatasan.

Korea Selatan menghentikan siaran pengeras suara anti-Korea Utara pada Juni 2025 sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan. Militer Seoul kemudian membongkar sekitar 20 pengeras suara permanen di kawasan perbatasan pada Agustus 2025. Korea Utara juga menghentikan siaran propagandanya setelah langkah Seoul tersebut.

Rencana Pyongyang untuk mengaktifkan kembali pengeras suara berpotensi membalikkan upaya meredakan ketegangan yang dilakukan pemerintah Korea Selatan.

Selain konflik di perbatasan, Korea Utara belakangan juga mengumumkan sejumlah pengembangan dan pengujian persenjataan, termasuk sistem torpedo berpemandu presisi dan rudal hipersonik jarak menengah yang diklaim memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Meski demikian, hingga Kamis (22/10/2026), militer Korea Selatan menyatakan belum menemukan indikasi pengerahan jenis persenjataan baru di perbatasan. Situasi selanjutnya akan bergantung pada langkah militer Pyongyang dan respons Seoul terhadap perkembangan tersebut. 

Sumber: https://www.kompas.com/global/read/2026/10/22/155251670/kondisi-perbatasan-korea-gawat-korsel-ungkap-situasi-terkini?page=all#page2.  

Khalid Basalamah Bayar US$4.500 per Jemaah, Tak Tahu soal Fee Percepatan Haji?
© 2026 Konten oleh Kontan