KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Jababeka Tbk (
KIJA) menegaskan prospek bisnis dan fundamental perusahaan tetap solid di tengah perhatian pasar terhadap pergerakan saham perseroan maupun perubahan status keanggotaan pada sejumlah indeks pasar modal. Pendiri Jababeka, SD Darmono, menyatakan bahwa keluarnya saham KIJA dari indeks IDX Sharia Growth (IDXSHAGROW) tidak mencerminkan penurunan fundamental perusahaan. Menurut Darmono, perubahan komposisi indeks merupakan bagian dari evaluasi berkala yang dilakukan berdasarkan metodologi tertentu dan penilaian relatif terhadap emiten lain pada periode peninjauan.
"Perubahan status keanggotaan dalam indeks lebih mencerminkan hasil evaluasi relatif terhadap emiten-emiten lain pada periode review tersebut," ungkap Darmono, Rabu (3/6/2026). Ia menegaskan bahwa saham KIJA masih tercatat sebagai konstituen Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dan tetap memenuhi kriteria saham syariah sesuai Daftar Efek Syariah yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Baca Juga: Garuda Perkuat Koordinasi Pemulangan Jemaah Haji dengan Otoritas Saudi Di tengah dinamika pasar tersebut, Jababeka tetap mempertahankan target marketing sales tahun 2026 sebesar Rp 3,75 triliun. Corporate Secretary KIJA, Mulyadi Suganda, mengungkapkan bahwa hingga saat ini realisasi marketing sales telah mencapai Rp 540 miliar atau sekitar 14% dari target tahunan. Meski demikian, Mulyadi menilai capaian kuartalan tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator kinerja karena keputusan investasi, khususnya dari investor asing, sangat dipengaruhi kondisi ekonomi global dan kebijakan perusahaan induk di negara asal investor. "Karena walaupun ini bicara secara persen baru 14%, tapi itu tidak menjadi satu patokan. Karena kita lihat historical juga seperti itu," ujarnya.
Kendal Jadi Penopang Utama Marketing Sales
Mayoritas target marketing sales Jababeka tahun ini diproyeksikan berasal dari kawasan industri Kendal dengan kontribusi sekitar Rp 2,5 triliun. Sementara sisanya akan berasal dari kawasan industri di Cikarang. Permintaan lahan industri Jababeka masih didorong oleh investor asing, terutama dari China dan sejumlah negara Asia lainnya. Adapun sektor industri yang mendominasi meliputi consumer goods, tekstil, pusat data (data center), baterai, hingga industri bahan bangunan. Menurut Mulyadi, daya tarik utama Kawasan Industri Kendal terletak pada ekosistem industri yang telah terbentuk. Kondisi tersebut memungkinkan kawasan tersebut menarik investasi lanjutan serta memperkuat rantai pasok dari industri yang telah beroperasi. Optimisme perusahaan juga ditopang oleh pipeline calon investor yang masih cukup kuat meskipun kondisi ekonomi global masih diwarnai berbagai ketidakpastian.
Fokus Perkuat Bisnis Infrastruktur dan Pendapatan Berulang
Selain mengandalkan penjualan lahan industri, Jababeka terus memperbesar kontribusi bisnis infrastruktur sebagai sumber pertumbuhan baru. Saat ini, dari total 139 tenant yang telah membeli lahan di Kawasan Industri Kendal, sekitar 50 tenant telah beroperasi. Dengan demikian, masih terdapat potensi peningkatan permintaan layanan utilitas dari tenant yang belum memulai kegiatan operasionalnya.
Ke depan, perusahaan juga semakin fokus melakukan transformasi menuju model bisnis yang menghasilkan pendapatan berulang (recurring income). "Hari ini Jababeka juga sedang melakukan transformasi menuju model bisnis yang semakin berkelanjutan melalui pendapatan berulang dari infrastruktur, utilitas, layanan kesehatan, pendidikan, dan pengembangan kota masa depan," kata Darmono. Transformasi tersebut dinilai penting untuk memperkuat stabilitas pendapatan perusahaan di tengah siklus bisnis properti dan industri yang cenderung fluktuatif.
Laba Bersih Naik Meski Pendapatan Sedikit Menurun
Dari sisi kinerja keuangan, pendapatan KIJA pada kuartal I-2026 tercatat sebesar Rp 1,19 triliun, sedikit menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 1,29 triliun. Manajemen menjelaskan bahwa perlambatan tersebut lebih disebabkan oleh faktor waktu pengakuan pendapatan (timing difference) terkait proses serah terima proyek, bukan akibat melemahnya fundamental bisnis perusahaan. Di sisi profitabilitas, Jababeka justru berhasil mencatatkan peningkatan laba. Laba neto yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 57,78 miliar pada kuartal I-2026, naik dibandingkan laba bersih sebesar Rp 43,24 miliar pada periode yang sama tahun 2025. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News