KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investor tidak lagi harus memilih antara emas dan Bitcoin (BTC) sebagai sarana lindung nilai terhadap kekhawatiran fiskal. Investor memilih untuk membeli keduanya. Dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) yang melacak aset-aset tersebut mencatatkan rekor aliran masuk sebesar US$ 7 miliar dalam lima hari perdagangan terakhir, menurut data yang dihimpun Bloomberg. Hal ini menempatkan beberapa instrumen investasi emas dan Bitcoin terbesar tersebut sejajar dengan raksasa pasar saham di puncak peringkat arus dana ETF. Hampir US$ 3,4 miliar mengalir ke SPDR Gold Shares (kode saham GLD) milik State Street Investment Management, sementara iShares Bitcoin Trust ETF ( IBIT) milik BlackRock Inc. menarik dana sebesar US$ 1,5 miliar.
Keduanya berhasil masuk dalam daftar 10 besar ETF AS berdasarkan arus masuk dana mingguan. GLD hanya berada di bawah segelintir dana investasi, termasuk Vanguard S&P 500 ETF (VOO). Lonjakan minat secara bersamaan ini patut dicatat, mengingat sebelumnya daya tarik emas sebagai aset aman (safe haven) sempat menguat, sementara Bitcoin kesulitan menunjukkan pergerakan serupa. Kini, kedua instrumen yang mengandalkan narasi kelangkaan pasokan ini kembali bergerak searah, terdorong oleh kekhawatiran baru mengenai utang AS, nilai tukar dolar, dan upaya pengendalian imbal hasil obligasi jangka panjang.
Baca Juga: Bitcoin Menguat Tembus US$ 80.000, Regulasi AS Jadi Katalis Pemicu utamanya adalah rencana Menteri Keuangan Scott Bessent untuk setidaknya melipatgandakan pembelian kembali (buyback) obligasi pemerintah (US Treasury) jangka panjang. Pengumuman tersebut awalnya menyebabkan penurunan imbal hasil dan nilai dolar AS, sementara harga emas dan Bitcoin melonjak, sehingga memberikan dorongan baru bagi investor yang mencari aset dengan pasokan yang berada di luar kendali pemerintah. "Tampaknya era penurunan suku bunga yang telah berlangsung selama 40 tahun telah berakhir, sehingga pemerintah menghadapi peningkatan biaya pembayaran bunga utang di tengah rekor tertinggi tingkat utang negara," tulis Gautam Chhugani, analis senior aset digital global di Bernstein seperti dikutip Bloomberg, Kamis (27/8). Langkah-langkah tersebut menghidupkan kembali fenomena yang dikenal sebagai debasement trade atau perdagangan antisipasi penurunan nilai mata uang. Itu merupakan gagasan bahwa tekanan fiskal yang meningkat dan kondisi keuangan yang lebih longgar, memperkuat argumen bagi aset langka di luar sistem moneter pemerintah. Logam mulia seperti emas diuntungkan oleh status tradisionalnya sebagai aset pelindung nilai, sementara mata uang kripto, terutama Bitcoin, semakin diminati karena fungsinya sebagai sarana perlindungan dari dampak kebijakan pemerintah.
Baca Juga: Harga Emas Turun Menjadi US$4.637, Investor Menanti Data Inflasi AS “Hal ini sangat penting bagi Bitcoin dalam jangka panjang karena inilah narasi yang seharusnya diusung, sebuah aset yang tahan terhadap penurunan nilai mata uang,” ujar Eric Balchunas, analis ETF senior di Bloomberg Intelligence.
Bahkan miliarder Ray Dalio menyatakan bahwa investor sebaiknya mengurangi kepemilikan obligasi mereka dan mengalokasikan hingga 15% dana mereka ke dalam emas serta “sedikit” ke dalam Bitcoin sebagai langkah lindung nilai terhadap risiko krisis utang AS. Hardika Singh, ahli strategi ekonomi di Fundstrat, mengatakan, tren investasi yang didorong oleh kekhawatiran penurunan nilai mata uang (debasement trade) mulai kehilangan momentum. Ia juga menyebutkan bahwa saham mungkin menjadi instrumen lindung nilai yang lebih andal dibandingkan emas atau Bitcoin. "Meskipun defisit anggaran AS yang terus membengkak merupakan masalah. Tapi masih sangat mungkin bagi harga emas dan Bitcoin untuk reli, tapi saya tidak memperkirakan hal itu terjadi semata-mata karena alasan penurunan nilai mata uang," ujar Singh. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News