JAKARTA. Seiring adanya proyek-proyek Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengembangan Ekonomi Indonesia (MP3EI), diperkirakan ketersediaan aspal di tahun ini bakal defisit hingga 2,02 juta ton. Kepala Badan Pembinaan Konstruksi (BPK) Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Bambang Goerinto menyebut, jumlah aspal yang diproduksi hanya 930.000 ton, sedangkan kebutuhan mencapai 2,95 juta ton. Angka tersebut meningkat tajam dari kebutuhan aspal pada 2011 yang hanya 1,2 juta ton dengan kebutuhan sebesar 601.000 ton. Bambang menuturkan, untuk mengantisipasi kelangkaan aspal untuk proyek-proyek konstruksi tersebut, pihaknya akan segera membentuk perjanjian bersama Pertamina sebagai pemasok utama aspal lokal.Menurut Bambang, bila tidak ada perjanjian kerjasama, tidak akan ada kepastian pasokan aspal dari Pertamina, sehingga menyebabkan semakin berkurangnya produksi aspal, dan harga pun akan semakin melambung.Bila kontrak pekerjaan sudah terikat, maka harga aspal pun harus sudah tetap hingga akhir tahun. "Kalau tidak diantisipasi, saat terjadi demand yang tinggi, supply kurang harga dapat melonjak, sehingga proyek bisa tidak selesai,” kata Bambang, di Jakarta, Jumat (27/1).Selain itu, menurut Bambang, antisipasi kekurangan material dasar pembangunan jalan tersebut adalah dengan memperhitungkan potensi aspal dalam negeri. Salah satunya dengan memaksimalkan aspal yang berada di Pulau Buton atau aspal buton.Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Aspal Beton Indonesia (AABI) Benny Djutrsino menyebut, kelangkaan memang selalu terjadi setiap tahun. Menurutnya, perlu dilakukan penyebaran produksi aspal dengan menjualnya baik secara curah, drum, dan polyback. Saat ini, harga aspal sudah mencapai Rp 6.000 per kilogram.
Ketersediaan aspal defisit 2,02 juta ton
JAKARTA. Seiring adanya proyek-proyek Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengembangan Ekonomi Indonesia (MP3EI), diperkirakan ketersediaan aspal di tahun ini bakal defisit hingga 2,02 juta ton. Kepala Badan Pembinaan Konstruksi (BPK) Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Bambang Goerinto menyebut, jumlah aspal yang diproduksi hanya 930.000 ton, sedangkan kebutuhan mencapai 2,95 juta ton. Angka tersebut meningkat tajam dari kebutuhan aspal pada 2011 yang hanya 1,2 juta ton dengan kebutuhan sebesar 601.000 ton. Bambang menuturkan, untuk mengantisipasi kelangkaan aspal untuk proyek-proyek konstruksi tersebut, pihaknya akan segera membentuk perjanjian bersama Pertamina sebagai pemasok utama aspal lokal.Menurut Bambang, bila tidak ada perjanjian kerjasama, tidak akan ada kepastian pasokan aspal dari Pertamina, sehingga menyebabkan semakin berkurangnya produksi aspal, dan harga pun akan semakin melambung.Bila kontrak pekerjaan sudah terikat, maka harga aspal pun harus sudah tetap hingga akhir tahun. "Kalau tidak diantisipasi, saat terjadi demand yang tinggi, supply kurang harga dapat melonjak, sehingga proyek bisa tidak selesai,” kata Bambang, di Jakarta, Jumat (27/1).Selain itu, menurut Bambang, antisipasi kekurangan material dasar pembangunan jalan tersebut adalah dengan memperhitungkan potensi aspal dalam negeri. Salah satunya dengan memaksimalkan aspal yang berada di Pulau Buton atau aspal buton.Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Aspal Beton Indonesia (AABI) Benny Djutrsino menyebut, kelangkaan memang selalu terjadi setiap tahun. Menurutnya, perlu dilakukan penyebaran produksi aspal dengan menjualnya baik secara curah, drum, dan polyback. Saat ini, harga aspal sudah mencapai Rp 6.000 per kilogram.