Keyakinan Konsumen Turun, Lampu Kuning bagi Pelemahan Daya Beli



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi nasional pada Juli 2026 mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Meski demikian, tingkat keyakinan masyarakat masih bertahan di level optimistis.

Hal ini tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juli 2026 yang berada pada level optimistis (indeks >100) sebesar 116,8, lebih rendah dari IKK bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 117,8.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menilai, penurunan keyakinan konsumen pada Juli 2026 menurut saya belum menunjukkan pelemahan konsumsi yang akut, tetapi merupakan sinyal peringatan bahwa ketahanan keuangan rumah tangga mulai menipis.


Adapun IKK pada Juli 2026 turun dari 117,8 menjadi 116,8. Penurunan juga terjadi pada persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini yang turun dari 109,2 menjadi 107,9 serta ekspektasi enam bulan ke depan yang turun dari 126,4 menjadi 125,7.

Meski demikian, seluruh indeks tersebut masih berada di atas level 100 yang menunjukkan konsumen masih berada dalam zona optimistis. Namun, menurut Josua arah penurunan perlu diperhatikan karena terjadi baik pada persepsi kondisi saat ini maupun ekspektasi ke depan.

Baca Juga: Survei BI: Konsumen Menengah Atas Hati-Hati, Mulai Perbanyak Cicilan Utang

“Tetapi arah penurunannya perlu diperhatikan karena terjadi pada kondisi saat ini sekaligus harapan ke depan. Bahkan persepsi terhadap penghasilan saat ini, ketersediaan pekerjaan, dan kemampuan membeli barang tahan lama semuanya menurun pada Juli,” tutur Josua kepada Kontan, Senin (10/8/2026).

Menurut Josua, terdapat koreksi pada data penggunaan pendapatan masyarakat. Porsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi justru turun dari 73% pada Juni menjadi 72,7% pada Juli 2026.

Di sisi lain, porsi pendapatan yang digunakan untuk membayar cicilan meningkat dari 10% menjadi 10,5%. Sementara itu, porsi pendapatan yang ditabung turun dari 17% menjadi 16,8%.

Artinya, peningkatan beban cicilan sebesar 0,5 poin persentase tersebut mengambil ruang dari konsumsi sekaligus tabungan rumah tangga.

"Yang lebih penting lagi, kenaikan porsi cicilan terjadi pada sebagian besar kelompok pengeluaran. Jadi persoalannya bukan sekadar masyarakat menjadi lebih hemat, melainkan semakin besarnya bagian pendapatan yang sudah terikat untuk membayar kewajiban masa lalu," jelasnya.

Menurut Josua, kondisi tersebut membuat ruang rumah tangga untuk melakukan belanja baru sekaligus membentuk tabungan menjadi semakin terbatas. Ia melihat terdapat sejumlah faktor yang kemungkinan menjelaskan kondisi tersebut. Pertama, terjadi normalisasi setelah tingginya belanja pada awal tahun.

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga tercatat melambat dari 5,52% secara tahunan pada kuartal I 2026 menjadi 5,06% pada kuartal II 2026. Perlambatan terutama terjadi pada konsumsi pakaian, transportasi, komunikasi, restoran, dan hotel.

Baca Juga: Survei BI: Optimisme Konsumen Turun Pada Juli 2026

Kedua, tekanan terhadap rumah tangga dinilai bukan terutama berasal dari inflasi umum. Pasalnya, inflasi Juli 2026 tercatat 2,88% secara tahunan dan terjadi penurunan harga secara bulanan.

Josua menilai tekanan justru lebih terlihat pada struktur keuangan rumah tangga, yakni meningkatnya cicilan ketika tabungan mengalami penurunan. Kondisi tersebut juga sejalan dengan kuatnya penyaluran kredit konsumsi pada kuartal II 2026, termasuk kredit pemilikan rumah, kendaraan, multiguna, dan kredit tanpa agunan.

Ketiga, ketidakpastian ekonomi global, tekanan nilai tukar, serta kekhawatiran terhadap prospek ekonomi membuat rumah tangga semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan belanja dalam jumlah besar.

