KONTAN.CO.ID - WASHINGTON/DUBAI. Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling melancarkan serangan pada Kamis (7/5/2026) dalam eskalasi paling serius sejak gencatan senjata diumumkan sebulan lalu. Namun, kedua pihak menyatakan situasi belum sepenuhnya keluar dari kendali, dengan Washington menegaskan tidak ingin memperluas konflik. Melansir
Reuters militer Iran menyebut, AS menargetkan dua kapal yang memasuki Selat Hormuz serta melakukan serangan di wilayah Iran.
Sementara itu, militer AS menyatakan serangan dilakukan sebagai respons atas aksi Iran terhadap aset militernya.
Baca Juga: PMI Jasa Jepang pada April Melambat ke Level Terendah 11 Bulan Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada ABC bahwa gencatan senjata masih berlaku dan meremehkan eskalasi tersebut. “It’s just a love tap,” ujar Trump dalam pernyataan yang dikutip melalui media sosial jurnalis tersebut. Ketegangan kembali meningkat saat Washington masih menunggu respons Iran terhadap proposal kesepakatan sementara yang bertujuan menghentikan perang, meski isu-isu utama seperti program nuklir Iran masih belum diselesaikan. Komando militer tertinggi Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata dengan menyerang kapal tanker minyak Iran serta melakukan serangan udara di wilayah sipil di Pulau Qeshm dan beberapa kota pesisir di sekitar Selat Hormuz, termasuk Bandar Khamir dan Sirik. Iran menyatakan telah membalas dengan menyerang kapal militer AS di sebelah timur selat dan selatan Pelabuhan Chabahar. Namun, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut tidak ada aset militernya yang terkena serangan.
Baca Juga: Kritik Harga Tiket Piala Dunia yang Mahal, Trump: Saya Tidak Akan Membayarnya CENTCOM mengatakan, Iran menggunakan rudal, drone, dan kapal kecil dalam serangan yang menargetkan tiga kapal perusak Angkatan Laut AS. Sebagai balasan, AS menyerang lokasi peluncuran rudal dan drone milik Iran. “CENTCOM tidak mencari eskalasi, tetapi tetap siap melindungi pasukan Amerika,” demikian pernyataannya. Iran menegaskan akan merespons setiap serangan lanjutan. “Iran akan membalas dengan tegas tanpa keraguan terhadap setiap agresi,” ujar juru bicara militer Iran yang disiarkan televisi pemerintah. Media Iran Press TV kemudian melaporkan bahwa situasi di wilayah pesisir dan pulau-pulau di sekitar Selat Hormuz telah kembali normal setelah beberapa jam baku tembak. Sejak gencatan senjata berlaku pada 7 April, kedua pihak memang beberapa kali masih terlibat insiden bersenjata berskala terbatas. Sebelumnya pada pekan ini, militer AS juga mengklaim telah menghancurkan sejumlah kapal kecil Iran serta mencegat rudal dan drone yang diarahkan ke kapal perang AS di kawasan tersebut.
Baca Juga: Daftar CEO Top AS yang Disebut Ikut Trump ke China, Siap Amankan Proyek Besar? Trump dorong Iran segera capai kesepakatan Trump kembali menyerukan Iran untuk segera menerima kesepakatan damai. Ia memperingatkan bahwa AS akan merespons lebih keras jika tidak ada kemajuan dalam negosiasi. Di sisi lain, AS sebelumnya mengajukan proposal kesepakatan sementara yang akan menghentikan perang, namun belum mencakup tuntutan utama Washington terkait program nuklir Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur yang sebelumnya menangani sekitar 20% perdagangan minyak dan gas dunia. Iran menyatakan belum mengambil keputusan akhir atas proposal tersebut. Israel, yang juga terlibat dalam konflik dengan kelompok yang didukung Iran di Lebanon, melaporkan serangan udara di Beirut yang menewaskan seorang komandan Hezbollah—serangan pertama ke ibu kota Lebanon sejak gencatan senjata sebelumnya.
Baca Juga: Tok! Pengadilan Dagang AS Putuskan Tarif Global 10% Trump Tidak Sah Dampak ke pasar energi dan politik AS Konflik ini turut memberi tekanan politik bagi Trump, yang sebelumnya berjanji menghindari keterlibatan AS dalam perang luar negeri dan menjaga harga energi tetap stabil. Harga minyak mentah AS sempat naik hingga 3% pada perdagangan awal Asia. Sementara harga bensin di AS dilaporkan melonjak lebih dari 40% sejak akhir Februari, atau sekitar US$1,20 per galon, menurut data American Automobile Association. Pasar global sendiri masih sangat volatil, dengan harga minyak dan saham bergerak tajam mengikuti setiap perkembangan terkait harapan damai maupun eskalasi militer.