KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) mengindikasikan keyakinan konsumen turun pada Februari 2026. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) mencapai 125,2, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 127,0. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, penurunan keyakinan konsumen pada Februari 2026 lebih mencerminkan meningkatnya kehati-hatian rumah tangga terhadap pelemahan ekonomi yang mendadak. Survei Bank Indonesia menunjukkan indeks keyakinan konsumen turun menjadi 125,2 dari 127,0, dan ekspektasi terhadap enam bulan ke depan juga turun menjadi 134,4 dari 138,8. Namun di saat yang sama, penilaian terhadap kondisi saat ini justru membaik menjadi 115,9.
Baca Juga: Gejolak Timur Tengah Hantam Industri Nasional, Pengusaha Ungkap Dampak & Mitigasinya “Artinya, masyarakat masih menilai keadaan sekarang relatif baik, tetapi mulai lebih waspada terhadap prospek ke depan,” tutur Josua kepada Kontan, Senin (9/3/2026). Ia menilai, kondisi inflasi yang tinggi juga menjadi salah satu penyebab penting, terutama karena inflasi Februari naik menjadi 4,76%, didorong oleh kenaikan pada kelompok perumahan, listrik dan bahan bakar rumah tangga, makanan minuman dan tembakau, serta perawatan pribadi. Kenaikan inflasi ini juga diperkuat oleh pengaruh pembanding rendah dari diskon tarif listrik tahun lalu dan dorongan permintaan menjelang Ramadan yang tahun ini datang lebih awal. Meski demikian, ia menilai penyebabnya bukan inflasi saja. Data juga menunjukkan porsi pendapatan yang dibelanjakan turun dari 72,3% menjadi 71,6%, sedangkan porsi tabungan naik dari 16,5% menjadi 17,7%. “Ini menandakan rumah tangga mulai menahan belanja dan memilih lebih berjaga-jaga terhadap harga, pendapatan, dan kondisi ekonomi beberapa bulan ke depan,” ungkapnya. Adapun adanya THR Lebaran dinilai akan sangat membantu menjaga daya beli, tetapi dampaknya lebih sebagai penyangga dan pendorong sementara, atau belum tentu cukup untuk membalikkan kehati-hatian konsumen secara penuh. Josua membeberkan, THR biasanya mendorong belanja makanan, pakaian, transportasi, perjalanan mudik, dan sebagian pembayaran kewajiban rumah tangga, sehingga konsumsi rumah tangga pada masa Ramadan dan Lebaran kemungkinan tetap menguat. “Namun karena masyarakat sedang lebih berhati-hati, tidak semua THR akan langsung dibelanjakan; sebagian kemungkinan disimpan atau dipakai mengurangi beban cicilan,” jelasnya. Karena itu, Josua memperkirakan, konsumsi ke depan diperkirakan masih tumbuh, tetapi polanya lebih selektif, menguat dalam jangka pendek saat Ramadan dan Lebaran, lalu kembali lebih normal setelahnya.
Lebih lanjut, ia menilai arah konsumsi selanjutnya akan sangat ditentukan oleh apakah inflasi pangan dan energi bisa kembali terkendali, apakah lapangan kerja terus membaik, dan apakah pendapatan riil rumah tangga bisa pulih.
Baca Juga: Purbaya Pastikan Anggaran MBG Tak Dipangkas, Tapi Belanja Tak Terkait Makanan Dicoret “Bila tekanan harga mulai mereda, maka keyakinan konsumen dan konsumsi berpeluang menguat lagi pada semester berikutnya,” tandasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News