Ketegangan Indonesia-Singapura Menguat, Investasi dan Pasokan Gas Jadi Sorotan



KONTAN.CO.ID - Hubungan Indonesia dan Singapura kembali menjadi sorotan setelah sejumlah pejabat pemerintah Indonesia melontarkan pernyataan keras terhadap negara tetangga tersebut.

Ketegangan ini muncul di tengah tekanan terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terkait penanganan kebakaran hutan, program kesejahteraan, hingga regulasi pasar.

Reuters melaporkan pada Jumat (30/10/2026), pemerintah Indonesia meningkatkan retorika nasionalistis setelah Singapura dan Malaysia menyampaikan keluhan terkait kabut asap akibat kebakaran hutan di Indonesia yang berdampak ke kawasan Asia Tenggara.


Baca Juga: PMI Manufaktur China Melambat pada Oktober, Pesanan Ekspor Melemah

Singapura menjadi salah satu sasaran pernyataan pejabat Indonesia. Bahkan, pejabat Indonesia mengingatkan calon jemaah haji agar menghindari transit melalui negara tersebut.

Ketegangan juga mencuat setelah Indonesia memangkas pasokan gas ke Singapura. Menteri Energi Indonesia menyatakan negara yang disebutnya sebagai "saudara" tidak seharusnya menggurui Indonesia mengenai pemenuhan kontrak.

Pemerintah Singapura berupaya meredakan situasi. Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan berkunjung ke Indonesia pekan ini dan bertemu Presiden Prabowo Subianto.

Namun, Singapura juga memanggil perwakilan sejumlah perusahaan yang diduga memiliki lahan perkebunan yang terbakar di Indonesia.

Analis dari Universitas Jenderal Achmad Yani, Yohanes Sulaiman, menilai retorika nasionalistis pemerintah Indonesia kemungkinan akan bertahan selama tekanan domestik terhadap pemerintahan Prabowo masih berlangsung.

Menurut dia, Presiden Prabowo kerap mengaitkan berbagai persoalan dengan pihak asing. Singapura, dengan mayoritas penduduk keturunan China, dinilai menjadi sasaran yang relatif mudah.

Baca Juga: Binance Hadapi Penarikan Dana US$ 3,64 Miliar Usai Peretasan Kripto US$ 6,3 Miliar

Sementara itu, Kepala Kantor Komunikasi Pemerintah Indonesia Syahganda Nainggolan mengatakan kepada Reuters bahwa Jakarta tetap menginginkan hubungan erat dengan Singapura.

Kunjungan Menteri Luar Negeri Singapura, menurut dia, menunjukkan hubungan kedua negara tidak sedang mengalami keretakan.

Syahganda juga menjelaskan pemangkasan pasokan gas dilakukan karena pertimbangan kebutuhan dalam negeri dan hanya bertepatan dengan situasi hubungan kedua negara yang terlihat memanas.

Tekanan Domestik dan Gejolak Pasar

Ketegangan dengan Singapura berlangsung ketika pemerintahan Prabowo menghadapi sejumlah persoalan di dalam negeri. Pemerintah sebelumnya juga mendapat tekanan internasional setelah penyedia indeks global MSCI menyampaikan ancaman penurunan status pasar modal Indonesia.

Ancaman tersebut turut mengguncang pasar keuangan Indonesia. Seorang mantan pejabat Indonesia bahkan menuding dana kekayaan negara Singapura memiliki peran dalam tekanan MSCI, tetapi tidak menyertakan bukti.

Baca Juga: PDB per Kapita Vietnam Diprediksi Lampaui Indonesia, Ini Proyeksi IMF

Tuduhan tersebut kemudian diperkuat oleh sejumlah akun media sosial yang mendapat tanda suka dari tokoh pemerintah. Dana kekayaan negara Singapura membantah keterlibatan mereka.

Yohanes menilai ancaman penurunan status dari MSCI menambah tekanan terhadap pemerintahan Prabowo, di tengah persoalan kebakaran hutan, kasus keracunan makanan, serta isu korupsi yang berkaitan dengan program makan bergizi gratis.

Popularitas Prabowo juga disebut mengalami penurunan. Berdasarkan salah satu survei, tingkat persetujuan terhadap kinerja Prabowo mencapai 44,5% pada Oktober, turun dari 81,2% pada akhir tahun lalu.

Pekan ini, demonstrasi juga berlangsung di sejumlah kota di Indonesia sebagai bentuk protes terhadap respons pemerintah dalam menangani kebakaran hutan.

Menurut para analis, ketegangan terbaru ini memiliki kemiripan dengan sejumlah episode sebelumnya ketika Indonesia mengkritik kekuatan eksternal, termasuk Singapura, Malaysia, dan negara-negara Barat, saat menghadapi persoalan domestik.

Pada 1998, Presiden Indonesia saat itu pernah menyebut Singapura sebagai "titik merah kecil" yang bukan merupakan sahabat Indonesia ketika membahas krisis keuangan Asia.

Baca Juga: China Pacu Pengembangan Otak Robot Humanoid, Investasi AI Tembus US$ 13 Miliar

Sebelumnya, pada era 1960-an, hubungan kedua negara bahkan diwarnai konfrontasi setelah Presiden Soekarno melancarkan kampanye yang berujung pada 42 upaya pengeboman di Singapura.

Periode tersebut berlangsung ketika Indonesia menghadapi hiperinflasi dan ketidakstabilan di dalam negeri.

Hubungan Ekonomi Tetap Saling Bergantung

Meski muncul pernyataan keras dari sejumlah pejabat, pejabat aktif maupun mantan pejabat kedua negara berupaya meredakan ketegangan.

Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan mengatakan perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam hubungan antarnegara. Bahkan, menurut dia, pernyataan polemis terkadang dapat muncul dari waktu ke waktu.

Mantan Duta Besar Indonesia untuk Singapura Suryo Pratomo menilai pernyataan sejumlah menteri Indonesia merupakan reaksi spontan dan bukan kebijakan resmi pemerintah.

Baca Juga: Tesla dan Samsung Tolak Tarif Baru AS untuk Produk Vietnam, Ini Alasannya

Ia menegaskan hubungan Indonesia dan Singapura bersifat saling melengkapi, bukan saling bersaing.

Kedua negara juga memiliki hubungan ekonomi yang erat. Singapura merupakan sumber investasi langsung asing terbesar bagi Indonesia, dengan nilai mencapai US$ 17,4 miliar pada tahun lalu.

Di sisi lain, Indonesia masih bergantung pada impor bahan bakar serta jalur kabel internet global yang melalui Singapura.

Analis kebijakan luar negeri Dewi Fortuna Anwar menilai ketegangan tersebut lebih menyerupai persoalan yang dibesar-besarkan.

Namun, ia mengingatkan adanya nasionalisme yang sensitif terhadap kritik maupun campur tangan negara lain, sehingga perbedaan pandangan dengan negara tetangga dapat memicu reaksi keras.