KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Kalbe Farma Tbk (
KLBF) melihat prospek bisnis masih positif pada 2026 meski dibayangi berbagai ketidakpastian global.
Head External & Stakeholders Relation Kalbe Farma, Hari Nugroho mengatakan, hingga saat ini perusahaan belum menetapkan target kinerja keuangan untuk tahun ini seiring masih tingginya ketidakpastian kondisi global. “Namun sebelumnya, kami menargetkan pertumbuhan top dan
bottom line sekitar 8%–10% sebelum adanya kondisi geopolitik atau perang yang terjadi," ujar Hari kepada Kontan.co.id Senin (6/7/2026).
Dari sisi investasi, Kalbe menyiapkan belanja modal atau
capital expenditure (capex) sekitar Rp 1 triliun pada 2026. Anggaran tersebut akan digunakan untuk kebutuhan pemeliharaan fasilitas sekaligus mendukung ekspansi bisnis.
Baca Juga: Kementerian PKP Siap Rilis Laporan Berkala Program Perumahan Mulai 1 Agustus 2026 Pada tahun ini, Kalbe juga berencana meluncurkan produk baru di segmen nutrisi. Perusahaan akan berfokus pada produk minuman siap konsumsi atau
ready-to-drink (RTD) seiring perubahan preferensi konsumen. “Kami menangkap ada perubahan preferensi konsumen, termasuk pergeseran ke arah RTD, serta melemahnya daya beli yang mendorong terjadinya
downtrading pada produk susu bubuk," ungkap Hari. Di sisi lain, Kalbe menyambut positif dorongan pemerintah untuk mempercepat pengembangan industri farmasi nasional sebagai bagian dari agenda hilirisasi. Menurutnya, kebijakan tersebut sejalan dengan berbagai inisiatif yang telah berjalan, termasuk peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Saat ini perusahaan terus aktif meningkatkan kandungan lokal dan memperkuat kapasitas dalam negeri, seperti melalui segmen Medical Devices dan bahan baku obat khususnya obat berbasis biologi. Di samping itu, kapasitas produksi maupun sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki perusahaan juga dinilai berada dalam kondisi yang memadai untuk mendukung pertumbuhan industri farmasi nasional.
Baca Juga: Pakar: RUU EBT Jadi Kunci Sukses Proyek Ekspor Listrik 3,4 GW ke Singapura “Kami juga tetap terbuka terhadap berbagai peluang baru yang muncul, serta terus meningkatkan kapabilitas agar dapat memenuhi permintaan di masa mendatang secara efektif," ujarnya. Meski prospek industri dinilai tetap menarik, Kalbe mencermati masih adanya sejumlah tantangan yang perlu diatasi. Di antaranya adalah peningkatan pemahaman tenaga kesehatan terhadap produk farmasi baru serta tingginya ketergantungan industri terhadap bahan baku impor. Menurutnya, dukungan berkelanjutan terutama dalam peningkatan efisiensi regulasi dari pemerintah sangat dibutuhkan untuk mendukung pengembangan industri jangka panjang.
"Arah kebijakan ini dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih mendukung pertumbuhan. Kami secara berkelanjutan mengevaluasi berbagai peluang ekspansi, kemitraan, dan investasi, namun setiap keputusan akan tetap dilakukan secara hati-hati sesuai dengan strategi jangka panjang perusahaan," jelas Hari. Hingga kuartal I-2026, Kalbe Farma tercatat membukukan penjualan neto sebesar Rp 9,67 triliun. Angka ini lebih tinggi 10,12% dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp 8,78 triliun. Sementara laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk terpantau stagnan di angka Rp 1,02 triliun, dari laba bersih di kuartal I-2025 senilai Rp 1,07 triliun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News