KONTAN.CO.ID - Bagi Elon Musk, tahun 2025 menjadi tahun yang penuh transformatif dan gejolak. Sosok yang menyandang predikat orang terkaya di dunia ini menutup tahun dengan total kekayaan bersih mencapai US$733 miliar (menurut Forbes, Desember 2025) atau sekitar Rp 12.235 triliun (kurs Rp16.700/US$). Meski mencatatkan akumulasi kekayaan yang luar biasa, perjalanan Musk sepanjang tahun ini diwarnai dengan kontroversi politik di Gedung Putih serta kinerja fundamental bisnis yang fluktuatif. Keterlibatan Musk dalam administrasi pemerintahan Donald Trump menjadi sorotan utama pasar global. Musk sempat memimpin departemen nonformal yang dikenal sebagai Department of Government Efficiency (Doge).
Baca Juga: Oprah Kembali Pakai GLP-1 Setelah Berat Badan Naik 9kg Melansir laporan
The Guardian, dalam peran tersebut, Musk melakukan perombakan besar-besaran pada berbagai lembaga federal dengan tujuan memangkas birokrasi dan anggaran negara secara agresif. Namun, pengaruh politik ini juga memicu gelombang protes dari kelompok hak asasi manusia dan aktivis transparansi.
Dominasi SpaceX vs Tekanan Tesla
Di sektor bisnis, SpaceX mencatatkan kemajuan signifikan dalam dominasi ruang angkasa. Perusahaan ini berhasil memperluas operasi peluncuran roket di Florida, Texas, dan California setelah mendapatkan izin dari otoritas penerbangan federal (FAA). Melalui subsidiari Starlink, SpaceX kini mengoperasikan mayoritas satelit yang mengorbit bumi. Meskipun demikian, program ambisius Starship juga menghadapi tantangan teknis serius setelah beberapa unit roket meledak dan memicu tuntutan hukum terkait dampak lingkungan di wilayah Karibia. Kontras tajam dengan SpaceX, Tesla Inc. justru menghadapi tekanan berat di pasar otomotif global. Dilansir dari
The Guardian, penjualan Tesla mengalami penurunan tajam sepanjang tahun 2025. Penurunan performa ini terjadi di tengah sentimen negatif konsumen terhadap aktivitas politik Musk. Beberapa poin krusial yang membayangi operasional Tesla meliputi:
- Investasi Keamanan: Penyelidikan oleh National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) terkait fitur Autopilot.
- Sengketa Hukum: Putusan juri di Florida yang memenangkan korban kecelakaan teknologi Autopilot.
- Tekanan Regulasi: Ancaman pelarangan penjualan di California oleh Departemen Kendaraan Bermotor (DMV) terkait klaim kemampuan teknologi kemudi otomatis.
- Kendala Manufaktur: Kasus kebakaran unit Cybertruck di California yang berujung pada gugatan hukum.
Walaupun kinerja penjualan menurun, para pemegang saham tetap menyetujui paket remunerasi jumbo bagi Musk. Paket kompensasi ini diperkirakan dapat mendorong valuasi kekayaannya hingga melampaui angka US$ 1 triliun (sekitar Rp 16.700 triliun) di masa depan, menjadikannya triliuner pertama di dunia.
Baca Juga: 7 Aturan Hemat Warren Buffett untuk Keuangan Pribadi Integrasi xAI dan Dinamika Kecerdasan Buatan
Musk juga memperkuat posisinya di industri kecerdasan buatan melalui entitas xAI. Pada Maret 2025, xAI resmi mengakuisisi platform media sosial X dalam transaksi berbasis saham yang menilai perusahaan tersebut sebesar US$ 33 miliar atau setara Rp 551,1 triliun. Integrasi chatbot Grok ke dalam ekosistem X dan kontrak senilai US$ 200 juta (sekitar Rp 3,34 triliun) dari Departemen Pertahanan AS menunjukkan ambisi Musk untuk mendominasi infrastruktur AI nasional. Namun, ekspansi pusat data xAI di Memphis juga tidak lepas dari kritik masyarakat lokal. Perusahaan milik Musk ini dituduh mencemari lingkungan pemukiman melalui penggunaan generator gas metana tanpa izin awal yang lengkap. Menurut pengamat industri, ambisi kecepatan yang diterapkan Musk sering kali berbenturan dengan standar kepatuhan regulasi lingkungan dan etika bisnis.
Hubungan Pasang Surut dengan Gedung Putih
Relasi antara Musk dan Presiden Donald Trump menjadi faktor penentu stabilitas kebijakan ekonomi AS tahun 2025. Keduanya sempat mengalami keretakan hubungan pada bulan Juni 2025, yang dipicu oleh kebijakan penghapusan kredit pajak kendaraan listrik. Perselisihan tersebut sempat memanas di media sosial X, di mana Musk secara terbuka melontarkan kritik tajam kepada presiden.
Tonton: UPDATE APBN TERKINI, MENKEU PURBAYA YUDHI SADEWA AKUI MELESET Meski demikian, menjelang akhir tahun 2025, keduanya menunjukkan tanda-tanda rekonsiliasi. Trump kembali membuka peluang bagi Musk untuk bergabung dalam lingkaran strategis pemerintah pada masa mendatang. Musk sendiri menyatakan sedikit penyesalan atas waktu yang tersita untuk urusan birokrasi, dan mengakui bahwa fokus berlebihan pada pemerintahan berdampak pada perhatiannya terhadap operasional pabrik mobil miliknya. Bagi para investor dan pelaku pasar di Indonesia, pergerakan bisnis Musk memberikan gambaran mengenai volatilitas sektor teknologi dan energi terbarukan. Dominasi SpaceX dalam peluncuran satelit dan dinamika pasar mobil listrik Tesla tetap menjadi indikator penting dalam arah investasi global.
Kehati-hatian dalam mencermati risiko regulasi dan stabilitas kepemimpinan di perusahaan-perusahaan teknologi besar menjadi kunci dalam menakar prospek investasi di masa depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News