KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi kembali melemah pada Juni 2026. Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun menjadi 117,8 dari 120,9 pada Mei 2026. Meski menurun, posisi indeks masih berada di atas level 100 yang menandakan konsumen tetap optimistis. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan, keyakinan konsumen masih ditopang oleh persepsi positif terhadap kondisi ekonomi saat ini serta ekspektasi terhadap perekonomian ke depan.
Namun, pelemahan IKK terjadi seiring turunnya dua komponen pembentuknya. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) turun menjadi 109,2 dari 112,2 pada Mei, sementara Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) turun menjadi 126,4 dari 129,7.
Baca Juga: Keyakinan Konsumen Turun ke 117,8, Ekonom: Alarm bagi Daya Beli Masyarakat Meski demikian, IKE masih berada di zona optimistis. Hal itu tercermin dari Indeks Penghasilan Saat Ini sebesar 119,8, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja 101,8, dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama 105,9. Kendati begitu, seluruh indikator tersebut lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Ekonom Bank Tabungan Negara (BTN), Myrdal Gunarto, menilai penurunan keyakinan konsumen menjadi sinyal bahwa tekanan ekonomi global kini mulai dirasakan langsung oleh rumah tangga, bukan hanya pelaku usaha. "Sebelumnya yang menanggung tekanan eksternal itu produsen, sekarang terasa di sisi konsumen," ujar Myrdal, Rabu (8/7/2026). Menurut Myrdal, kondisi tersebut menjadi alarm bagi daya beli masyarakat. Hal ini terlihat dari semakin kecilnya porsi pendapatan yang disisihkan sebagai tabungan. Data Survei BI menunjukkan rasio pendapatan yang ditabung turun menjadi 17% pada Juni 2026 dari 17,5% pada Mei. Sebaliknya, porsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi naik menjadi 73% dari 72,3%, sedangkan alokasi untuk membayar cicilan tetap sekitar 10%.
Baca Juga: YLKI: Kenaikan Ongkir E-Commerce Berpotensi Tekan Daya Beli Konsumen Ia juga menilai melemahnya kemampuan masyarakat membeli barang tahan lama serta semakin sulitnya memperoleh pekerjaan menunjukkan tekanan terhadap kondisi keuangan rumah tangga semakin nyata. Karena itu, Myrdal menyarankan pemerintah mempertahankan kebijakan yang bersifat defensif dengan menyalurkan stimulus kepada masyarakat berpendapatan rendah dan melanjutkan program bantuan sosial untuk menjaga konsumsi domestik. Di sisi fiskal, pemerintah juga dinilai perlu tetap melakukan efisiensi belanja pada program yang belum menjadi prioritas, terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan kenaikan harga minyak dunia akibat memanasnya tensi geopolitik. Sementara itu, BI diharapkan tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar, tetapi tetap berhati-hati dalam menentukan arah suku bunga agar tidak menambah tekanan terhadap sektor riil dan industri perbankan. Senada, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pelemahan IKK masih menunjukkan konsumen berada di zona optimistis, tetapi mulai menjadi sinyal melemahnya daya tahan konsumsi rumah tangga.
Baca Juga: Harga Bahan Baku Melonjak, Ekonom Wanti-Wanti Daya Beli Kelas Menengah Makin Terseok Menurut Josua, tekanan mulai dirasakan kelompok masyarakat berpendapatan menengah. Hal itu tercermin dari meningkatnya porsi konsumsi dan menurunnya tabungan pada kelompok dengan pengeluaran Rp 2,1 juta hingga Rp 5 juta per bulan. Ia menjelaskan, tekanan daya beli dipicu kenaikan biaya hidup, inflasi yang mencapai 3,34% secara tahunan pada Juni 2026, serta pelemahan nilai tukar rupiah yang mendorong kenaikan harga barang konsumsi. Tekanan tersebut juga mulai tercermin pada sektor industri. Indeks PMI Manufaktur Indonesia turun ke level 46,9 yang mengindikasikan permintaan melemah dan berpotensi menekan produksi serta penyerapan tenaga kerja.
Josua menilai tekanan terhadap tabungan rumah tangga akan mereda apabila harga pangan lebih terkendali, nilai tukar rupiah menguat, dan kondisi pasar tenaga kerja membaik.
Baca Juga: Purbaya Klaim Daya Beli Masyarakat Membaik Jelang Lebaran Sebaliknya, jika pelemahan rupiah dan perlambatan sektor manufaktur berlanjut, penurunan tabungan masyarakat berpotensi berlangsung lebih lama. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News