Keuntungan ganda saat dollar AS perkasa



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saat nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS) terus menguat, reksadana dollar dengan aset dasar saham-saham global akan diuntungkan. Salah satunya adalah produk reksadana Schroder Global Syariah Equity Fund.

Produk besutan Schroder Investment Management ini telah meluncur sejak Februari 2016. Secara year to date, reksadana ini telah memberikan imbal hasil 12,38%. 

Senior Vice President Intermediary Business Schroder Investment Management Indonesia Adrian Maulana menjelaskan, aset terbesar reksadana ini adalah saham-saham di pasar global. Misalnya saham Apple Inc. dan Intel Corp. di Nasdaq. Lalu ada saham IBM dan Johnson & Johnson di New York Stock Exchange (NYSE). 


Ada pula perusahaan kamera Canon Inc di bursa saham Tokyo dan Tencent Holdings Ltd di bursa saham Hongkong. Semua mengisi portofolio reksadana ini.

Saham teknologi mendominasi portofolio reksadana ini. Schroder menganggap sektor ini mencetak pertumbuhan positif. Apalagi Schroder diuntungkan oleh riset global yang kuat. "Kami bisa berkerja sama dengan fund manager di luar negeri untuk membuat evaluasi dan analisa saham-saham tersebut secara langsung," jelas Adrian kepada KONTAN.

Menurut dia, kelebihan dari produk reksadana ini tidak hanya pada diversifikasi saham. Bila dollar AS menguat terhadap mata uang dunia, reksadana ini untung. Walau tidak memberi target return, Adrian yakin kinerja produk reksadana ini akan melampaui reksadana konvensional dan juga indeks saham Indonesia.

Anda yang berminat memiliki reksadana ini perlu menyiapkan modal awal minimal US$ 10.000. Sedangkan pembelian berikutnya senilai US$ 1.000. Investor bakal dikutip biaya pembelian sebesar 2,5% dan biaya penjualan kembali dan biaya switching sebesar 1%.

Nilai aktiva bersih reksadana ini per 31 Oktober 2017 sebesar US$ 1,18 per unit penyertaan. Sedangkan dana kelolaannya telah mencapai Rp 700 miliar.

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana melihat, Schroder Global Syariah Equity Fund bisa mencetak kinerja gemilang di atas rata-rata reksadana saham karena ditopang pemilihan saham yang tepat di sektor teknologi. Saat dollar AS kuat, investor berkesempatan mendapat keuntungan bila menjual reksadana dan melakukan konversi ke rupiah.

Namun minimal investasi yang sangat besar membuat reksadana ini hanya dibeli oleh investor institusi, seperti asuransi berbasis dollar. "Untuk individual, angka modal awalnya relatif besar, dan sasarannya pasti kelas middle up," jelas Wawan.

Wawan melihat, prospek  kinerja reksadana ini akan stabil dan terus mendaki. Untuk melihat potensinya, ia menyarankan investor terus memantau berita global dan fundamental tiap emiten.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati