KONTAN.CO.ID - Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dilaporkan menginstruksikan agar cadangan uranium Iran yang diperkaya hingga mendekati tingkat senjata tidak dikirim ke luar negeri. Mengutip
Reuters, Kamis (21/5/2026), dua sumber senior Iran menyebut arahan tersebut memperkeras posisi Teheran terhadap salah satu tuntutan utama Amerika Serikat (AS) dalam pembicaraan damai terkait perang AS-Israel melawan Iran.
Baca Juga: Rekor Pendakian Everest: 274 Pendaki Capai Puncak dalam Sehari Keputusan itu juga dinilai dapat mempersulit Presiden AS Donald Trump dalam upaya mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Pejabat Israel sebelumnya mengatakan kepada
Reuters bahwa Trump telah menjamin stok uranium Iran yang diperkaya tinggi akan dipindahkan keluar dari Iran sebagai bagian dari kesepakatan damai. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan menegaskan perang belum dianggap selesai sampai uranium diperkaya dikeluarkan dari Iran, dukungan Teheran terhadap kelompok proksi dihentikan, dan kemampuan rudal balistik Iran dilenyapkan.
Baca Juga: Bank Global Ini Pangkas 7.000 Pekerja, AI Jadi Mesin Efisiensi Baru “Sikap Pemimpin Tertinggi dan konsensus internal pemerintahan adalah stok uranium diperkaya tidak boleh keluar dari negara,” ujar salah satu sumber Iran yang enggan disebutkan namanya. Menurut sumber tersebut, pejabat tinggi Iran khawatir pengiriman uranium ke luar negeri justru akan membuat Iran lebih rentan terhadap serangan baru dari AS dan Israel. Ketidakpercayaan mendalam terhadap Washington juga disebut berkembang di kalangan elite Iran. Mereka menilai jeda konflik saat ini bisa saja merupakan strategi AS untuk menciptakan rasa aman sebelum melancarkan serangan udara baru.
Baca Juga: IPO SpaceX Hampir US$2 Triliun, Taruhan Besar Visi Elon Musk Konflik antara Iran dan Israel pecah setelah serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Teluk yang menjadi basis militer AS dan bentrokan meluas hingga melibatkan kelompok Hezbollah di Lebanon. Meski gencatan senjata mulai berlaku sejak April, negosiasi damai masih berjalan alot. Situasi diperumit oleh blokade AS terhadap pelabuhan Iran serta kontrol Teheran atas Selat Hormuz yang menjadi jalur vital pasokan minyak dunia. Ketua negosiator damai Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, pada Rabu mengatakan berbagai langkah terbuka maupun tersembunyi dari “musuh” menunjukkan AS tengah mempersiapkan serangan baru.
Baca Juga: Ancaman Pelemahan Rupee, Ini Risiko Besar Meski RBI Beraksi Agresif! Di sisi lain, Trump menegaskan AS siap melanjutkan serangan terhadap Teheran apabila Iran menolak kesepakatan damai, meski Washington masih memberi waktu beberapa hari untuk menunggu respons Iran. Menurut sumber Iran, kedua pihak memang mulai memperkecil sejumlah perbedaan, tetapi masih terdapat jurang besar terkait program nuklir Iran, termasuk soal nasib stok uranium diperkaya dan tuntutan Iran agar hak pengayaan uranium tetap diakui. Pemerintah Iran berulang kali menegaskan prioritas utama mereka adalah memperoleh jaminan permanen berakhirnya perang serta kepastian bahwa AS dan Israel tidak akan kembali menyerang. Baru setelah jaminan tersebut diberikan, Iran bersedia membahas lebih rinci program nuklirnya. Iran selama ini membantah mengembangkan senjata nuklir. Namun Israel diyakini secara luas memiliki persenjataan nuklir meski tidak pernah secara resmi mengakui maupun membantahnya.
Baca Juga: Aliansi Pax Silica Meluas, AS-Filipina Percepat Kesepakatan Ekonomi Teknologi Sebelum perang pecah, Iran sempat memberi sinyal bersedia mengirim separuh stok uranium yang diperkaya hingga 60% ke luar negeri. Namun posisi itu berubah setelah Trump beberapa kali mengancam akan menyerang Iran. Meski demikian, sumber Iran menyebut masih ada kemungkinan kompromi. “Salah satu solusinya adalah mengencerkan stok uranium di bawah pengawasan International Atomic Energy Agency,” kata sumber tersebut.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memperkirakan, Iran memiliki sekitar 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60% saat fasilitas nuklir Iran diserang AS dan Israel pada Juni 2025.
Baca Juga: PMI Prancis Anjlok, Risiko Resesi Zona Euro Meningkat Sebagian besar stok tersebut diyakini tersimpan di kompleks terowongan fasilitas nuklir Isfahan dan sebagian lainnya berada di kompleks nuklir Natanz yang memiliki dua fasilitas pengayaan uranium. Iran menyatakan sebagian uranium diperkaya tinggi dibutuhkan untuk kepentingan medis dan reaktor riset di Teheran yang menggunakan uranium dengan tingkat pengayaan sekitar 20%.