KONTAN.CO.ID - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengawasi langsung uji coba peluncuran rudal balistik pada Minggu (20/4//2026). Uji coba ini bertujuan mengevaluasi kinerja hulu ledak yang membawa bom cluster dan ranjau fragmentasi, menurut laporan media pemerintah KCNA dilansir
Reuters.
Baca Juga: Dolar AS Sentuh Level Tertinggi Sepekan, Ketegangan Timur Tengah Picu Aksi Safe Haven Uji coba tersebut menjadi peluncuran rudal balistik keempat dalam bulan ini dan ketujuh sepanjang tahun ini, di tengah upaya Pyongyang memperkuat kemampuan nuklir dan rudalnya meski mendapat sanksi dari Dewan Keamanan PBB. KCNA melaporkan, uji coba melibatkan lima peluncuran rudal balistik taktis jarak pendek tipe Hwasong-11 yang telah ditingkatkan. Rudal tersebut diarahkan ke target pulau sejauh sekitar 136 kilometer dan menghantam area seluas sekitar 12,5–13 hektare dengan kepadatan tinggi, menunjukkan kemampuan serangan penekanan terfokus. Militer Korea Selatan sebelumnya menyatakan rudal ditembakkan dari wilayah dekat kota Sinpo di pantai timur Korea Utara menuju laut.
Baca Juga: Bursa Australia Melemah Senin (20/4) Pagi, Ketegangan AS-Iran Tekan Saham Perbankan Kantor kepresidenan Korea Selatan juga mendesak Pyongyang menghentikan tindakan yang disebut sebagai “provokasi”. Kim dilaporkan menyatakan kepuasan atas hasil uji coba tersebut, menyebutnya sebagai bukti keberhasilan pengembangan teknologi hulu ledak selama bertahun-tahun. Ia juga meminta para ilmuwan pertahanan untuk terus meningkatkan kesiapan tempur militer. Foto yang dirilis KCNA menunjukkan, Kim didampingi putrinya, Ju Ae, saat menyaksikan peluncuran bersama pejabat militer. Kehadiran Ju Ae dalam sejumlah uji coba senjata memicu spekulasi bahwa ia tengah dipersiapkan sebagai penerus kepemimpinan. Sebelumnya, Korea Utara juga menguji hulu ledak bom cluster baru pada rudal balistik serta senjata elektromagnetik, yang dinilai analis sebagai upaya menunjukkan kesiapan menghadapi perang modern.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Turun Lebih dari 1% Senin (20/4) Pagi, Tertekan Penguatan Dolar AS Profesor Lim Eul-chul menilai uji coba ini menunjukkan ambisi Pyongyang untuk meningkatkan presisi, jangkauan, dan daya hancur serangan. Ia memperingatkan bahwa jika rudal ditempatkan lebih dekat ke garis depan, maka Seoul serta pangkalan militer utama Korea Selatan dan AS bisa berada dalam jangkauan. Sejumlah analis juga menilai konflik yang tengah berlangsung antara AS dan Israel melawan Iran turut memperkuat dorongan Korea Utara dalam mengembangkan kemampuan nuklir dan militernya. Kim sebelumnya menegaskan status negaranya sebagai kekuatan nuklir tidak dapat diubah, serta penguatan deterensi nuklir merupakan hal penting bagi keamanan nasional.