KONTAN.CO.ID - Pemerintah Australia memastikan tidak akan memberlakukan pembatasan bahan bakar meski terjadi kebakaran di salah satu kilang minyak terbesar di negara tersebut. Melansir
Reuters, Perdana Menteri Anthony Albanese menyatakan insiden di kilang milik Viva Energy di Geelong tidak akan mengubah kebijakan distribusi energi nasional. “Kejadian ini tidak akan menyebabkan perubahan apa pun,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (17/4/2026).
Baca Juga: Gencatan Senjata Israel-Lebanon Dilanggar, Situasi Masih Rawan Kilang berkapasitas 120.000 barel per hari itu saat ini masih beroperasi dengan kapasitas terbatas, yakni sekitar 60% untuk produksi bensin dan 80% untuk diesel serta bahan bakar avtur, setelah kebakaran merusak dua unit pengolahan bensin. Kilang Geelong sendiri memasok lebih dari separuh kebutuhan bahan bakar di negara bagian Victoria, wilayah dengan jumlah penduduk terbesar kedua di Australia serta sekitar 10% dari total permintaan nasional. Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasokan energi akibat konflik Timur Tengah, khususnya perang yang melibatkan Iran. Kondisi ini membuat Australia semakin agresif mengamankan pasokan energi dari mitra regional, mengingat sekitar 80% kebutuhan bahan bakarnya masih bergantung pada impor.
Baca Juga: Australia Amankan Impor Pupuk dari Indonesia, Redam Risiko Kekurangan Pasokan Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa sistem ketahanan energi tetap terkendali. Saat ini, Australia berada pada tahap kedua dari rencana empat tahap pengamanan bahan bakar, yang berfokus pada imbauan kepada masyarakat untuk menggunakan BBM secara bijak sembari pemerintah meningkatkan pasokan. Dalam upaya memperkuat pasokan, perusahaan energi global BP juga telah bergabung dalam skema yang didukung pemerintah untuk menjamin pembelian bahan bakar di pasar spot. CEO Viva Energy Scott Wyatt mengatakan, proses pemulihan kilang masih berlangsung dan perusahaan fokus mengembalikan operasional ke kapasitas penuh secara aman. Kebakaran yang terjadi pada Rabu malam tersebut berhasil dikendalikan setelah sekitar 12 jam.
Baca Juga: G7 Desak Perdamaian Timur Tengah, Waspadai Dampak Ekonomi Perang Di sisi lain, pemerintah Australia juga aktif menjalin kerja sama regional. Albanese bahkan mempercepat kepulangannya dari kunjungan ke Asia Tenggara, setelah bertemu Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, dan mengamankan tambahan pasokan bahan bakar dari perusahaan energi negara Petronas. Langkah ini merupakan bagian dari strategi Australia memperkuat ketahanan energi dan pangan di tengah ketidakpastian global.