Kim Ju Ae Kini Dianggap Pemimpin De Facto Nomor Dua Korut, Benarkah?



KONTAN.CO.ID - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un disebut mulai mengambil langkah-langkah untuk mengukuhkan posisi putrinya sebagai calon penerus kekuasaan. Menurut para anggota parlemen Korea Selatan pada Kamis (12/2/2026), badan intelijen Korea Selatan menilai sang putri juga mulai terlibat dalam masukan kebijakan.

Melansir Reuters, Badan Intelijen Nasional Korea Selatan (NIS) akan memantau secara ketat apakah putri Kim, yang diyakini bernama Kim Ju Ae, akan menghadiri pertemuan Partai Buruh Korea (Workers’ Party) yang akan datang. NIS juga akan memperhatikan bagaimana ia ditampilkan, termasuk apakah ia akan diberikan jabatan resmi.

“Dulu NIS menyebut Kim Ju Ae masih dalam tahap ‘belajar sebagai penerus’. Namun hari ini istilah yang digunakan adalah bahwa ia sudah ‘dalam tahap ditunjuk secara internal sebagai penerus’,” kata anggota parlemen Lee Seong-kweun kepada wartawan usai pengarahan tertutup dari NIS.


Kim Ju Ae, yang diperkirakan masih berusia awal remaja, semakin sering tampil menonjol di media pemerintah Korea Utara. Ia kerap mendampingi ayahnya dalam kunjungan lapangan, termasuk inspeksi proyek persenjataan. 

Para analis menilai hal ini sebagai sinyal bahwa ia tengah dipersiapkan sebagai pemimpin generasi keempat Korea Utara.

Baca Juga: Singapura Perkirakan Surplus Anggaran Tahun 2026 Sebesar 1% dari PDB

Menurut Lee dan anggota parlemen lainnya, Park Sun-won, NIS menilai peran Kim Ju Ae dalam berbagai acara publik menunjukkan bahwa ia mulai memberikan masukan kebijakan. Ia juga disebut diperlakukan sebagai pemimpin nomor dua secara de facto.

Korea Utara telah mengumumkan bahwa Partai Buruh akan menggelar pertemuan pembukaan Kongres ke-9 pada akhir Februari. Para analis memperkirakan forum ini akan mengungkapkan target kebijakan utama untuk beberapa tahun ke depan, mencakup ekonomi, hubungan luar negeri, dan pertahanan.

Dalam pengarahan yang sama, NIS juga menyebut Kim Jong Un tengah mengarahkan pengembangan sebuah kapal selam besar yang kemungkinan mampu membawa hingga 10 rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam (SLBM). Dengan bobot sekitar 8.700 ton, kapal selam tersebut diduga dirancang menggunakan tenaga reaktor nuklir.

Tonton: Proyek MRT East West Line Jakarta–Bekasi Siap Digarap Mulai 2026

Namun, para anggota parlemen mengatakan masih belum jelas apakah kapal selam itu benar-benar akan bertenaga nuklir atau dapat beroperasi secara penuh sesuai desain, berdasarkan analisis badan intelijen Korea Selatan.

Selanjutnya: Puluhan Ribu Mobil Merek Asing Masuk Rusia, Dikirim Lewat Negara Mana?

TAG: