Kimia Farma (KAEF) Genjot Produk Obat Kronis & Suplemen untuk Dukung Pertumbuhan 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Kimia Farma Tbk (KAEF) menyiapkan sejumlah strategi untuk memperkuat pertumbuhan bisnis pada 2026. Beberapa strategi yang dijalankan meliputi  dari peluncuran produk baru, pengembangan bahan baku obat dalam negeri, hingga penguatan layanan kesehatan terintegrasi.

Plt. Direktur Utama Kimia Farma, Hadi Kardoko, mengatakan pengembangan dan peluncuran produk baru menjadi bagian dari strategi penguatan portofolio bisnis sekaligus mendukung transformasi perusahaan. Fokus pengembangan produk diarahkan pada dua area utama, yakni produk untuk terapi penyakit kronis dan produk non-farma.

Untuk segmen farmasi, Kimia Farma membidik kebutuhan pasien dengan penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit kardiovaskular yang terus meningkat seiring perubahan demografi dan bertambahnya populasi usia lanjut.


Baca Juga: Kimia Farma (KAEF) Kejar Kinerja Naik High Single Digit di 2026, Ini Strateginya

"Hal ini sejalan dengan tren peningkatan kebutuhan terapi jangka panjang, khususnya pada kelompok usia dewasa dan lansia. Produk yang menjadi fokus pengembangan Perseroan antara lain gliclazide," ujar Hadi kepada Kontan, Rabu (1/7/2026).

KAEF juga memperkuat pengembangan produk non-farma, khususnya nutrisi dan suplemen kesehatan yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan menjanjikan. Hal ini seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pencegahan penyakit, pemeriksaan kesehatan berkala, serta kebutuhan menjaga kualitas hidup, terutama pada kelompok lansia dan pasien dengan risiko penyakit kronis.

Tak hanya mengandalkan penjualan produk, Kimia Farma juga melihat peluang integrasi dengan layanan kesehatan melalui jaringan layanan diagnostik yang dimiliki. Dengan pendekatan tersebut, Perseroan tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga mendukung kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan yang lebih preventif dan berkelanjutan. 

Di sisi lain, manajemen mengakui industri farmasi nasional masih menghadapi sejumlah tantangan struktural, mulai dari ketergantungan terhadap bahan baku impor, volatilitas nilai tukar, tekanan biaya produksi dan distribusi, hingga tuntutan pemenuhan standar mutu dan regulasi yang semakin tinggi.

Selain itu, terdapat pula tantangan berupa tekanan harga atau price erosion pada obat segmen pemerintah, di mana Kimia Farma merupakan salah satu pemasok utama untuk kebutuhan pasar pemerintah melalui skema BPJS Kesehatan.

"Kondisi tersebut juga membuka peluang besar bagi industri farmasi nasional untuk memperkuat kemandirian, khususnya melalui pengembangan bahan baku obat dalam negeri, peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), inovasi produk, serta optimalisasi kapasitas produksi nasional," ujarnya.

Bagi Kimia Farma, momentum tersebut menjadi bagian penting dari agenda transformasi perusahaan yang saat ini dijalankan secara menyeluruh. Perusahaan terus mendorong penguatan portofolio produk, efisiensi operasional, digitalisasi proses bisnis, pengembangan bahan baku obat dalam negeri, hingga penguatan layanan kesehatan yang lebih terintegrasi.

Baca Juga: Ini Daftar Harga Mineral Logam Acuan (HMA) pada Periode Pertama Juli 2026

Hadi menilai, keberhasilan pengembangan industri farmasi nasional juga memerlukan dukungan regulasi yang selaras, implementatif, dan mampu menciptakan kepastian bagi pelaku usaha.

Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, perguruan tinggi, lembaga riset, dan fasilitas pelayanan kesehatan dinilai menjadi faktor penting dalam mempercepat inovasi, meningkatkan kualitas SDM, serta memperkuat kapasitas industri farmasi nasional.

"Melalui sinergi tersebut, diharapkan dapat tercipta ekosistem industri farmasi yang semakin tangguh, inovatif, berdaya saing, dan mampu mendukung ketahanan kesehatan nasional secara berkelanjutan," tutup Hadi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News