Kimia Farma (KAEF) Perkuat Produk Stem Cell, Genjot Bisnis Regenerative Medicine



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) memperkuat penetrasi pasar produk sel punca (stem cell) dan sekretom untuk mempercepat pengembangan bisnis kedokteran regeneratif (regenerative medicine).

Salah satu strategi yang ditempuh perusahaan ialah memperkenalkan StemXera, merek produk sel punca dan sekretom hasil pengembangan Kimia Farma bersama Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) sejak 2013. Adapun StemXera merupakan portofolio produk perusahaan yang berbasis riset dan teknologi tinggi.

Resmi diluncurkan pada April 2026, StemXera dikembangkan sebagai solusi terapi regeneratif alternatif, khususnya untuk penanganan kondisi degeneratif dan kebutuhan terapi lanjutan di bidang medis.


Baca Juga: Hyundai Bawa IONIQ 9 dan PALISADE Hybrid ke GIIAS Surabaya 2026

Produk dari fasilitas laboratorium stem cell RSCM tersebut juga disebut telah memperoleh sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Direktur Komersial Kimia Farma, Hanadi Setiarto, menjelaskan bahwa saat ini tantangan utama komersialisasi regenerative medicine adalah memastikan pemahaman publik sejalan dengan masifnya perkembangan inovasi medis.

Menurutnya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang regenerative medicine masih perlu diimbangi dengan edukasi yang memadai kepada masyarakat.

Untuk itu, guna memperluas pemanfaatan StemXera, Kimia Farma juga berupaya memperluas jumlah fasilitas kesehatan yang dapat mendukung layanan tersebut.

"Fokus jangka pendek kami tidak sebatas memperkenalkan StemXera ke publik, melainkan memperluas jaringan fasilitas kesehatan yang mampu menyediakan layanan terapi ini dengan standar keamanan tinggi," kata Hanadi dalam keterangannya, Sabtu (29/8/2026).

Adapun dalam jangka menengah-panjang, ia bilang, KAEF mendorong multicenter study agar pemanfaatan klinis StemXera ke depan semakin luas, proporsional, dan ditopang bukti medis yang solid.

Hanadi menjelaskan, kedokteran regeneratif merupakan pendekatan medis yang memanfaatkan kemampuan sel dan komponen biologis tubuh untuk meregenerasi jaringan yang rusak.

Salah satu teknologi yang berkembang dalam bidang ini adalah pemanfaatan sel punca dan turunannya, termasuk sekretom.

Menurut Hanadi, dalam pengembangan produk bioteknologi seperti StemXera, tantangannya terdapat pada upaya membangun pemahaman dan kepercayaan terhadap teknologi tersebut. 

“Bagi Kimia Farma, inovasi harus berjalan beriringan dengan edukasi dan perluasan akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas, aman, serta bertanggung jawab”, ujar Hanadi.

Dus, Kimia Farma memandang penting adanya kolaborasi antara institusi pelayanan kesehatan, akademisi, peneliti, regulator, tenaga medis, dan industri untuk memastikan inovasi ilmiah dapat menjadi manfaat klinis secara tepat.

Dengan kolaborasi bersama RSCM dan berbagai institusi kesehatan lainnya, menurut Hanadi, Kimia Farma ingin berkontribusi membangun ekosistem regenerative medicine Indonesia yang mampu menghubungkan riset, teknologi, kemampuan produksi, tenaga medis, dan pelayanan. 

“Kami percaya kolaborasi menjadi kunci agar inovasi kesehatan dapat berkembang secara berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat,” tandas Hanadi.

Baca Juga: Industri Mamin Tumbuh 6,51%, GAPMMI Soroti Pentingnya Inovasi dan Bahan Baku

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News