KONTAN.CO.ID - Senat Amerika Serikat (AS) resmi menyetujui Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed) yang baru pada Rabu (13/5/2026). Warsh akan memimpin bank sentral AS di tengah tekanan inflasi yang semakin tinggi dan perdebatan mengenai arah kebijakan suku bunga ke depan. Melansir
Reuters, persetujuan diberikan melalui voting Senat dengan hasil 54 suara mendukung dan 45 menolak.
Baca Juga: Cisco PHK 4.000 Karyawan di Tengah Fokus Besar ke Bisnis AI Voting tersebut tercatat sebagai proses konfirmasi Ketua The Fed paling partisan dalam sejarah AS. Hanya satu senator Partai Demokrat, John Fetterman, yang mendukung mayoritas Partai Republik. Warsh yang berusia 56 tahun akan menggantikan Jerome Powell, yang masa jabatannya sebagai Ketua The Fed berakhir pada Jumat mendatang. Meski demikian, Powell tetap akan menjabat sebagai gubernur The Fed. Pelantikan resmi Warsh tinggal menunggu penandatanganan dokumen akhir oleh Presiden AS Donald Trump yang saat ini tengah berada di China untuk bertemu Presiden Xi Jinping.
Baca Juga: Perang Iran Bayangi Kunjungan Trump ke China, Peta Aliansi Timur Tengah Bergeser Gedung Putih menyebut Trump ingin segera menyelesaikan proses tersebut guna “mengembalikan kepercayaan terhadap pengambilan keputusan The Fed”. Warsh diperkirakan sudah akan memimpin rapat Federal Open Market Committee (FOMC) berikutnya pada 16-17 Juni mendatang. Ia masuk ke dalam lingkungan The Fed yang tengah terbelah mengenai arah suku bunga. Sebagian pejabat The Fed kini mulai mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga, berlawanan dengan keinginan Trump yang selama ini mendesak penurunan suku bunga. Tekanan inflasi di AS memang terus meningkat. Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan indeks harga produsen (PPI) melonjak 6% pada April dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi kenaikan tercepat sejak Desember 2022.
Baca Juga: Harga Emas Turun Dua Hari Beruntun Rabu (13/5), Khawatir Suku Bunga AS Tetap Tinggi Sementara itu, inflasi berbasis Personal Consumption Expenditures (PCE) diperkirakan naik 3,8% pada April, jauh di atas target The Fed sebesar 2%. Data inflasi konsumen yang dirilis sehari sebelumnya juga menunjukkan kenaikan harga konsumen tercepat dalam tiga tahun terakhir. Kondisi tersebut membuat pasar keuangan kini memperkirakan tidak akan ada penurunan suku bunga tahun ini. Bahkan, pasar mulai membuka peluang kenaikan suku bunga pada awal tahun depan. Dalam rapat Juni mendatang, The Fed juga dijadwalkan merilis proyeksi terbaru jalur suku bunga. Proyeksi pemangkasan suku bunga satu kali pada Maret lalu kini dinilai sudah tidak relevan. Selain tantangan ekonomi, Warsh juga menghadapi sorotan terkait independensi The Fed dari pengaruh politik Gedung Putih. Beberapa senator Demokrat mengaku khawatir Warsh tidak dapat sepenuhnya independen menghadapi tekanan Trump terhadap bank sentral.
Baca Juga: Beijing Kecewa Berat! Eropa Mau Batasi Investasi, China Ancam ‘Tutup Pintu’ Senator Virginia Mark Warner mengatakan, dirinya khawatir Warsh akan kesulitan mempertahankan independensi The Fed. “Saya berharap dia bisa membuktikan kekhawatiran itu salah dan tetap menempatkan stabilitas ekonomi jangka panjang di atas kepentingan politik,” ujar Warner. Menteri Keuangan AS Scott Bessent justru menyambut positif kepemimpinan Warsh dan menyebut The Fed membutuhkan akuntabilitas serta arah kebijakan baru. Sebelumnya, Trump kerap mengkritik kebijakan Jerome Powell dan mendesak The Fed memangkas suku bunga lebih agresif untuk menopang ekonomi AS.