JAKARTA. Bank Central Asia (BCA) tidak ingin jor-joran dalam menyalurkan kredit berbasis valuta asing (valas). Menurut Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA, kredit valas lebih berisiko dibanding kredit bernilai rupiah. "Jadi, kami membatasi diri dan lebih banyak salurkan kredit rupiah," terang Jahja, Selasa (25/2). Dia menegaskan, selama ini permintaan kredit valas tergolong tinggi dan likuditas valas BCA terbilang cukup. Jahja bilang, selama ini BCA membatasi penyaluran kredit valas pada kisaran US$ 1,4 miliar - US$ 1,8 miliar. Tahun ini, BCA menargetkan pertumbuhan penyaluran kredit pada kisaran 13%-15%.
Ketimbang valas, BCA lebih suka beri kredit rupiah
JAKARTA. Bank Central Asia (BCA) tidak ingin jor-joran dalam menyalurkan kredit berbasis valuta asing (valas). Menurut Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA, kredit valas lebih berisiko dibanding kredit bernilai rupiah. "Jadi, kami membatasi diri dan lebih banyak salurkan kredit rupiah," terang Jahja, Selasa (25/2). Dia menegaskan, selama ini permintaan kredit valas tergolong tinggi dan likuditas valas BCA terbilang cukup. Jahja bilang, selama ini BCA membatasi penyaluran kredit valas pada kisaran US$ 1,4 miliar - US$ 1,8 miliar. Tahun ini, BCA menargetkan pertumbuhan penyaluran kredit pada kisaran 13%-15%.