KONTAN.CO.ID - SEOUL. Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengunjungi museum industri pertahanan yang memamerkan rudal balistik antarbenua atau intercontinental ballistic missile (ICBM) yang diklaim mampu menjangkau Amerika Serikat (AS). Kunjungan tersebut berlangsung di tengah munculnya peluang pertemuan Kim dengan Presiden AS Donald Trump dalam agenda kunjungan Trump ke Asia. Media pemerintah Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA), melaporkan pada Selasa (13/10/2026) bahwa Kim menghadiri pembukaan Museum Revolusi Pertahanan yang baru diresmikan pada Minggu. Dalam kunjungan tersebut, Kim didampingi oleh istrinya, Ri Sol Ju, dan putrinya yang dikenal dengan nama Ju Ae.
Museum itu menampilkan berbagai persenjataan yang dikembangkan selama kepemimpinan Kim, mulai dari pesawat nirawak atau drone hingga rudal balistik antarbenua Hwasong-20. Foto-foto yang dirilis KCNA memperlihatkan rudal tersebut dipajang bersama peluncurnya.
Baca Juga: Produsen Mobil Eropa Hidupkan Model Legendaris untuk Lawan Mobil Listrik China Sekretaris Jenderal Korea Defence and Security Forum, Shin Jong-woo, mengatakan bahwa salah satu tampilan di depan peluncur Hwasong-20 tampaknya menunjukkan desain rudal dengan beberapa hulu ledak. Pameran tersebut juga menampilkan peta dunia yang menggambarkan jangkauan rudal hingga melampaui daratan utama AS, mencakup kawasan Timur Tengah, Australia, dan Amerika Selatan. "Pameran tersebut tampaknya dimaksudkan untuk menyoroti pencapaian program pengembangan ilmu pengetahuan pertahanan Kim," kata Shin. "Pameran itu memberikan kesan sebagai propaganda yang bertujuan memperoleh keunggulan strategis menjelang kemungkinan pertemuan tingkat tinggi Korea Utara dan AS." tambahnya.
Museum Pertahanan Jadi Simbol Pencapaian Militer Korea Utara
Para analis menilai pendirian museum tersebut mencerminkan upaya yang lebih luas dari Kim Jong Un untuk menjadikan pameran persenjataan Korea Utara sebagai simbol permanen pencapaian militer rezim tersebut. Lim Eul-chul, profesor di Institute for Far Eastern Studies, Kyungnam University, mengatakan bahwa perubahan pameran senjata yang sebelumnya bersifat sementara menjadi museum permanen merupakan bagian dari upaya Korea Utara membangun narasi mengenai pencapaian militernya. "Dengan mengubah pameran senjata yang sebelumnya bersifat sementara menjadi museum permanen, Kim melembagakan pencapaian militernya dan menggambarkan pengembangan senjata nuklir serta rudal Korea Utara sebagai warisan yang telah tuntas dan akan bertahan lama," ujar Lim. Pameran tersebut berlangsung ketika peluang komunikasi antara Washington dan Pyongyang kembali menjadi perhatian. Sehari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa dirinya mungkin akan bertemu dengan Kim Jong Un dalam rangkaian kunjungannya ke Asia. Trump dijadwalkan menghadiri pertemuan puncak Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) di China pada pertengahan November 2026. Namun, belum ada kepastian mengenai pelaksanaan pertemuan bilateral dengan pemimpin Korea Utara tersebut.
Baca Juga: Perang Rusia-Ukraina Ubah Strategi NATO, Teknologi Penangkal Drone Jadi Prioritas Korea Utara Uji Coba Rudal Balistik Taktis
Di tengah pameran persenjataan tersebut, Korea Utara juga mengumumkan uji coba rudal balistik taktis pada Senin (12/10/2026). Menurut KCNA, pengujian itu dilakukan untuk mengonfirmasi keberhasilan peningkatan teknis pada salah satu komponen utama rudal, tanpa menyebutkan komponen yang dimaksud.
KCNA menyatakan peningkatan tersebut menjadi langkah penting untuk memperbaiki kinerja seluruh sistem persenjataan ofensif Korea Utara. Meski demikian, media pemerintah itu tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai jenis komponen yang ditingkatkan maupun spesifikasi teknis rudal yang diuji. Secara terpisah, militer Korea Selatan pada Senin menyatakan bahwa Korea Utara telah meluncurkan sejumlah rudal balistik ke arah perairan di lepas pantai timurnya. Peluncuran tersebut menjadi uji coba rudal balistik keempat Korea Utara dalam kurun waktu satu bulan. Rangkaian pengujian itu berlangsung setelah Korea Selatan melakukan uji coba rudal hipersonik. Perkembangan tersebut menambah perhatian terhadap aktivitas militer di Semenanjung Korea, terutama ketika kemungkinan pertemuan antara Kim Jong Un dan Donald Trump kembali mencuat menjelang agenda diplomatik di kawasan Asia.