KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dua anggota holding BUMN Farmasi, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dan PT Indofarma Tbk (INAF) sudah mampu produksi dan memasarkan produk Covid-19 untuk membantu pemerintah dalam mempercepat penanggulangan pandemi Corona di Indonesia. Kimia Farma memproduksi obat Favipiravir. Adapun KAEF bersama dengan anak usahanya, PT Phapros Tbk (PEHA) juga telah berhasil memproduksi beberapa obat penanganan Covid-19 antara lain Chloroquine, Hydroxychloroquine, Azithromycin, Favipiravir, Dexamethasone dan Methylprednisolon. Direktur Utama Kimia Farma, Verdi Budidarmo mengatakan untuk jenis obat Favipiravir yang dapat dipergunakan untuk terapi Covid–19, sudah dapat diproduksi sendiri oleh Kimia Farma dan merupakan produk pertama di Indonesia yang dikembangkan sendiri oleh Badan Usaha Milik Negera (BUMN).
"Favipiravir hasil produksi dari Kimia Farma telah mendapatkan Nomor Ijin Edar (NIE) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta akan didistribusikan ke seluruh layanan kesehatan sesuai dengan regulasi Pemerintah," jelasnya dalam keterangan resmi, Senin (5/10). Anggota holding BUMN farmasi lainnya, Indofarma sudah memproduksi Oseltamivir 75gr Caps dan sudah memiliki sertifikat Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) senilai 40.06% ini. Oseltamivir telah diproduksi sendiri oleh INAF dengan kapasitas produksi sebesar 4,9 juta kapsul per-bulan. Baca Juga: Serentak disiplin jalankan 3M: Kunci menekan penyebaran dan penularan virus corona Selain itu, dalam waktu dekat INAF akan memasarkan Remdesivir dengan nama dagang Desrem™ Remdesivir Inj 100 mg, yang merupakan produk antiviral hasil produksi Mylan Laboratories Ltd atas lisensi dari Gilead Sciences Inc, Foster City dan United States of America.