Ketidakpastian Kebijakan, Maybank Pangkas Target Saham Emiten Poultry JPFA dan CPIN



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Maybank Sekuritas Indonesia menurunkan outlook sektor unggas menjadi neutral dari positif. Ini seiring meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan konfigurasi biaya serta pasokan yang dinilai semakin kurang mendukung. 

Sejalan dengan itu, rekomendasi saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) diturunkan menjadi hold.

Analis Maybank Sekuritas Indonesia Paulina Margareta dalam riset pada 9 Februari 2026 menyebutkan bahwa target harga saham CPIN dan saham JPFA juga direvisi turun masing-masing menjadi Rp 4.800 dan Rp 2.600. Target harga tersebut mencerminkan valuasi PER CPIN di 15,3x tahun 2026 dan PER JPFA di 7,5x di 2026. Valuasi ini lebih rendah dibandingkan asumsi sebelumnya sebesar 23,4x dan 8,2x.


Baca Juga: BEI Suspensi Saham Indointernet (EDGE) Imbas Rencana Go Private dan Delisting

“Penurunan ini mencerminkan meningkatnya risiko kelebihan pasokan ayam pedaging akibat kuota Grand Parent Stock (GPS) yang lebih besar, serta risiko inflasi biaya pakan dari perubahan mekanisme impor soybean meal,” tulis Paulina.

Menurut Paulina, meskipun pertumbuhan volume masih berpotensi tetap kuat, didukung oleh program Food Management Program (FMP) andalan serta ekspansi produk konsumen hilir, risiko dalam jangka pendek hingga menengah kini dinilai lebih besar dibandingkan faktor positifnya.

Salah satu tekanan utama berasal dari rencana pemerintah untuk memusatkan impor soybean meal (SBM) mulai April 2026 atau sekitar kuartal II 2026. Dalam kebijakan baru tersebut, pelaksanaan impor SBM akan dialihkan dari perusahaan swasta ke BUMN PT Berdikari, dan berlaku bagi seluruh pelaku industri unggas serta pedagang/distributor SBM.

Berdasarkan penelusuran kanal distribusi (channel check) Maybank, Berdikari diperkirakan akan lebih banyak mengimpor SBM dari Amerika Serikat yang memiliki kualitas lebih baik, namun dengan harga yang relatif lebih mahal. “Selama ini, pelaku unggas cenderung mengimpor SBM dari Amerika Latin seperti Argentina dan Brasil, yang harganya sekitar 10% lebih murah dibandingkan SBM asal AS,” jelas Paulina.

Perbedaan harga tersebut, ditambah potensi biaya lain seperti transportasi dan biaya jasa, berisiko menekan margin industri unggas. Hal ini menjadi signifikan mengingat SBM menyumbang sekitar 20%–25% dari total bahan baku pakan.

Selain itu, risiko terhadap harga ayam hidup (livebird) juga meningkat akibat potensi oversupply dalam satu–dua tahun ke depan. Paulina mengungkapkan bahwa kuota impor GPS tahun 2026 dinaikkan menjadi 800.000 ekor, dari sekitar 580.000 ekor pada 2025. Tambahan kuota tersebut terutama dialokasikan kepada pemain skala kecil dan BUMN yang ditugaskan mendukung proyek ekspansi unggas terintegrasi pemerintah.

Baca Juga: Laba Bersih Naik, Analis Kerek Target Saham Bank Mandiri (BMRI)

“Pemain besar seperti CPIN dan JPFA tidak memperoleh peningkatan kuota GPS yang signifikan. Namun, dinamika pasokan tetap berisiko menekan harga jika ekspansi pemain lain terealisasi sesuai rencana,” pungkas Paulina, seraya menambahkan bahwa dampaknya akan sangat bergantung pada kecepatan eksekusi penambahan kapasitas di industri.

Selanjutnya: Hari Besar Setiap 11 Februari: Ada Hari Perempuan dan Anak Perempuan dalam Sains

Menarik Dibaca: Promo Indomaret Harga Spesial 10-23 Februari 2026, Sosis Ayam-Deodoran Diskon 30%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News