KONTAN.CO.ID - DUBAI. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu menyalahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas rangkaian demonstrasi selama berminggu-minggu yang menurut kelompok hak asasi manusia telah menewaskan lebih dari 3.000 orang. “Kami menganggap presiden Amerika Serikat sebagai penjahat atas korban jiwa, kerusakan, dan fitnah yang ia timpakan kepada bangsa Iran,” ujar Khamenei, seperti dikutip media pemerintah Iran. Gelombang protes pecah pada 28 Desember akibat tekanan ekonomi dan kemudian meluas menjadi demonstrasi besar-besaran yang menyerukan diakhirinya pemerintahan ulama di Republik Islam Iran.
Trump berulang kali mengancam akan melakukan intervensi, termasuk mengancam “tindakan yang sangat kuat” jika Iran mengeksekusi para pengunjuk rasa.
Baca Juga: Ancaman Trump ke Iran: Apa Langkah Putin Cegah Perang Baru? Namun pada Jumat, melalui unggahan di media sosial, Trump justru mengucapkan terima kasih kepada para pemimpin Iran dan mengatakan mereka telah membatalkan eksekusi massal. Pemerintah Iran menyatakan tidak ada “rencana untuk menggantung orang”. Menanggapi pernyataan tersebut, Khamenei mengatakan: “Kami tidak akan menyeret negara ini ke dalam perang, tetapi kami juga tidak akan membiarkan penjahat domestik maupun internasional lolos tanpa hukuman,” lapor media pemerintah. Dalam wawancara dengan Politico pada Sabtu, Trump mengatakan “sudah saatnya mencari kepemimpinan baru di Iran” dan menyerukan diakhirinya kekuasaan Khamenei yang telah berlangsung selama 37 tahun. Dalam wawancara terpisah dengan Reuters pada Rabu, Trump menyebut tokoh oposisi Iran Reza Pahlavi “terlihat sangat baik”, namun meragukan apakah Pahlavi mampu menggalang dukungan di dalam negeri untuk akhirnya mengambil alih kekuasaan.
Kerusuhan Terburuk Iran dalam Beberapa Tahun
Sebagai otoritas tertinggi di Iran, Khamenei mengatakan “beberapa ribu orang tewas” dalam protes nasional yang disebut sebagai kerusuhan terburuk di Iran dalam beberapa tahun terakhir. Ia menuduh musuh lama Iran, yakni Amerika Serikat dan Israel, sebagai pihak yang mengorganisasi kekerasan tersebut. “Mereka yang terkait dengan Israel dan Amerika Serikat menyebabkan kerusakan besar dan membunuh beberapa ribu orang,” kata Khamenei. Ia menambahkan bahwa kelompok tersebut membakar fasilitas, merusak properti publik, dan memicu kekacauan. Menurutnya, mereka telah “melakukan kejahatan dan fitnah besar”. Lembaga berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), menyatakan telah memverifikasi 3.090 kematian, termasuk 2.885 pengunjuk rasa, serta lebih dari 22.000 penangkapan.
Baca Juga: Ujian Terberat Starlink, Iran Kerahkan Teknologi Pengacau Satelit Canggih Pekan lalu, Jaksa Agung Iran mengatakan para tahanan akan menghadapi hukuman berat. Mereka yang ditahan termasuk individu yang “membantu perusuh dan teroris yang menyerang aparat keamanan dan properti publik”, serta “tentara bayaran yang mengangkat senjata dan menebar ketakutan di kalangan warga”, ujarnya. “Semua pelaku adalah mohareb,” kata Mohammad Movahedi Azad seperti dikutip media pemerintah, seraya menambahkan bahwa penyelidikan akan dilakukan “tanpa kelonggaran, belas kasihan, atau toleransi”. Mohareb adalah istilah hukum Islam yang berarti memerangi Tuhan dan dapat dihukum mati berdasarkan hukum Iran. Reuters tidak dapat memverifikasi secara independen jumlah korban maupun rincian kerusuhan yang dilaporkan media pemerintah Iran dan kelompok hak asasi manusia. Menurut keterangan warga dan media pemerintah, penindakan keras tampaknya telah meredam protes secara luas. Akses informasi juga terhambat oleh pemadaman internet yang sempat dicabut sebagian selama beberapa jam pada Sabtu dini hari, sebelum kembali diberlakukan. Kelompok pemantau internet NetBlocks menyatakan pemadaman tersebut tampaknya diberlakukan kembali pada Sabtu malam. “Konektivitas internet terus stagnan di #Iran meskipun sempat terjadi peningkatan akses singkat hari ini,” tulis NetBlocks di platform X. “Saat penutupan memasuki hari ke-10, muncul kebingungan apakah rezim berniat memulihkan layanan dalam waktu dekat, atau sama sekali tidak.” Seorang warga Karaj, sebelah barat Teheran, yang dihubungi melalui WhatsApp mengatakan internet kembali aktif sekitar pukul 04.00 waktu setempat pada Sabtu (00.00 GMT). Karaj mengalami sejumlah kekerasan paling parah selama protes. Warga tersebut—yang meminta identitasnya dirahasiakan—menyebut Kamis sebagai puncak kerusuhan di wilayah itu.
Penangkapan Menyusul Operasi Intelijen
Media pemerintah melaporkan penangkapan ribuan “perusuh dan teroris” di seluruh negeri, termasuk individu yang dikaitkan dengan kelompok oposisi di luar negeri yang menyerukan penggulingan Republik Islam Iran.
Baca Juga: Protes di Iran Mereda Usai Tindakan Keras Aparat, Warga & Kelompok HAM Angkat Bicara Penangkapan tersebut mencakup beberapa orang yang disebut sebagai “pengendali utama”, termasuk seorang perempuan bernama Nazanin Baradaran yang ditahan setelah “operasi intelijen yang kompleks”. Laporan menyebut Baradaran beroperasi dengan nama samaran Raha Parham atas nama Reza Pahlavi—putra pengasingan dari Shah terakhir Iran—dan berperan penting dalam mengorganisasi kerusuhan. Reuters tidak dapat memverifikasi laporan tersebut maupun identitasnya.
Pahlavi, tokoh oposisi lama, memposisikan dirinya sebagai calon pemimpin jika rezim runtuh dan menyatakan akan berupaya memulihkan hubungan diplomatik antara Iran dan Israel jika memegang peran kepemimpinan di negaranya. Pejabat Israel telah menyatakan dukungan terhadap Pahlavi. Dalam pengungkapan publik yang jarang terjadi bulan ini, Menteri Warisan Israel Amichai Eliyahu mengatakan dalam wawancara dengan Radio Angkatan Darat Israel bahwa Israel memiliki agen “di lapangan” di Iran. Ia menyebut tujuan mereka untuk melemahkan kemampuan Iran, namun membantah keterlibatan langsung dalam upaya menggulingkan kepemimpinan negara tersebut.