Penurunan ekspektasi juga terlihat lebih jelas pada kelompok pengeluaran Rp 2,1 juta hingga Rp 4 juta, terutama terkait ekspektasi penghasilan dan kegiatan usaha. Karena itu, kelompok menengah bawah dinilai perlu menjadi perhatian utama.

Josua mengatakan, dampak penurunan keyakinan konsumen terhadap perekonomian perlu dicermati karena konsumsi rumah tangga masih menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pada kuartal II 2026, konsumsi rumah tangga memberikan sumbangan terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi, yakni sekitar 2,67 poin persentase dari pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,29%.

Baca Juga: Indeks Kepercayaan Konsumen Juli 2026 Kembali Turun, Konsumsi Berpotensi Melambat

Jika penurunan keyakinan konsumen berlanjut dalam beberapa bulan ke depan, rumah tangga biasanya akan terlebih dahulu menunda belanja yang mudah ditangguhkan, seperti kendaraan, elektronik, pakaian, rekreasi, dan perbaikan rumah.

Dampaknya kemudian dapat menjalar ke sektor perdagangan, industri pengolahan, transportasi, restoran, hingga penciptaan lapangan kerja.

Menurut Josua, tanda-tanda kehati-hatian masyarakat sebenarnya sudah terlihat dari kinerja penjualan eceran. Pada Mei 2026, penjualan eceran masih mengalami kontraksi 3,9% secara tahunan dan diperkirakan kembali turun 4,4% pada Juni 2026.

Ia menilai risiko yang lebih mendasar adalah kualitas pertumbuhan konsumsi. Jika konsumsi dipertahankan dengan semakin banyak cicilan sementara tabungan terus berkurang, konsumsi memang masih dapat terlihat kuat dalam jangka pendek, tetapi menjadi semakin rentan terhadap guncangan.

"Jika konsumsi dipertahankan dengan semakin banyak cicilan sementara tabungan terus berkurang, konsumsi mungkin masih terlihat kuat untuk beberapa waktu, tetapi menjadi semakin rapuh terhadap kehilangan pekerjaan, kenaikan bunga, atau lonjakan harga," kata Josua.

Dalam kondisi tersebut, guncangan kecil dapat mendorong rumah tangga memangkas belanja secara lebih tajam.

Meski begitu, Josua belum melihat kondisi Juli sebagai tanda menuju kontraksi ekonomi. Pasalnya, tingkat keyakinan dan ekspektasi konsumen masih berada di wilayah optimistis. Selain itu, aktivitas manufaktur pada Juli kembali membaik, sementara belanja pemerintah dan investasi masih menjadi penyangga pertumbuhan.

Baca Juga: Indeks Keyakinan Konsumen Kembali Turun Pada Juli 2026, Ini Penyebabnya

Dengan demikian, penurunan IKK saat ini lebih tepat dibaca sebagai lampu kuning bagi daya beli daripada lampu merah bagi perekonomian.

Josua menilai kebijakan pemerintah ke depan sebaiknya tidak semata-mata mendorong masyarakat untuk meningkatkan utang guna menjaga konsumsi.

Menurutnya, prioritas kebijakan perlu diarahkan pada penguatan pendapatan rumah tangga, terutama kelompok menengah bawah, melalui penciptaan lapangan kerja formal, dukungan bagi usaha kecil yang mampu menghasilkan pekerjaan, serta bantuan sosial dan subsidi yang lebih tepat sasaran bagi kelompok yang benar-benar mengalami tekanan.

Dari sisi perbankan, pertumbuhan kredit konsumsi juga perlu dijaga tetap sehat dengan memperhatikan kemampuan membayar debitur, bukan sekadar mengejar volume penyaluran kredit.

Josua mengingatkan, apabila dalam beberapa bulan ke depan porsi cicilan terus meningkat sementara tabungan dan keyakinan konsumen terus menurun, kondisi tersebut akan menjadi sinyal yang lebih serius.

Hal itu menunjukkan pelemahan daya beli mulai bergeser dari sekadar persoalan persepsi menjadi persoalan kemampuan belanja rumah tangga. Pada akhirnya, kondisi tersebut dapat menahan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester II 2026.

Baca Juga: Keyakinan Konsumen Turun, Ekonom Ingatkan Tekanan Daya Beli Mulai Terasa

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News