Kilau Bisnis Penyimpanan Emas di Singapura



KONTAN.CO.ID-SINGAPURA. Orang-orang kaya dari Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Timur Tengah mulai memindahkan emas fisik mereka ke Singapura. Kekhawatiran terhadap perang, utang pemerintah, dan ketidakpastian politik membuat mereka mencari tempat yang dianggap lebih aman untuk menyimpan kekayaannya.

Perpindahan emas ini membawa berkah bagi bisnis penyimpanan logam mulia di Singapura. Pengusaha penyimpanan emas, bank, hingga pedagang logam mulia ikut menikmati peluang dari meningkatnya minat investor asing.

Perusahaan perdagangan emas batangan J. Rotbart & Co. memperkirakan, jumlah emas milik pribadi yang disimpan di Singapura, lebih dari 800 ton pada 2025. Angka ini melonjak sekitar 16 kali lipat dibanding tahun 2014 silam.


Sebagian besar emas yang disimpan tersebut berasal dari Eropa. Perusahaan tersebut memperkirakan, jumlah tersebut akan meningkat di tahun ini dan tahun depan.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Anjlok 3,4% Sepekan, Terburuk dalam Empat Bulan

Manish Tibrewal, salah satu Pendiri Farro Capital, perusahaan pengelola kekayaan di Singapura mengatakan, tren pemindahan emas tersebut, juga diikuti keluarga kaya yang sebelumnya belum pernah membeli emas fisik.

"Mereka membeli melalui bank swasta atau langsung dari pedagang emas batangan, lalu menyimpannya di pulau itu," kata Tibrewal kepada Bloomberg.

Minat terhadap emas fisik juga terlihat dari tingginya permintaan emas batangan dan koin di sejumlah negara. World Gold Council (WGC) mencatat, China menjadi pasar terbesar untuk produk investasi emas pada 2025, dengan permintaan 431,7 ton, naik 28% year on year (YoY).

India menyusul dengan permintaan 280,4 ton, AS mencapai 58 ton dan Swiss 25 ton. Adapun permintaan emas batangan dan koin Singapura hanya 9,6 ton, namun angkanya melesat 48% per tahun.

Baca Juga: Aset Nasabah Kaya di Singapura Tumbuh 6% di 2026, Ini Pemicunya

Meningkatnya minat investor asing menjadi peluang bagi pengusaha penyimpanan emas. Salah satunya Gregor Gregersen, pengusaha asal Jerman yang kini mengelola fasilitas penyimpanan logam mulia di Singapura.

Dari yang awalnya menyimpan perak dalam jumlah kecil dan melakukan transaksi di stasiun kereta dekat rumahnya sambil menjajaki permintaan pasar lokal, kini bisnisnya berkembang menjadi fasilitas penyimpanan enam lantai seluas 16.722 meter persegi.

Pelanggan Gregersen tak hanya berasal dari Singapura, tetapi juga dari luar negeri. Di fasilitas penyimpanan miliknya, The Reserve, jumlah emas yang dititipkan pelanggan naik tiga kali lipat sejak awal 2020. Pada September 2026, jumlahnya mencapai 8,6 ton, yang 90% dimiliki asing.

Bank bidik peluang

Bisnis penyimpanan emas di Singapura juga ditopang fasilitas lain, yakni Le Freeport. Menurut data operator, kedua fasilitas penyimpanan swasta itu memiliki kapasitas gabungan setidaknya 2.200 ton emas. Le Freeport sendiri mampu menampung sedikitnya 1.700 ton dan dikenal dengan julukan Fort Knox Asia.

Baca Juga: Saham Pemilik Gucci Anjlok 12%, Pemulihan Bisnis Barang Mewah Masih Berat

Peluang dari meningkatnya minat investor terhadap emas juga dilirik perbankan. Sejumlah bank, termasuk Nomura Holdings Inc. dan Oversea-Chinese Banking Corp. (OCBC), menambah layanan perdagangan dan penyimpanan emas di Singapura.

Pemerintah Singapura juga membangun infrastruktur untuk memperkuat posisi negara tersebut sebagai pusat perdagangan emas batangan. Upaya ini dilakukan ketika investor dari berbagai negara semakin memperhatikan emas sebagai salah satu pilihan untuk menjaga kekayaan.