Keuntungan SingTel Menurun 8%



SINGAPURA. Operator telekomunikasi raksasa di Asia Tenggara, Singapore Telecommunication Ltd membukukan penurunan keuntungan di kuartal III yang berakhir Desember lalu. Perusahaan yang dikenal dengan nama SingTel ini membukukan penurunan laba 8,3% dibandingkan setahun sebelumnya menjadi S$ 872 miliar (US$ 669 miliar).SingTel menyebutkan, menanggung beban sekitar S$ 67 juta untuk membayar biaya restrukturisasi pekerja di Australia dan depresiasi kurs ketika melakukan transformasi teknologi di anak usahanya, Globe di Filipina. Tanpa rugi kurs dan beban ekstra, laba SingTel hanya turun 2%.Secara garis besar, ada tiga unit bisnis penopang SingTel. Dua pendapatan terbesar berasal dari Singapura dan Optus Australia. Sisanya "donasi" kelompok operator regional yang terdiri dari Telkomsel Indonesia, AIS Thailand, Airtel India serta Globe Filipina. Secara keseluruhan, pendapatan Grup SingTel turun 5,7% menjadi S$ 4,6 miliar.Telkomsel andalanDari laporan keuangan, bisnis Singapura mencatat kenaikan pendapatan dan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, amortisasi (EBITDA) masing-masing 1% menjadi S$ 1,7 miliar dan S$ 531 juta. Pendapatan Optus turun A$ 2,28 miliar dengan EBITDA naik 3% menjadi A$ 576 juta. Optus menghadapi persaingan ketat di Australia. Rivalnya, Telstra Corp juga menawarkan layanan 4G. "Pertumbuhan pendapatan industri telekomunikasi di Australia telah memasuki masa negatif," kata Kevin Russel, Presiden Direktur Optus.Kelompok regional mencatat kenaikan laba sebelum pajak 11%. Penopangnya adalah bisnis di Indonesia dan Thailand. Namun, pelemahan rupiah dan baht menjadikan kontribusi ke SingTel hanya naik 1,2%.Dari kelompok regional, Telkomsel menyumbang pendapatan terbesar. "Dalam koridor dollar Singapura, laba sebelum pajak berdasarkan kepemilikan grup, naik 11% menjadi S$ 250 juta," tulis pernyataan resmi SingTel.Saham SingTel di bursa Singapura turun 1,9%, terbesar sejak tahun lalu. Namun manajemen yakin, EBITDA tetap stabil. "Kinerja perusahaan menunjukkan kekuatan dari inti bisnis," kata CEO SingTel, Chua Sock Koong, SingTel kini menjangkau 20 negara di Asia dan Afrika dengan jumlah pelanggan 473 juta. Bulan lalu perusahaan setuju menjual 30% kepemilikan Warid Telecom ke Warid Telecom Pakistan senilai US$ 150 juta. Januari lalu, perusahaan ini mendapatkan lisensi memasuki pasar Myanmar.


Editor: Sanny Cicilia