Ketidakpastian Perekonomian Turut Pengaruhi Kinerja Pembiayaan Industri LKM



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketidakpastian perekonomian yang terjadi pada awal tahun ini turut memengaruhi kinerja penyaluran pembiayaan industri Lembaga Keuangan Mikro (LKM).

Asal tahu saja, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, penyaluran pembiayaan LKM per Maret 2026 mencapai Rp 1 triliun. Nilainya mengalami kontraksi sebesar 5,66%, dibandingkan pencapaian per Maret 2025 yang sebesar 1,06 triliun.

Asosiasi Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dan Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) Indonesia (Aslindo) menilai penurunan kinerja penyaluran pinjaman industri tak terlepas dari faktor kondisi ketidakpastian perekonomian.


Baca Juga: KB Bank Jalin Kerja Sama Distributor Financing dengan PT ECS Indo Jaya

"Terjadi penurunan karena kondisi ekonomi tidak sebaik tahun kemarin, sehingga pemberian kredit dilakukan ekstra hati-hati dan lebih selektif. Selain itu, banyak nasabah yang lunas dan tidak pinjam lagi," ujar Ketua Umum Aslindo Burhan kepada Kontan, Rabu (13/5/2026).

Burhan menambahkan, penyaluran pinjaman yang menurun juga dipengaruhi adanya momentum Ramadan dan Lebaran. Dia menjelaskan pada momentum Ramadan, ekspansi pinjaman ditingkatkan, tetapi menjelang Lebaran penyaluran pinjaman dibatasi. 

"Sebab, dana yang ada dicadangkan untuk persediaan penarikan tabungan, secara otomatis terjadi penurunan," ucap Burhan.

Meski mengalami kontraksi, Burhan optimistis kinerja penyaluran pinjaman bisa bertumbuh hingga akhir tahun ini. Sebab, dia bilang Aslindo juga berupaya berkolaborasi dengan berbagai lembaga untuk terus mendorong dalam penguatan sumber daya manusia dan tata kelola, serta masih berupaya untuk penguatan modal. 

Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Badan Kredit Desa (BKD) Kabupaten Pekalongan juga menyebut ketidakpastian ekonomi turut berdampak signifikan terhadap kinerja penyaluran pembiayaan. Adapun kinerja penyaluran pembiayaan LKM BKD Kabupaten Pekalongan turun secara signifikaan sebesar 28,2% per Maret 2026, jika dibandingkan posisi periode yang sama tahun lalu.

Direktur Utama LKM BKD Kabupaten Pekalongan Hary Budhi Murdiyanto mengatakan kondisi tersebut membuat banyak nasabah yang peformanya bagus memilih untuk berhenti dan menunda mengajukan pembiayaan.

"Sebab, ada sikap kehati-hatian juga dari pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di tempat kami," katanya kepada Kontan, Kamis (14/5).

Baca Juga: Asuransi Jagadiri Perkuat Strategi Pertumbuhan

Dalam hal itu, Hary juga menerangkan LKM BKD Kabupaten Pekalongan sangat berhati-hati sekali dalam menyalurkan pembiayaan, karena kurang stabilnya ekonomi di pasar.

Lebih lanjut, Hary berharap ketidakpastian ekonomi bisa segera membaik sehingga bisa memberikan dampak positif juga terhadap kinerja pembiayaan. Dia tak memungkiri bahwa LKM BKD Kabupaten Pekalongan masih menerapkan prinsip kehati-hatian sejauh ini dalam menyalurkan pembiayaan.

"Hal itu dilakukan untuk menghindari adanya gagal bayar dari nasabah," ucap Hary.

Sementara itu, Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Badan Kredit Desa (BKD) Ponorogo juga merasakan dampak ketidakpastian ekonomi pada awal tahun ini.

Meski merasakan dampaknya, Direktur Utama LKM BKD Ponorogo Mego mengatakan penyaluran pembiayaan masih tumbuh tipis 0,18% secara Year on Year (YoY), dengan nilai mencapai Rp 56,59 miliar per Maret 2026. 

Mego menjelaskan dampak ketidakpastian perekonomian membuat pihaknya lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan.

"Sangat merasakan dampak ketidakpastian ekonomi, angsuran debitur lebih sulit dan sering terlambat. Dengan demikian, penyaluran pembiayaan lebih hati-hati dan selektif pada tahun ini," ujarnya kepada Kontan.

Baca Juga: Pembiayaan Syariah Pegadaian Tumbuh 16% pada Kuartal I-2026

Meski menghadapi tantangan, Mego memproyeksikan penyaluran pembiayaan LKM BKD Ponorogo dapat tumbuh 10%, jika dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya. Untuk mencapai angka tersebut, dia bilang LKM BKD Ponorogo akan menerapkan sejumlah upaya.

Upayanya, yakni meningkatkan pemasaran, lebih ekspansi di kantor cabang baru, dan melakukan penyelesaian pinjaman bermasalah yang lebih intensif. Selain itu, pihaknya juga bekerja sama dengan pihak ketiga tentang credit scoring.

Lebih lanjut, Mego tak memungkiri pihaknya juga mewaspadai sejumlah faktor yang bisa memengaruhi kinerja pembiayaan pada tahun ini. Dia menerangkan salah satunya adalah faktor kenaikan Non Performing Loan (NPL), serta penerapan regulasi LKM baru dari OJK yang lebih ketat. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News