Ketika minyak sawit menjadi incaran



JAKARTA. Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) terus melaju. Di akhir pekan lalu (8/10), harga CPO untuk kontrak pengiriman Desember 2010 di Bursa Derivatif Malaysia sempat menyentuh US$ 904,75 per ton. Ini level tertinggi dalam lebih dua tahun terakhir. Namun, akhirnya harga CPO ditutup di US$ 887,03 per ton.

Memasuki semester kedua 2010, harga hasil olahan kelapa sawit ini memang terus naik. Harga paling rendah terjadi pada 7 Juli 2010 di US$ 689,75 per ton.

Sejumlah analis menilai, kenaikan harga CPO ini akan menguntungkan emiten CPO. Pasalnya, tahun ini produksi kelapa sawit diperkirakan bakal turun menyusul cuaca ekstrem yang terus terjadi.


Analis Syailendra Capital Lanang Trihardian memperkirakan, permintaan terhadap CPO akan tetap tinggi hingga akhir tahun. Sementara produksi bakal berkurang akibat ancaman hujan dan banjir. Ia meramal, tahun ini harga rata-rata CPO bisa mencapai US$ 750-US$ 850 per ton. "Emiten CPO akan tertolong dengan harga jual yang lebih tinggi ketimbang tahun lalu," ujar Lanang Trihardian.

Analis Sucorinvest Central Gani Frederick Daniel Tanggela menilai, harga saham-saham emiten berbasis CPO masih berpeluang naik seiring membaiknya kinerja keuangan mereka. Namun, ia juga mengingatkan, sejumlah emiten bakal mengalami penurunan produksi.

Contohnya, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI). Akibat usia tanaman AALI sudah mulai menua, produksinya akan berkurang. Hal itu sudah terlihat di semester pertama tahun ini. Anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) itu hanya mampu memproduksi CPO 470.993 ton, menyusut 5,7% dibandingkan periode sama tahun lalu.

Alhasil, volume penjualan CPO AALI hanya 477.639 ton atau turun 3,3% dari periode saham setahun lalu sebanyak 494.018 ton. Untungnya, penurunan volume penjualan itu diimbangi dengan kenaikan harga jual rata-rata CPO.

Harga jual rata-rata CPO AALI meningkat 3,2% menjadi Rp 6.590 per kg. Pantas saja, kenaikan harga CPO ini memicu AALI untuk mencapai target produksi tahun ini, yang sebanyak 1,2 juta ton. Artinya, dalam enam bulan terakhir 2010, AALI harus memproduksi 729.007 ton atau 60,75% dari total target.

Harga naik rata-rata 8% per tahun

Selain AALI, emiten lain yang mengalami masalah produksi adalah PT BW Plantation Tbk (BWPT). Selama semester I-2010, volume produksi CPO BWPT turun 16,56% dari 46.339 ton di semester I-2009 menjadi 38.663 ton. Akibatnya, volume penjualan CPO perusahaan ini hanya 39.438 ton, turun 16,8% ketimbang akhir Juni 2009, sebesar 47.426 ton.

Adapun PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) berusaha mewujudkan target produksi CPO tahun ini sebanyak 290.400 ton. "Kami sudah melakukan banyak antisipasi terhadap faktor cuaca yang ekstrem ini," ujar Kepala Hubungan Investor SGRO Michael Kusuma, akhir pekan lalu.

Analis Mandiri Sekuritas Heriyanto Wijaya menilai, SGRO cukup produktif lantaran lahan yang telah tertanami di Sumatra Selatan bertambah 4,9% dalam setahun.

Produktivitas tandan buah segar (TBS) juga bertambah karena SGRO memperbaiki manajemen lahannya. “Mereka mengembangkan drainase yang lebih baik untuk memudahkan panen buah,” ujarnya.

Frederick memperkirakan, dalam lima tahun ke depan, harga CPO akan mengalami kenaikan rata-rata sekitar 8% per tahun. Imbasnya, kinerja emiten berbasis CPO di bursa juga bakal semakin yahud. Apalagi sejumlah emiten terus berusaha melakukan peremajaan pohon sawit dan menambah luas areal perkebunan.

Para analis saham menilai sebagian saham CPO masih layak koleksi seiring kenaikan harga CPO. Namun, Frederick memperkirakan, penguatan rupiah yang signifikan akan menyebabkan harga jual rata-rata CPO tahun ini akan menciut. "Banyak transaksi CPO dalam dollar AS," katanya. n

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie