KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang dipimpin Rosan Roeslani memproyeksikan realisasi investasi pada kuartal I-2026 mencapai Rp 497 triliun. Namun, pertumbuhan investasi diperkirakan hanya sekitar 7% secara tahunan, melambat dibandingkan realisasi investasi kuartal I-2025 yang mampu tumbuh 15,6%. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai perlambatan tersebut salah satunya dipengaruhi oleh faktor efek basis pertumbuhan yang tinggi pada tahun sebelumnya.
Menurutnya, pertumbuhan investasi sebesar 16% pada 2025 merupakan angka yang sangat tinggi sehingga tidak dapat dianggap sebagai baseline normal. Ketika basis pertumbuhan sudah tinggi, maka secara statistik pertumbuhan pada periode berikutnya hampir pasti terlihat melambat.
Baca Juga: Konflik Global Bayangi Investasi Kuartal I-2026, Airlangga: Ini Bukan Situasi Normal "Ini bukan sinyal fundamental bahwa investasi melemah, melainkan proses normalisasi setelah fase ekspansi yang cukup agresif," ujar Yusuf kepada Kontan.co.id, Senin (13/4/2026). Di luar faktor statistik tersebut, Yusuf mengatakan terdapat faktor yang lebih substansial yaitu meningkatnya ketidakpastian global. Saat ini, dunia tengah menghadapi fase tensi geopolitik yang meningkat, fragmentasi perdagangan, serta arah kebijakan ekonomi global yang belum sepenuhnya jelas. Kondisi tersebut membuat investor cenderung lebih berhati-hati, baik dalam memperluas proyek yang sudah berjalan maupun dalam memulai investasi baru. "Bukan berarti mereka keluar dari Indonesia, tetapi lebih menahan diri dan menunggu kejelasan," jelasnya. Ia juga melihat adanya kecenderungan investor global untuk memindahkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman. Hal ini membuat aliran modal ke negara berkembang menjadi lebih selektif.
Baca Juga: Menteri Rosan Proyeksi Realisasi Investasi Kuartal I-2026 Tembus Rp 497 Triliun Selain itu, pelemahan mata uang di berbagai negara berkembang, termasuk rupiah, turut memengaruhi perhitungan biaya dan risiko investasi bagi investor. Menurut Yusuf, fenomena perlambatan investasi ini juga tidak hanya terjadi di Indonesia. Secara regional, sejumlah negara di Asia juga mengalami perlambatan seiring dengan melemahnya perdagangan global. "Jadi Indonesia sebenarnya bergerak dalam satu siklus global yang sama, bukan menjadi pengecualian," imbuh Yusuf. Meski demikian, Yusuf menilai minat investor terhadap Indonesia secara fundamental masih cukup kuat. Hal ini didukung oleh stabilitas makroekonomi, besarnya pasar domestik, serta kebijakan hilirisasi yang masih terus berjalan.
Namun dalam situasi global yang tidak pasti, investor menjadi jauh lebih selektif dalam menentukan lokasi investasi. "Di titik ini, kelemahan struktural domestik seperti kompleksitas perizinan dan kepastian hukum menjadi lebih terasa. Dalam kondisi normal mungkin masih bisa ditoleransi, tetapi dalam kondisi penuh risiko seperti sekarang, hal tersebut bisa menjadi faktor penentu," pungkasnya.
Baca Juga: Investasi Melambat di Awal Tahun, Investor Asing Masih Wait and See Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News