Ketua Oposisi Taiwan Berkunjung ke China Jelang Kunjungan Trump



KONTAN.CO.ID - BEIJING/TAIPEI. Ketua partai oposisi utama Taiwan, Kuomintang (KMT), Cheng Li-wun, dijadwalkan melakukan kunjungan ke China pada 7–12 April 2026.

Lawatan ini berlangsung di tengah meningkatnya dinamika hubungan lintas Selat Taiwan, sekaligus hanya berselang sekitar satu bulan sebelum rencana kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald (AS) Trump ke Beijing.

Kunjungan Cheng dilakukan atas undangan Presiden China Xi Jinping. Dalam pernyataannya, KMT menyebut Cheng menerima undangan tersebut dengan antusias dan berharap lawatan ini membuka babak baru hubungan antara Taiwan dan China.


“Kami berharap kunjungan ini menjadi awal ‘musim semi baru’ hubungan kedua pihak dan langkah pertama untuk membangun kepercayaan,” ujar Cheng.

Baca Juga: China Kerahkan Kapal dan Jet Tempur, Gelar Latihan Perang di Sekitar Taiwan

Selama di China, Cheng dijadwalkan mengunjungi Beijing, Shanghai, dan Provinsi Jiangsu, menurut kantor berita pemerintah China, Xinhua.

Langkah Cheng ini menegaskan arah baru KMT yang dinilai semakin condong mempererat hubungan dengan Beijing. Cheng, yang terpilih sebagai ketua KMT pada Oktober lalu, bahkan disebut ingin melanjutkan pendekatan yang lebih intens dibanding pendahulunya, Eric Chu, yang tidak pernah berkunjung ke China selama menjabat sejak 2021.

Di sisi lain, pemerintah China masih menolak berkomunikasi dengan Presiden Taiwan Lai Ching-te dari Partai Progresif Demokratik (DPP), yang oleh Beijing dianggap sebagai “separatis”. Meski begitu, China tetap membuka pintu bagi tokoh-tokoh senior KMT.

Dari kubu pemerintah Taiwan, kritik langsung disampaikan. Sekretaris Jenderal DPP, Hsu Kuo-yung, meminta Cheng menyampaikan posisi tegas Taiwan kepada Beijing.

Baca Juga: Laba Industri China Naik 21,6% di September, Sinyal Pemulihan Ekonomi Mulai Terlihat

Ia menekankan bahwa Taiwan adalah negara berdaulat dan rakyatnya memilih pemimpin sendiri, sembari menyindir sistem politik China yang tidak melalui pemilihan langsung presiden.

Kunjungan ini juga terjadi di tengah ketegangan politik domestik Taiwan terkait anggaran pertahanan. Pemerintahan Lai tengah berupaya meloloskan tambahan anggaran militer sebesar US$40 miliar di parlemen yang dikuasai oposisi.

KMT menyatakan mendukung penguatan pertahanan Taiwan, namun menolak memberikan “cek kosong” dan meminta rincian lebih lanjut dari pemerintah.

Sementara itu, rencana kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China pada pertengahan Mei turut menjadi sorotan.

Agenda tersebut sebelumnya ditunda dari awal April akibat konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, dan hingga kini belum dikonfirmasi secara resmi oleh pihak China.

Secara historis, hubungan China dan Taiwan masih dibayangi konflik lama.

Baca Juga: AS Tunda Sejumlah Pembatasan Teknologi terhadap China Jelang Pertemuan Trump–Xi

Pemerintahan Republik China yang dipimpin KMT melarikan diri ke Taiwan pada 1949 setelah kalah perang saudara dari komunis pimpinan Mao Zedong. Hingga kini, kedua pihak belum pernah menandatangani perjanjian damai dan tidak saling mengakui secara resmi.

Namun, momen pertemuan penting sempat terjadi pada 2015, ketika Presiden Taiwan saat itu, Ma Ying-jeou, bertemu Xi Jinping di Singapura—menjadi tonggak langka dalam hubungan kedua pihak.