KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) mengindikasikan keyakinan konsumen tetap terjaga pada Januari 2026. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Januari 2026 yang berada pada level optimis (indeks >100) sebesar 127,0, lebih tinggi dibandingkan indeks bulan sebelumnya sebesar 123,5. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, kenaikan IKK Januari 2026 ke 127,0 terjadi karena konsumen menilai kondisi ekonomi saat ini terasa lebih baik dan pandangan ke depan juga lebih optimistis.
Baca Juga: Sengketa Hotel Sultan Memanas, Indobuildco Tolak Kosongkan Lahan Meski Ada Aanmaning Sebagaimana diketahui, meningkatnya keyakinan konsumen pada Januari 2026 ditopang oleh peningkatan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang masing-masing tercatat sebesar 115,1 dan 138,8. “Dari sisi kondisi saat ini, indeksnya naik karena persepsi terhadap penghasilan saat ini membaik, kesempatan kerja terasa lebih tersedia, dan niat membeli barang tahan lama ikut menguat,” tutur Josua kepada Kontan, Senin (9/2/2026). Josua melihat, dari sisi pandangan ke depan, konsumen makin yakin penghasilan dan kegiatan usaha enam bulan ke depan membaik, sementara ekspektasi ketersediaan kerja relatif stabil. Kenaikan ini juga cukup merata dimana terjadi di hampir semua kelompok pengeluaran dan banyak kota, dengan kelompok usia 20–30 tahun menjadi yang paling optimistis. Selanjutnya, apabila dilihat dari dampaknya bagi ekonomi, Josua menilai IKK yang berada jauh di atas 100 memberi sinyal permintaan domestik masih kuat, yang mana rumah tangga cenderung lebih berani berbelanja dan aktivitas usaha biasanya ikut terbantu karena pelaku usaha menangkap sinyal pasar yang lebih ramai. Akan tetapi, yang menarik perhatiannya adalah pada Januari 2026 porsi pendapatan untuk konsumsi justru turun, porsi menabung naik, dan porsi cicilan relatif stabil. Pada Januari 2026, rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi (
average propensity to consume ratio) tercatat sebesar 72,3%, lebih rendah dibandingkan dengan proporsi pada bulan sebelumnya, yaitu sebesar 74,3%.
Baca Juga: Izin Dicabut, Pemerintah Bahas Nasib Tambang Emas Martabe dengan Agincourt Sementara itu, proporsi pembayaran cicilan/utang (
debt installment to income ratio) sebesar 11,2%, relatif stabil dibandingkan proporsi pada bulan sebelumnya sebesar 10,8%. Lebih lanjut, proporsi pendapatan konsumen yang disimpan (
saving to income ratio) sebesar 16,5%, lebih tinggi dibandingkan proporsi pada bulan sebelumnya, yaitu sebesar 14,9% “Artinya, kepercayaan membaik, tetapi sebagian rumah tangga masih memilih memperkuat cadangan keuangan. Dalam praktiknya, ini bisa membuat konsumsi tetap tumbuh, tetapi kenaikannya tidak selalu seagresif kenaikan indeks keyakinan,” ungkapnya. Ke depannya, Josua memperkirakan, perkembangan IKK dapat bergerak dinamis karena dipengaruhi daya beli dan inflasi, kondisi lapangan kerja, suku bunga dan biaya cicilan, serta sentimen global yang mempengaruhi kurs dan harga barang impor. Ia memperkirakan, apabila inflasi terjaga, kesempatan kerja membaik, dan pendapatan riil rumah tangga meningkat, IKK berpeluang bertahan tinggi.
“Tetapi bila harga-harga kembali menekan daya beli atau ketidakpastian global meningkat, konsumen biasanya cepat menjadi lebih hati-hati sehingga indeks dapat menurun walau tetap berada di zona optimistis,” tandas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News