Kilang Saudi Aramco Terdampak Konflik, RI Siapkan Alternatif Impor LPG



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga pasokan LPG nasional menyusul meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, termasuk dinamika yang melibatkan fasilitas kilang milik Saudi Aramco.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan, kebutuhan impor LPG Indonesia saat ini mencapai 7,3 juta ton per tahun dan pada 2026 ditingkatkan menjadi 7,8 juta ton.

“LPG kita impor 7,3 juta ton per tahun dan tahun ini dinaikkan menjadi 7,8 juta ton. 70%-nya sekarang kita ambil dari Amerika, 30%-nya dari Middle East, dari Saudi Aramco,” ujar Bahlil dalam Konferensi Pers di Jakarta, Selasa (3/3/2026).


Baca Juga: Porsi Impor Minyak RI dari Timur Tengah 25%, Pemerintah Siapkan Skenario Ini 

Namun, dengan memanasnya situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah dan adanya gangguan pada fasilitas Saudi Aramco, pemerintah tidak ingin mengambil risiko terhadap keberlanjutan pasokan.

“Maka alternatifnya adalah kita switch lagi, supaya kita tidak mengambil risiko, sebagiannya kita switch lagi untuk kita belanja di negara yang tidak ada kaitannya dengan Selat Hormuz,” tegasnya.

Langkah ini ditempuh sebagai strategi mitigasi apabila konflik berlangsung lebih lama dari perkiraan. Bahlil mengakui, berdasarkan kajian internal dan komunikasi dengan berbagai negara, durasi ketegangan di Timur Tengah sulit diprediksi.

“Ada yang mengatakan 5 hari, ada yang mengatakan 2-4 minggu, tapi keyakinan kami setelah kami melakukan kajian, ini tidak akan bisa kita ramalkan kapan selesai. Sekali lagi saya katakan bahwa ketegangan ini tidak bisa kita meramalkan kapan selesai. Bisa cepat, bisa lambat,” katanya.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik, Bahlil Wanti-Wanti Subsidi Energi Bengkak 

Karena itu, pemerintah menyiapkan skenario terburuk dengan melakukan diversifikasi sumber impor, baik untuk LPG maupun minyak mentah (crude oil).

Untuk crude, Bahlil menyebut ketergantungan Indonesia terhadap pasokan dari Timur Tengah relatif terbatas, yakni sekitar 20%–25% dari total impor. Sisanya berasal dari Afrika seperti Angola, Amerika Serikat, hingga Brasil.

Dalam skenario antisipasi, sebagian impor crude dari Timur Tengah juga mulai dialihkan ke Amerika Serikat guna memastikan kepastian pasokan bagi kilang domestik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News